
V neck shirt panjang hitam polos yang sangat membentuk tubuh mungilnya disertai rok panjang berwarna nude yang didisainnya sendiri membuat laki laki yang telah menunggunya terdiam tanpa kata.
Rok panjang yang sebenarnya dirangkap dengan celana pula memiliki belahan yang berada di bagian depan lebih ke arah kanan yang tertarik sampai batas paha dengan tali panjang yang dijadikan sebagai hiasan pelengkap semakin menunjukan sisi kasual sekaligus feminim bagi pemakainya.
Tak jarang Velicia menggunakan karya karya imajinasinya sendiri yang tetuang dalam coretan kertas atau langsung dalam sebuah balutan bahan yang dia garap sendiri. Termasuk rok rangkap celana yang saat ini dia kenakan. Meski terlihat sedikit terbuka namun di dalam dirinya masih sangat tertutupi oleh celana yang menggabung menjadi satu dengan rok yang menjadi pilihannya untuk melakukan lunch bersama Davin.
"Kamu tak secantik dia, namun kamu lebih baik dari pada dia" kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Davin membuat Velicia merasa bingung dengan yang dimaksud akan dia.
Velicia mulai melalang buana dengan pemikirannya. Berfikir tentang siapa dia yang dimaksud oleh ayah dari anak yang dikandungnya.
Apa dia yang Davin maksud adalah mantan kekasihnya?
Itu bisa saja terjadi karna seorang pria biasanya menggambarkan kecantikan sebuah fisik manusia hanya kepada ibu nya sendiri dan seorang wanita yang singgah di hatinya.
Namun jika memang yang dimaksud dia adalah orang yang ada di dalam hati pria yang kini tengah bersamanya, mengapa Davin malah memilih dirinya?
Mengapa Davin memaksa Velicia mengandung anaknya dan harus menikah dengannya pula?
Apa aku hanya sebuah pelarian?
Sebuah pemikiran sempit pun timbul dan bergelayutan berusaha mengintimidasi perasaan Velicia yang mulai kacau.
Aku kira dia memperkosaku, memaksa menikahiku, menghancurkan hubunganku karna dia mencintaiku. Tapi apa aku telah salah mengira?
Velicia yang terus berfikir dan berdiam diri membuat Davin tersadar bahwa wanita itu sedang memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan olehnya.
Davin: "Itu hanya masa lalu" ucapnya mengalihkan perhatian Velicia supaya dapat memperhatikannya.
Davin: "Kamu bukan pelarian, jika kamu berfikir seperti itu" terangnya merasa tahu akan apa yang ada dalam pikiran wanitanya.
Velicia: "Jika bukan pelarian lalu apa?" tak bermaksud menentang atau melawan, Velicia berbicara dengan nada rendah dan raut wajah biasa hanya ingin tahu akan kebenaran yang telah menghancurkan masa depannya yang indah bersama orang lain.
Velicia berfikir mungkin bisa saja karna dia yang Davin sebut adalah penyebab dari kondisinya yang sekarang. Kondisi yang tak pernah diharapkan oleh Velicia.
Davin: "Jika aku bilang bukan, berarti bukan. Tidak perlu dipertanyakan lagi"
🍂🍂🍂
Tidak akan mudah bagi wanita yang tengah duduk diam dalam kondisinya yang masih hamil muda untuk tenang setelah ucapan singkat Davin yang banyak mengandung makna.
Pikirannya terbang menjelajah segala kemungkinan. Berharap mendapatkan jawaban pasti dari apa yang mengganjal di pikirannya.
Velicia: "Vin?" panggilnya pada pria yang juga sedang duduk bersebelahan dengannya secara tenang menunggu hidangan yang telah dipesankan.
Bebek goreng beserta pizza seafood menjadi menu pilihan Davin untuk santap siang bagi wanitanya yang tidak mau makan.
Davin: "Hmm?" sahutnya langsung berpaling melihat ke arah Velicia.
Dan karna untuk pertama kalinya Davin menghiraukan panggilannya secara langsung membuat bibir wanita itu tiba tiba kelu untuk hanya sekedar mengucap sekata dua kata.
Dirinya membatu akan raut wajah Davin yang sebenarnya terbilang biasa tanpa ekspresi namun tidak pula terlihat marah, benar benar raut wajah polos yang untuk pertama kalinya Velicia lihat.
Wajah yang tidak terlihat seperti seorang pria bejat yang memperkosanya berkali kali hingga membuatnya mengandung seperti saat ini.
Davin: "Kenapa?" tanyanya karna Velicia tak kunjung bicara dan hanya diam memperhatikan pria itu sedari tadi.
Sedangkan Velicia yang merasa gelagapan langsung membenarkan cara duduknya dan beralih melihat ke arah lain. Dirinya hanya menggeleng cepat untuk mengalihkan Davin dari perasaan yang tiba tiba timbul di dadanya.
Mengapa aku bisa mengiranya tampan disaat saat seperti ini?
Davin: "Kamu mual?" tanyanya lagi yang semakin membuat Velicia menggeleng lebih cepat.
Velicia: "Tidak" sahutnya singkat tidak mau melihat ke arah Davin.
Alih alih takut dirinya semakin hanyut akan perasaan yang baru saja timbul dan membuatnya buta akan segala perbuatan Davin yang lalu.
Davin: "Jika ada yang dirasa beritahu aku"
Velicia: "Iya" sahutnya singkat lagi.
Tidak selang lama dari itu dua orang waiters datang membawa apa yang Davin pesankan.
Bebek goreng yang bersebelahan dengan nasi putih yang dikemas dalam balutan daun pisang, sambal cabai hijau yang tersusun dalam mangkuk kecil ikut meramaikan suasana, ada pula daun kemangi dan juga timun yang tak mau kalah ambil andil di dalamnya.
Selain itu masih terdapat pizza dengan topping udang dan juga cumi yang terbalut dalam keju mozzarella yang lumer di mulut saat digigit.
Velicia melahapnya sesuai perintah Davin. Seolah janin dalam kandungannya juga takut akan ayahnya, Velicia pun tak merasa terlalu sulit untuk memasukkannya ke dalam mulutnya. Tidak ada mual sedikitpun saat Davin dengan telaten menyuapinya, memaksa Velicia untuk terus mengisi penuh mulutnya dengan makanan yang disendokkan oleh Davin atau potongan potongan kecil pizza yang telah Davin potong sendiri.
Aku bisa kapan saja menyukai pria di depanku ini, jika dia terus bersikap seperti ini.
Davin seolah melepas segalanya bila pria itu berhadapan dengan Velicia.
Mengutamakan wanita dan juga calon anaknya, bahkan sering Davin mengabaikan beberapa panggilan yang masuk ke dalam ponselnya hanya karna dirinya tengah fokus menyuapi Velicia.
Jika kau tidak memperkosaku dan bertindak semaumu, mungkin saat ini aku telah jatuh cinta padamu.
"Siapa dia yang kau maksud tadi itu?"
Meski terisi penuh dengan roti yang terpanggang berlapis keju lumer namun tidak menjadi penghalang lagi bagi wanita itu untuk ingin mengetahui sesuatu yang sedari tadi mengganjal di pikirannya.
Davin yang mendengarnya pun langsung terdiam, tangan kirinya yang sedang memegang garpu dan tangan kanannya yang memegang pisau untuk mengiris beberapa potong pizza terhenti seketika.
Davin: "Hanya masa lalu?" sahutnya ringan.
Velicia: "Apa ada hubungannya denganku?"
Davin langsung melihat ke arah Velicia, menatapnya tajam kemudian menyuapkan sepotong pizza yang tertancap di garpu tangan kirinya.
Davin: "Apa ini yang ingin kau pertanyakan sedari tadi?"
Velicia: "Iya" jawabnya tanpa ragu lagi.
Davin: "Evan sekarang adalah masa lalu mu begitu pula dengan dia. Lupakan tentang Evan dan jangan pernah cari tahu tentang dia, atau kamu akan merasakan rasa sakit yang teramat jika kamu mengetahuinya"
Velicia: "Semakin kau melarangku, maka semakin ingin tahu aku tentang dia"
Davin: "Dan semakin kau ingin tahu, maka semakin tersiksalah kau nanti. Lupakan dan jangan pernah bahas lagi"
Davin menyodorkan segelas air putih untuk diminumnya.
Memberinya tissue untuk mengelap beberapa sisa sisa makanan yang tertempel di sudut bibirnya.
Davin: "Belajarlah mencintai maka kau tidak akan tersiksa"
Velicia: "Memaksakan diri untuk mencintai pria yang tidak aku cintai itu menyiksa. Apa kau tahu akan perasaan itu?"
Davin: "Aku mungkin tidak tahu. Tapi kamu juga tidak akan tahu tersiksanya berpura pura mencintai orang yang tidak dicintai. Karna jujur sampai sekarang aku belum mencintaimu"