
Wanita hamil itu benar benar tidak tahu menahu bahwa dirinya akan diusung oleh suaminya kembali pada kota kelahirannya sendiri, namun meski satu kota tapi sayangnya tidak tepat pada kota kelahiran Velicia. Akan tetapi ini lebih baik dari pada harus tinggal di kota kelahiran suaminya yang dipenuhi akan seluruh anggota keluarga yang sama sekali tidak ia kenali wataknya.
Dia hanya tahu bahwa mommy Melliza yaitu ibu mertuanya sangat menyayangi dirinya sama hal nya seperti pada Celine kakak iparnya. Ada pula ayah mertua yang jarang berbicara padanya dan hanya banyak meluangkan waktu bersama ibu mertuanya di dalam kamar atau taman depan rumah mereka.
Sedangkan ke empat saudara kandung suaminya memiliki sifat yang berbeda beda begitu pula dengan suaminya sendiri.
Celine si sulung yang ramah tamah dan banyak senyum terutama sering membantunya, Viana yang pendiam dan tidak banyak bersuara terlebih sangat jarang di rumah, Satya yang selalu belajar di dalam kamarnya dan Kanya si bungsu yang sangat berisik disetiap situasi dan kondisi.
Meski begitu, sedikit demi sedikit Velicia mulai paham akan sifat semua saudara Davin. Terutama sifat dari suaminya sendiri yang mulai posessife terhadap dirinya setelah mereka resmi pindah rumah.
Rumah tiga lantai yang hampir sama persis besarnya dengan rumah orang tua Davin di Surabaya hanya saja di rumahnya kali ini tidak ada ruang praktek seperti kakaknya Celine atau daddy nya David.
Seperti rumah biasa pada umumnya dengan tiga pekerja rumah tangga dan dua pekerja pria untuk mengurus kolam ikan yang berada di dalam rumah dan kebun kecil yang menghiasi pelataran rumah besar mereka.
Perumahan yang terletak tak jauh dari pantai, tidak dekat dengan kota besar namun terbilang masuk dalam jajaran perumahan termahal di Jakarta Utara telah mampu membuat Velicia merasa nyaman untuk pertama kali menampakkan kakinya di rumah yang telah resmi beratas namakan suaminya.
Perumahan yang juga terletak diantara kerumunan hiburan yang menjadi impian bagi banyak orang dan menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu berlibur diakhir pekannya telah membuat Velicia tidak ingin beranjak pergi saat suaminya bertanya akan pendapatnya mengenai rumah yang Davin beli belum lama ini.
Perumahan yang juga berisi akan rumah rumah megah yang berbaris rapih dengan pohon pinus disetiap jalan menetapkan keputusan akhir meski ini baru awal pilihan yang suaminya tawarkan. Bahkan beberapa pejabat negara ikut menempati beberapa titik rumah yang tak kalah jauh lebih besar dari rumah yang kini ia tempati.
Perumahan Ancol Timur
"Vei?" suara yang begitu khas di dalam telinga Velicia langsung menarik perhatiannya.
Karna merasa dipanggil wanita itu mendekat dengan menunjukan kecantikannya yang tidak disengaja namun membuat Davin terpana seketika itu juga.
Rambutnya yang mulai memanjang diikat satu ke atas hingga menunjukkan perpotongan lehernya, wajah polos tanpa make up hanya menyisakan sebuah pelembab bibir yang membuat bibir tipisnya sedikit lebih mengkilap, dan keningnya yang memiliki beberapa titik kecil keringat membuat Davin menajamkan matanya untuk lebih menelisik wajah istrinya.
Davin: "Kau letih? Beristirahatlah" katanya menarik lengan istrinya supaya lebih mendekat saat berada tepat di depannya.
Velicia: "Tidak" sahutnya sambil menggeleng pelan.
Akan tetapi Velicia yang tadinya bersikap seperti biasa menjadi salah tingkah saat tiba tiba suaminya mengelap pelipis sebelah kirinya menggunakan punggung tangan pria itu sendiri.
Begitu telaten dan mendudukan Velicia disebuah kursi lipat.
Davin: "Kau sudah minum air mu?"
Satu botol berukuran dua liter telah menjadi peraturan baru bagi Davin yang harus ditaati oleh istrinya, Velicia yang tidak begitu suka minum air putih memaksa Davin menyiapkan satu botol berukuran besar khusus hanya untuk istrinya. Dan Davin berkewajiban selalu mengingatkan disetiap waktunya karna pria itu telah memaksa Velicia paling tidak dalam satu hari harus menghabiskan satu botol berisi dua liter air.
Velicia tidak menjawab dan hanya memalingkan pandangannya ke arah lain yang langsung bisa dimengerti oleh Davin bahwa istrinya belum minum air sedari tadi.
Pria itu menyodorkan botolnya yang sedari tadi berada di sampingnya.
Velicia: "Tapi ini punya kamu" selanya saat Davin telah membuka penutup botolnya untuk Velicia.
Davin: "Apa bedanya botol minum ku dengan milikmu? Lagi pula bibir kita sudah sama sama saling merasakan satu sama lain"
Davin: "Ayo diminum" perintahnya saat Velicia hanya memegangi botol minum berwarna hitam pudar yang lebih mengarah pada warna abu abu.
Davin terus memperhatikan setiap tegukan demi tegukan yang masuk secara perlahan melalui rongga kerongkongan Velicia yang terlihat olehnya.
Bagaimana wanita itu juga tengah ikut memperhatikannya pun tidak luput dari perhatian Davin sama sekali hingga akhirnya Velicia menutup kembali botol minum suaminya.
Davin: "Kau sudah siap?"
Velicia: "Untuk?" tanyanya balik merasa heran.
Davin: "Untuk sikapku yang akan mulai mengaturmu?"
Davin membungkuk dan mensejajarkan wajahnya agar berhadapan dengan istrinya.
Semakin dekat dan semakin melekat hingga hebusan nafasnya yang begitu hangat langsung terasa di permukaan kulit wajah Velicia.
Davin: "Dengarkan perkataanku baik baik karna aku tidak akan mengulanginya" bisiknya lembut tepat di depan wajah istrinya.
Davin: "Kau dilarang keras keluar rumah tanpa ijin dariku, kau mengerti?"
Velicia: "Ya aku mengerti" sahutnya cepat sambil mengangguk.
Davin: "Bagus. Karna itu adalah poin utama" katanya yang diikuti senyuman seiring elusan lembut pada puncak kepala Velicia.
Velicia: "Lalu? Masih ada lagi kah?"
Davin: "Kau dilarang mendekat pada segala hal yang bebau akan masa lalu. Entah itu masa lalu mu atau masa lalu ku, segala kisah pedihku atau segala kisah romansamu aku melarangnya. Aku melarangmu akan itu"
Davin: "Kau mengerti?" tanyanya lagi saat Velicia hanya diam dengan pemikirannya.
Wanita itu tetap diam dan tidak menjawab seakan dirinya belum ingin menyetujui apa yang menjadi kehendak suaminya, meski pada awalnya dirinya telah menyetujui segala perkataan suaminya untuk kedepannya.
Davin: "Jika kau belum juga mengerti mungkin aku bisa mengantarmu kembali dan menitipkan mu pada mommy ku di Surabaya"
Velicia: "Aku telah paham dan mengerti akan maksudmu, tidak perlu menitipkan ku pada mommy Melliza" selanya langsung.
Davin: "Aku harap kau benar benar mengerti akan perkataanku Vei, jika tidak aku tidak akan mentolerirnya kembali bahkan hanya hukuman ranjang dan rasa sakit saja tidak akan cukup untukku mengajarimu dari sebuah perintah yang aku keluarkan"
Davin: "Patuhi perkataanku maka kau akan bahagia"
Davin lebih mendekatkan wajahnya dan lebih dekat lagi hingga akhirnya daging kenal itu saling bertegur sapa dalam sebuah kelembutan dan kemanisan yang sama sama mereka miliki. Mempermainkan sedikit permainan yang membawa istrinya ikut hanyut dan menikmatinya. Hangat, lembut dan begitu manis rasa yang sama sama mereka rasakan untuk saat ini.
Davin: "Sepertinya aku semakin mulai mencintaimu, teruslah bersikap manja dan patuh padaku karna aku sangat menyukai itu"