
Setelah pembahasan yang cukup ruyam kemarin sore menjelang malam tiba yang dilakukan sebelum acara makan malam.
Akhirnya Melliza selaku mommy kandung Davin yaitu putranya bersama pria bernama David yang sangat ia cintai memutuskan untuk bertolak dari Surabaya menuju Jakarta bersama dengan putranya yaitu Davin selaku pemeran utama dalam permasalahan yang telah dibuatnya.
Sebisa apa pun Davin menghalangi tak akan mampu menghentikan tekad Melliza untuk meminta maaf secara langsung pada gadis yang diperkosa oleh putranya terlebih pada kedua orang tua gadis itu sendiri yang telah merawatnya sejak dalam kandungan hingga telah tumbuh besar dan dewasa hingga saat ini.
Melliza merasa bersalah atas tindakan putranya yang kurang ajar hingga dirinya pun menutup rapat telinganya meski sang suami ikut melarang kepergiannya.
Melliza tahu bukan permasalahan Davin dan gadis itu yang dipikirkan oleh David suaminya, tapi Melliza paham betul bahwa suaminya itu tak pernah mau tidur sendiri apalagi ditinggal oleh istrinya walau hanya sebentar saja.
Tapi kali ini berbeda, bagi Melliza tugasnya sebagai seorang ibu sedang lebih dibutuhkan dibanding menjadi seorang istri yang harus terus memantau suaminya yang semakin manja dan bertingkah padahal fisiknya telah dimakan oleh usia.
Setelah jarak tempuh yang tak bisa dikatakan sebentar dan juga terlalu berlebihan jika disebut lama. Melliza pun mendatangi secara langsung rumah yang pernah dijumpai Davin beberapa waktu silam yang menjadi bukti penolakan atas lamarannya yang tiba tiba.
Davin: "Apa mommy yakin?" tanyanya untuk sekian kalinya sejak bertolak dari halaman rumahnya yang berada di Surabaya.
Mommy: "Apa mommy pernah mengajarkan padamu bahwa meminta maaf harus ragu ragu?" sahutnya yang mulai jengah karna putranya itu terus saja menanyakan perihal keputusannya untuk datang.
Tapi sungguh mala petaka menimpa ibu lima anak itu, baru saja mengucapkan salam saat bertegur sapa dengan nyonya rumah yang disinggahinya itu.
Melliza harus ditampar bertubi tubi dengan hinaan dan celaan saat dirinya baru saja memperkenalkan diri dan mengucapkan maaf atas tindakan putranya.
"Jangan sebut diri anda seorang ibu jika tidak mampu mendidik putra anda dengar benar!" kalimat kalimat pedas yang terus saja terarah padanya tak mampu membuat Melliza berani untuk angkat bicara.
Karna memang dalam situasi seperti ini, Melliza sama sekali tidak bisa berbuat apa apa. Apalagi berusaha membela diri, karna pada dasarnya dirinya telah gagal mendidik putranya itu.
Berbagai tudingan yang tak sepatutnya dilontarkan oleh ibu nya Velicia yang sesungguhnya sangat berbeda jauh dari kenyataan membuat Davin berusaha menahan amarah yang ingin meluap.
Bagaimana seorang wanita yang sangat Davin muliakan, sangat dia sanjung dan banggakan karna terlahir dari rahimnya menjadi bahan cemooh dari ibu yang telah melahirkan gadis yang telah ia perkosa kala itu.
Davin: "Ayo mommy, kita pergi. Tak seharusnya Davin biarkan mommy bertemu wanita iblis seperti dia" ajaknya menarik pergelangan tangan Melliza.
Tapi Melliza selaku mommy nya tetap memaksa ingin tinggal dan terus berusaha meminta maaf.
Davin: "Untuk apalagi mommy disini? Untuk meminta maaf permasalahan Davin? Tidak perlu mom"
Davin: "Karna bagi Davin, wanita seperti Velicia memang layak mendapatkan perlakuan seperti itu, terlebih dirinya adalah putri dari seorang ibu yang tak menghargai posisi wanita yang sama posisinya seperti dirinya" sindirnya telak pada wanita yang waktu itu baru saja ia temui dan meminta ijin atas putrinya.
Davin: "Jangan sebut diri anda seorang ibu jika tidak tahu artinya menghormati sesama. Karna bagi saya, seorang wanita yang pantas disebut ibu ialah dia yang menjaga tutur bicara dan sopan santunnya pada semua orang termasuk musuhnya. Bukan mereka yang hanya pintar mendidik anak dan melayani suaminya saja"
Amarah yang masih terpendam saat melihat sang mommy tercinta terlelap dalam tidurnya didalam sebuah kamar hotel yang Davin pesan secara khusus melalui telepon genggamnya.
Dirinya langsung mendekatkan benda pipih itu di telinga kanannya saat panggilan itu beralih pada kata berdering yang menandakan bahwa panggilan itu telah terhubung. Dan dirinya sedikit berjalan menajuh dari jangkauan mommy nya yang sedang beristirahat karna petang nanti mereka berdua akan kembali lagi menuju Surabaya.
"Hallo Vin?" sapanya langsung yang berada di seberang sana.
Davin: "Kapan kau dan Velicia akan menjalin hubungan yang lebih serius lagi?" tanyanya langsung to the poin pada lawan bicaranya yang ternyata adalah kekasih dari Velicia sendiri yaitu Evan.
Evan: "Maksudmu?"
Davin: "Kapan kau akan melamar pacar desainer mu itu?" tanyanya lagi mulai geram karna Evan tak langsung maksud akan arah yang dipertanyakan oleh Davin.
Evan: "Ooooh.. memangnya kenapa?" tanyanya balik menambah uap emosi yang mengitari seisi kepala Davin.
Davin: "Apa kamu tidak pernah diajari oleh ayah mu bahwa sebuah pertanyaan hanya diperlukan sebuah jawaban, bukan malah balik bertanya dan memberikan kebingungan"
Davin benar benar sudah berada di puncak emosi yang siap meluap kapan saja jika lawan bicaranya ini terus saja memancing emosi yang sebelumnya memang sudah ada.
Evan: "Entah.. aku pun tidak tahu" sahutnya terdengar pasrah.
Davin: "Why?" tanyanya lagi dengan singkat.
Evan: "Dia pergi ke Milan untuk melanjutkan pendidikannya disana, yang secara otomatis rencana kejutanku harus tertunda terlebih dahulu dan menunggunya pulang dengan keberhasilan yang dia torehkan dan impikan disana" terang lawan bicaranya yang membuat Davin mengerutkan keningnya.
Davin: "Milan?" gumamnya lirih.
Davin terus berfikir sedari tadi. Sebenarnya dirinya telah tahu bahwa wanita yang waktu itu pernah ditidurinya sudah tidak berada di tanah air ini pasalnya ibunya Velicia telah terbuka dengan memberitahukan bahwa putrinya pergi dan menyendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun karna musibah yang menimpa dirinya.
Tapi sayangnya ibu dari Velicia sendiri tidak mau menyebutkan tempat pasti keberadaan wanita yang sedang dikejar oleh Davin.
Dan jadilah Davin berinisiatif menghubungi orang pertama yang pasti akan dipamiti oleh Velicia yaitu kekasihnya tercinta yang tak lain dan tak bukan adalah Evan.
Saat panggilan itu dimatikan secara sepihak oleh Davin tanpa menghiraukan ocehan lawan bicaranya, Davin terus berfikir keras mengenai wanita yang telah ditetapkan sebagai miliknya itu.
Davin: "Milan?" gumamnya lagi.
Tapi baru saja Davin hendak memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Ponsel itu bergetar menandakan sebuah pesan yang baru saja masuk.
Tertera dilayar ponsel depannya bahwa itu adalah pesan dari orang yang baru saja dihubungi olehnya.
"Sebenarnya kau iblis seperti apa? sehingga Vevei ku ingin aku menjauhi mu? Apa kau kanibal?🤪🤪" pesan yang tertera didalamnya.
Davin: "Ya aku kanibal. Aku telah memakan habis kekasih mu sampai tak bersisa dan kau tak akan pernah lagi bisa mendapatkannya. Karna aku telah terlebih dahulu mendapatkan tubuhnya, dan kita lihat seberapa jauh aku akan mendapatkan hatinya" katanya berbicara sendiri lalu menatap jauh kearah balkon kamar hotel yang Davin dan mommy nya tempati.