
Rasa sakit akan ucapan Davin yang mengatakan bahwa dia belum mencintai Velicia meski jelas wanita itu telah mengandung anaknya karna sebuah paksaan dari Davin menorehkan bekas yang tak akan mudah untuk disembuhkan bahkan dengan perlakukan manis Davin terhadapnya.
Apa aku sakit hati?
Jika memang tidak mencintainya mengapa melakukan segala hal yang membuat mereka akan segera bersatu, bahkan dengan hitungan hari saja hubungan mereka akan lebih terikat lagi.
Saling bersumpah setia di depan Tuhan, saling berjanji untuk menerima segala kekurangan dan saling menemani disaat susah dan senang.
Jika dia tersiksa karna berpura pura mencintaiku, mengapa berbuat sejauh ini hanya untuk menjalin hubungan yang kita sama sama tidak inginkan. Lalu bagaimana dengan janin ini? Apa pantas menyebutnya anak yang tidak diharapkan?
Sebenarnya siapa dia?
"Jangan memikirkan hal yang tidak boleh kau pikirkan. Apa kamu lupa apa yang aku katakan Vei?" ucapan yang diiringi gerakan lain yang ikut menyeburkan diri ke dalam bathtub bulat dalam kamarnya menarik kembali intensitasnya.
Pelukan hangat dari belakang yang melingkar di perutnya dalam bathtub berisi air hangat itu semakin menyamankan suasana.
Elusan ringan seringan jaring laba laba pada permukaan kulitnya yang polos tanpa kain membuat Velicia memejamkan mata karna merasa tenang sekaligus nyaman yang datang secara bersamaan.
Davin: "Kamu memikirkannya lagi?" bisiknya lembut sambil terus mengelus perut Velicia.
Velicia: "Aku adalah wanita waras Vin. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya" sahutnya mulai membuka mata.
Davin: "Maka jangan pikirkan lagi. Kau cukup pikirkan kondisimu dan calon anak kita"
Velicia berbalik untuk menatap pria yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana dalamnya.
Diam tidak berucap namun menunjukkan rasa penasaran tinggi pada pria yang kini berada di hadapannya tengah bersandar pada dinding bathtub yang tingginya sejajar dengan punggung laki laki itu.
Davin: "Kau ingin bertanya sesuatu?"
Velicia: "Ya" sahutnya cepat.
Davin: "Asalkan bukan tentang dia, bukan tentang masa lalu ku dan alasan aku merebutmu dari Evan maka aku akan menjawabnya jujur"
Velicia: "Kau mengharapkan anak ini atau tidak?"
Pertanyaan yang memang telah bergelut sejak Davin mengatakan bahwa pria itu tidak mencintai Velicia, membuat wanita itu merasa khawatir akan janin dalam kandungannya.
Jika dirinya saja belum sepenuhnya bisa menerima anak yang dia kandung dan Davin saja juga tidak mengharapkannya, lalu untuk alasan apa anak ini nanti terlahir ke dunia?
Velicia tidak akan tega saat melihat anak yang di paksakan untuk lahir oleh calon ayahnya namun sama sekali tidak diharapkan oleh ayahnya itu.
Bagimana mungkin Velicia bisa begitu tega melihat itu semua nanti.
Davin: "Aku akan belajar mencintaimu karena anak ini, dan kau juga harus belajar mencintaiku karna anak ini pula. Agar saat dia lahir, dia hanya memiliki kedua orang tuanya yang saling mencintai satu sama lain"
Davin: "Kau pasti paham akan perkataanku kan Vei? Dan kau pasti tahu jawaban dari pertanyaanmu tadi kan? Atau aku harus memperjelasnya lagi bahwa aku sangat mengharapkan anak yang kau kandung?"
Velicia: "Kau mengharapkannya? Sungguh?"
Terdapat rasa ragu dan ketidak percayaan. Namun jika di lihat dari cara Davin merawatnya sepertinya pria ini sungguh sungguh tentang ucapannya.
Tapi bagaimana jika perhatiannya selama ini juga hanya pura pura?
Davin: "Aku melepaskan semua urusanku saat aku bersamamu. Mengutamakan dirimu dan janin dalam kandunganmu. Apa kamu masih tidak bisa merasakan betapa aku berusaha keras untuk bisa mencintaimu?"
Davin: "Atau aku harus seperti pria lain yang hanya mengumbar rayuan namun tidak ada tindakan?"
Tangan Davin bergerak maju berusaha meraih wanitanya yang tadi sempat menjauh beberapa jengkal darinya.
Davin: "Kemarilah" perintahnya dengan uluran tangan yang mengarah pada Velicia.
Velicia: "Apa? Kamu mau apa?"
Velicia terkejut dan semakin berdiam diri, merasa membeku akan ucapan Davin.
Terdapat segurat rasa malu yang tiba tiba muncul tanpa permisi.
Davin: "Dia membutuhkan kehangatan kedua orang tuanya Vei"
Setelah mengucapkan kalimatnya, Davin menarik Velicia dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
Lebih mendekatkan wanitanya supaya lebih dekat dengan wajahnya.
Lantas Davin langsung mendongak karna letak wajah Velicia yang lebih sedikit berada di atasnya. Menatapnya lekat lalu tersenyum padanya.
Davin: "Tidak akan butuh waktu lama bagiku untuk mencintaimu"
Davin: "Atau mungkin detik ini juga aku telah mencintaimu, karna ada rasa yang tiba tiba menggangu jantungku. Dan mungkin ini akan berlangsung lama"
Jantung Velicia berdetak lebih cepat akan kata kata manis yang keluar dari mulut Davin.
Dia pasti sedang berpura pura.
Davin: "Vei?" panggilnya masih mendongak melihat ke arah wanitanya.
Velicia tidak langsung menjawab dan hanya memperhatikannya dari atas dengan sedikit menunduk.
Davin: "Apabila aku telah benar benar mencintaimu, tolong segeralah mencintaiku. Karna aku tidak akan bisa hidup berdampingan dengan wanita yang aku cintai tapi dia masih mencintai orang lain"
Kedua mata yang terlihat sayu dan tulus itu benar benar menggetarkan perasaan Velicia.
Setiap perlakuannya akhir akhir ini yang Velicia rasakan dapat meruntuhkan pendiriannya untuk membenci pria yang dulu kerap memperkosanya berkali kali hanya demi menghamilinya dan mengikatnya.
Bahkan rasa perih yang belum lama Davin torehkan karna pengakuannya yang berpura pura mencintainya serasa hilang begitu saja berganti rasa lain yang tak diharapkan.
Velicia: "Aku masih butuh waktu" sahutnya memalingkan wajahnya dari Davin.
Davin terkekeh atas tingkah Velicia, dirinya lantas memeluk tubuh calon istrinya dan menempelkan pipinya pada dada yang kian mengencang.
Davin: "Kamu tidak punya waktu lama, karna aku ingin sebelum kita menikah kau harus telah mencintaiku"
Davin: "Jangan harapkan kehadiran pria lain, karna aku tidak akan pernah memberi celah untuk pria lain mendekatimu terutama menggeser posisiku sebagai ayah dari anak dalam kandunganmu"
Velicia: "Aku tahu" sahutnya singkat yang membuat Davin sedikit mendongak dari posisinya.
Velicia: "Pilihanku hanya mencintaimu kan? Maka aku akan berusaha untuk mencintaimu"
Velicia: "Tapi kau harus berjanji satu hal Vin padaku"
Wanita itu melepaskan pelukan Davin meski masih berada dalam pangkuannya.
Menatap pria itu lekat dan tajam seolah berusaha mengintimidasi agar Davin dapat mengerti akan apa yang dia maksud.
Velicia: "Kau tidak boleh bermain dengan wanita lain. Entah aku telah mencintaimu atau belum, kau harus berjanji akan hal itu padaku"
Davin: "Cium aku" sahutnya membuat Velicia tiba tiba gelagapan.
Wajah serius Velicia yang tadi hilang begitu saja bergantikan kebingungan yang teramat tertera.
Ucapan singkat namun dengan nada serius yang dilontarkan pria itu membuat jantung Velicia semakin kebat kebit tak menentu.
Davin: "Cium aku maka aku akan melakukan apa yang kamu pinta"