
Wajah pucatnya memang telah nampak jelas dipermukaan wajah yang cantik nan elok untuk dipandang.
Oleh sebab itu, Davin dengan erat menggenggam tangan kanan Velicia dari balik tubuhnya.
Velicia: "Banyak orang yang memperhatikan kita" lirihnya lagi mencoba mengingatkan pria keras kepala dengan situasi saat ini.
Davin: "Aku tidak perduli" sahutnya dingin.
Velicia: "Tapi aku perduli" ucap wanita itu dengan menggerakan tangan kiri Davin yang dengan eratnya menggenggam tangan kanannya.
Davin berbalik dan melihat ke arah calon istrinya berada. Mata yang terlihat letih dan bibir yang sedikit pucat membuat Davin menipiskan bibirnya dalam upaya menahan amarah yang tiba tiba semakin menimbun.
Davin: "Jika kau perduli akan situasi seperti ini, seharusnya kau berpikir dua kali sebelum datang kesini dan menemui mantan kekasihmu" katanya dengan tatapan tajam.
Davin: "Kau harus tahu, aku paling tidak suka dibohongi, dicampakkan dan diselingkuhi. Jika kau sampai melakukan diantara ketiga itu maka jangan harap aku akan diam saja"
Evan: "Kau sama kejamnya dengan ayahmu" sindir pria itu setelah mendengar segala rentetan kalimat yang kental akan ancaman.
Evan: "Kalian sama sama pemaksa dan pemerkosa. Memang benar kata pepatah lama bahwa buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Sama halnya seperti ayahmu, kalian adalah pria penindas yang mengatas namakan cinta sebagai dasar tuntutan"
Sindiran telak itu telah menggali lebih dalam rasa yang ingin diluapkan dari diri Davin.
Davin: "Jika memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mengapa kau tidak seperti ayahmu?" sindirnya balik menyerang.
Davin: "Jika aku pemerkosa seperti ayahku, mengapa kau tidak seperti ayahmu yang malah membantu lancarnya pemerkosaan daddy ku terhadap mommy ku sendiri"
Davin: "Mengapa kau tak sepertinya yang melancarkan segala hubungan yang terjalin antara daddy dengan mommy ku? Bukankah sepatutnya kau mempermudah jalanku untuk mendapatkan Velicia jika kita harus mengikuti kata pepatah lama?"
🍂🍂🍂
Velicia: "Vin?"
Davin: "Minum susunya" sahutnya dingin dengan menyerahkan segelas susu yang telah terlewat dari jamnya tanpa menoleh ke arah wanita itu berada yang kini tengah duduk tenang di atas ranjang.
Sepulangnya Velicia yang digandeng oleh Davin bahkan secara paksa langsung menorehkan bekas di tangan gadis itu yang sedikit lebih merah dari permukaan kulit dibagian yang lain.
Velicia: "Apa aku salah jika aku ingin menemui Evan? Apa aku salah jika aku ingin menceritakan semuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku..
Davin: "Minum" selanya semakin terdengar dingin dari nada suaranya.
Davin: "Dimana ponselmu?" Davin menodongkan tangan kanannya yang berada tepat di hadapan Velicia yang baru selesai meneguk susu kehamilannya.
Velicia: "Untuk apa?" tanyanya balik mulai curiga.
Davin: "Dimana?" tanyanya lagi dengan menggerak gerakkan tangan kanannya meminta barang yang dia sebutkan.
Velicia: "Jika kau berniat menyita ponselku, maka jawabanku tidak akan pernah aku berikan"
Davin: "Berikan secara suka rela atau aku merebutnya secara paksa"
Velicia: "Paksa saja terus. Kamu kan bisanya hanya memaksa dan memaksa"
Davin: "Berikan"
Velicia: "Tidak mau"
Davin yang mulai hilang kendali akan kesabarannya sudah tak bisa menahannya kembali.
Dengan cukup paksa namun masih dengan kelembutan Davin mendorong bahu Velicia supaya terbaring di atas ranjang yang wanita itu duduki setelah merebut paksa gelas kosong yang sedari tadi masih dipegangnya.
Menekan bahunya hingga wanita itu sedikit meringis dengan wajah datar Davin yang begitu ketara.
Velicia: "Kau sudah gila?!" serunya saat Davin mulai beraksi akan niatannya.
Davin: "Apa?" sahutnya dengan wajah pura pura tak tahu setelah melepas pengait celananya.
Davin: "Memangnya kau perduli padanya?"
Davin: "Bukankah kau sangat membenci anak dalam kandunganmu karna dia adalah darah dagingku?" lanjutnya membuat Velicia terdiam.
Bagimana mungkin Velicia bisa secepat itu untuk menerima anak yang tidak ia harapkan. Tapi mana lebih mungkin dirinya menyiksa janin yang tidak tahu apa apa.
Davin: "Sudah aku katakan tadi. Aku paling tidak suka dibohongi, dicampakkan dan diselingkuhi"
Davin: "Apa kau tak paham akan arti ketiga kata itu?"
Davin yang sudah siap menerjang meski sebenarnya dirinya tak menginginkannya, terlebih lagi Davin sama sekali tak ingin menyiksa calon anaknya yang masih rentan akan segala kondisi tetap harus memaksa Davin melakukannya.
Sebab jika Davin tak memaksa melakukannya, jika Davin hanya berdiam dan menerima perlakukan Velicia yang menemui mantan kekasihnya tanpa sebuah hukuman yang akan menyiksa wanita itu.
Maka selamanya Velicia akan berbuat semaunya tanpa mau mendengarkan perintahnya.
Bahkan bisa kapan saja wanita itu tiba tiba pergi dan lenyap begitu saja tanpa permisi jika Davin tak lekas memberinya sebuah goresan luka supaya Velicia bisa dengan jelas tahu bahwa akan ada akibat dibalik sebab.
Velicia: "Kau akan menyakitinya Vin. Kau akan menyakitinya!" pekik wanita itu mulai meronta.
Davin tak menanggapinya dengan kata kata melainkan dirinya menanggapinya dengan tindakannya.
Davin: "Kau yang telah membuat situasi seperti ini" katanya setelah berhasil masuk.
Velicia: "Kau kejam Vin. Kau kejam" sahutnya dibalik rintihan rasa sakit yang mulai menyapa.
Davin: "Aku memang kejam. Jadi tolong ingat akan aku yang kejam ini jika kau hendak melakukan hal yang tidak aku ijinkan"
Meski telah menggunakan perasaannya dalam melakukannya, namun sepertinya wanita yang berada dalam kungkungannya tetap saja tersiksa akan rasa yang tidak bisa disebutkan dengan kata kata saja.
Akan tetapi rintihan bahkan tangisannya tak membuat Davin berhenti begitu saja.
Ia tetap membiarkan wanitanya menjerit dan merintih begitu saja.
Memang apa yang Davin rasakan kali ini sangat berbeda dengan hari hari sebelumnya saat Velicia belum mengandung anaknya.
Rasa yang kali ini Davin dapat yaitu dirinya lebih merasa nyaman saat dirinya yang lain menyentuh hal baru di dalam tubuh wanitanya.
Menekannya berkali kali dan ingin terus menyentuhnya.
Jadi inikah yang daddy rasakan saat laki laki lain mendekati wanita yang ia cintai? Tapi aku? Apa aku mencintainya sekarang?
Davin: "Aku akan memanggil dokter" ucapnya setelah melepaskan diri.
Velicia: "Tidak perlu" tolak wanita yang sedang meringkuk kesakitan.
Davin: "Aku akan tetap memanggilnya" kekeh Davin pada keputusannya.
Velicia: "Untuk apa kau memanggil dokter jika nantinya kau akan menyiksa janin ini lagi dan lagi"
Davin: "Aku tak menyiksa janin dalam kandunganmu. Aku hanya menyiksamu supaya kau tahu akan rasa sakit yang kau perbuat sendiri"
Davin: "Dan aku memanggil seorang dokter bukan untukmu melainkan untuk calon anakku yang mungkin juga tersakiti karna ulah dari ibunya sendiri" lanjutnya.
Davin bangkit dari ranjang lalu berlalu begitu saja.
Namun sebelum itu, dirinya mengucapkan kalimat yang membuat Velicia mulai bimbang.
Cintai aku, maka aku akan lebih mencintaimu. Jika hal sebaliknya yang kau tawarkan, maka jangan harap akan ada kebahagian untukmu bahkan untuk orang lain yang membuat aku tak bisa bahagia bersamamu.