Mr. Otoriter

Mr. Otoriter
Episode 11


Rahang Melliza mengeras diikuti tangannya yang geram ingin menampar mulut putranya yang kian tak ada aturan.


Dalam pikirannya apa memperkosa seorang wanita dan memenjarakannya dalam nafsu seorang laki laki adalah sebuah pencapaian tertinggi?


Apa dia telah gagal mendidik putranya hingga dengan beraninya Davin mencumbu seorang gadis atas kemauannya seorang diri dan memaksa keinginannya pada gadis itu?


Gembrakan pada meja yang menimbulkan bunyi lantaran garpu yang diikuti telapak tangan halus yang kian mengeriput itu membuat Davin dan David suaminya tertegun.


Mommy: "Davin?! mommy kecewa sama kamu" ucapnya dengan terus menatap lekat keberadaan putranya yang sedang berdiri yang tadinya hendak pergi.


Kedua mata Davin melemah, perbedaan saat dirinya menatap daddy nya dengan mata tajam dan hingar bingar kebencian sangat berbanding terbalik dengan melihat mommy nya apalagi jika diriya dinyatakan bersalah langsung dari mulut manis yang biasa dulu mengecupnya sebelum dan sesudah Davin tidur.


Davin tak sanggup lama lama menatap balik tatapan mommy nya yang kian menajam dan meminta penjelasan akan maksud dari perkataanya.


Celine: "Vin? kamu serius dengan perkataanmu?" sang kakak mulai angkat bicara lagi.


Davin tak menjawab dan hanya melihat kearah lain saat mommy nya terus saja mengintimidasi didalam ruangan besar yang mereka berempat isi.


Sangat jarang Melliza selaku ibu dari kelima anak David mengomel pada putra putrinya lantaran sebuah kesalahan yang diperbuat anaknya sendiri.


Biasanya dirinya akan memberi tahu kepada putra putrinya dengan lembut dan tenang dalam suatu ruangan tertutup dan hanya diisi oleh mereka saja supaya sang anak bisa leluasa bercerita mengapa bertindak seperti itu.


Tapi kesalahan yang diperbuat Davin kali ini berbeda. Dirinya benar benar bersalah dan membuat hati dan perasaan Melliza terkoyak begitu dalam saat mendengar pernyataan Davin bahwa dirinya telah memperkosa seorang wanita.


Bayangan bayangan dimana David suaminya dulu memaksa kehendaknya untuk memiliki anak waktu masih bekerja menjadi dokter kandungan, terlintas begitu saja. Bagaimana David dengan brutalnya terus memaksa tubuh Melliza dulu menerima miliknya beserta cairan cairan hangat yang telah menjadi pokok dasar tumbuhnya Celine dalam rahimnya dulu.


David memperkosanya meski dia dulu sudah menjadi suaminya, memaksakan kehendaknya yang ingin terus menghamilinya lantaran hanya ingin mengunci hidup Melliza dalam genggaman David seorang.


Dan sekarang, Davin putra kebanggaannya yang selalu berusaha melindunginya dengan penuh banyak kasih sayang serta perhatian telah menghancurkan kesempurnaan Davin sebagai seorang anak yang teladan pada mommy nya.


Davin yang penurut, Davin yang baik dan Davin yang mencintai mommy nya serasa hilang begitu saja dalam perasaan Melliza saat melihat Davin yang sekarang berdiri diam tak mau menjawab sekata dua kata yang ditanyakan oleh Melliza.


Mommy: "Davin duduk!" perintahnya masih menatap putranya yang masih setia berdiam diri.


Davin pun menuruti perintah mommy nya untuk duduk kembali dikursinya.


Davin melipat kedua tanganya diatas meja sambil menatap tanpa arah atau pandangan kosong.


Mommy: "Benar yang kamu katakan tadi? Bahwa kamu telah memperkosa seorang wanita?"


Davin: "Iya mom.. maaf" sahutnya lirih menarik pandangannya kebawah.


Melliza: "Maaf? kenapa kamu meminta maaf sama mommy?" alisnya ditautkan.


Davin: "Karna Davin telah membuat mommy kecewa atas tindakan Davin yang tidak ada aturan"


Melliza: "Kamu tahu tindakan itu tidak baik tapi tetap kamu lakukan hanya karna kamu ingin mengikat wanita itu dalam hidupmu. Menurutmu mommy kali ini akan setuju akan tindakanmu Davin?! Apa kamu lupa bahwa mommy mu ini juga seorang wanita?" Davin diam tak menjawab.


Saat hendak menimpa kembali perkataannya, Melliza terdiam saat sang suami yaitu David sendiri tiba tiba menggenggam tangan kirinya.


David tersenyum tipis lalu sedikit mengangguk memberikan isyarat pada istrinya.


Dan karna itu pula, Melliza duduk kembali dengan tenang tapi masih saja pandangannya merasa tak habis pikir tentang keberanian putranya yang tidak senonoh.


Davin: "Davin ke kamar dulu mom" pamitnya setelah beberapa orang yang mengisi meja makan itu semua bungkam beberapa saat.


David sendiri beserta istrinya terus mengikuti gerak langkah putranya yang berjalan menuju ruangan yang telah ditimpatinya sejak berusia tiga tahun itu.


"Celine?" panggil sang daddy pada putrinya yang masih duduk tenang.


Daddy: "Bantu mommy mu" katanya sambil melirik kearah istrinya yang terlihat murung setelah kepergian putranya.


Celine: "Hah? maksud daddy?" tanyanya merasa kurang paham akan maksud perkataan daddy nya.


David menggerakkan kepalanya sedikit kearah kepergian Davin yang meninggalkan meja makan.


Daddy: "Adikmu" katanya yang langsung dipahami putri sulungnya itu.


Celine: " Oh?! iya dad, Celine duluan dad.. mom" pamitnya setelah tahu akan maksud dari perkataan daddy nya kemudian bangkit dan menyusul sang adik laki lakinya yang baru saja menutup pintu kamarnya.


David terus tersenyum saat melihat putrinya mau ikut ambil bagian dalam masalah ini. Dia terus melihat putrinya hingga putri sulung kebangganya itu mulai memasuki ruangan yang sama dengan putra keduanya bahkan tanpa permisi atau hanya sekedar basa basi mengetuk pintunya.


"Mas?" perhatian David mulai teralihkan kembali pada seseorang yang masih sangat ia cintai.


Mommy: "Apa aku telah salah mendidik putra kita Davin?" dari perkataanya Melliza begitu muring dan terlihat sedih membuat suaminya pun tak tega melihatnya.


Daddy: "Clara ini ngomong apa?"


Mommy: "Aku salah mas, aku yang salah hingga Davin sampai bisa seperti itu"


Daddy: "Sssshtt.. tidak ada yang salah sayang, jika memang sudah terjadi ya sudah kita mau bagaimana lagi? Davin telah melakukannya, dan dia memiliki itikad baik dengan memberitahu kita tentang kelakuannya itu berarti dia tidak main main dengan apa yang dia lakukan dan ucapkan" terang David mencoba menenangkan kerisauan sang istri.


Mommy: "Itu bagi pandangan mas sebagai orang tua Davin, sebagai ayahnya. Tapi apa mas tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh keluarga gadis yang diperkosanya? Apa ayah gadis itu akan diam saja kalau tahu anaknya diperkosa oleh seorang pria? Terutama ibunya. Bagaimana perasaan ibunya jika tahu anak yang dilahirkannya dipermainkan oleh Davin nya kita?"


Daddy: "Clara sayang" tariknya tubuh sang istri kedalam dekapannya.


Daddy: "Davin itu anak kita, Davin itu sama persis seperti aku. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa Davin penerus segala yang ada pada diriku? Jadi jangan khawatir" bujuknya menenangkan.


Mommy: "Aku takut mas, aku takut Davin salah melangkah dan menjerumuskan dirinya sendiri akibat tindakannya"


Daddy: "Clara hanya harus ingat bahwa Davin adalah putra David Setya Mayndra, dia pasti punya alasan melakukan itu semua"


Daddy: "Dan lagi sayang...


Katanya terhenti lalu melepaskan pelukannya terhadap tubuh istriya lalu memandangnya lekat.


Daddy: "Ini berarti Davin telah bangkit dari masa terpuruknya. Bukankah itu bagus untuknya? Bagus untuk melupakan masa lalu percintaanya yang suram?"


Mommy: "Dengan cara memperkosa wanita lain untuk melupakan masa lalunya? itu bagus menurut mas?" keningnya mengernyit tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya.


Ya memang Melliza sebagai ibu kandung dari Davin sendiri ingin Davin benar benar melupakan cinta pertamanya yang telah membutakannya. Tapi apa harus dengan cara seperti ini?


Dengan cara memaksa wanita lain untuk mencintainya?


Mommy: "Sekarang kita balik keadaan"


Mommy: "Bagaimana kalau ketiga putri kita yang diperkosa oleh pria brengsek seperti Davin?"


Daddy: "Itu tidak akan pernah terjadi, karna Celine, Viana dan Kanya memiliki daddy yang akan slalu melindungi mereka" terangnya seraya bangga pada dirinya sendiri sambil berusaha menggoda istrinya.


Mommy: "Bagaimana jika mereka yang menjatuhkan diri pada sang pria? Jangan lupa dengan Clara mu yang dulu kau dapatkan dengan mudah mas David Setya Mayndra" ucapnya mencoba membuka masa lalu tentang awal kisah cinta mereka.


Daddy: "Putri putri kita tidak ada yang menggilai pria melebihi batas wajarnya"


Mommy: "Kharrel dad. Apa daddy lupa pemuda yang berhasil mengubah Celine kita seratus delapan puluh derajat? ingat dad. Kharrel"