
Velicia membatu bahkan sejak pintu tinggi yang hampir menyamai tingginya dinding kamar yang dia masuki.
Merasa canggung dan aneh berada di tempat asing yang baru di masukinya, terlebih ruangan yang dia masuki kali ini adalah suatu rungan pribadi milik seorang pria. Ruangan yang sangat tidak diperuntukan untuk mengumbarnya bahkan pada seorang wanita yang tak ada hubungannya sama sekali dengan sang pemilik.
Velicia: "Aku ingin keluar" kata pertamanya karna merasa aneh berada dalam satu rungan yang aneh bersama dengan pria yang ingin dia hindari.
Davin: "Kamu ingin keluar?" sahut Davin yang baru saja hendak membersihkan diri.
Velicia tak menjawab dan hanya terpundur seiring langkah Davin yang terus maju berusaha mendekatinya hingga dirinya tepat berada didepan pintu dan tak bisa menghindar lagi dari pria yang kali ini hanya menggunakan celana panjangnya namun dengan kondisi telanjang dada.
Davin: "Katakan sekali lagi? Kau ingin keluar?" tanyanya lagi dengan memasukkan telapak tangannya pada saku celana sebelah kanannya.
Velicia: "Ya! Aku ingin keluar. Jadi tolong cepat buka pintu ini" sahutnya tak mau menatap kedua mata Davin yang berusaha terus mengintimidasi.
Davin: "Kamu akan keluar Vei.. tapi tidak sekarang" jawabnya lalu berpindah tangan dari saku menjadi berpangku tangan.
Davin: "Kau harus menunggu" lanjutnya lalu berbalik badan dan membelakangi gadis yang masih menaruh rasa khawatir.
Davin: "Menunggu sampai kau benar benar hamil anakku baru kau boleh keluar dari kamar ini" katanya lagi kemudian berlalu menuju ruangan tidurnya.
Velicia: "Kau gila?! aku tidak mau!" pekiknya merasa tak terima.
Davin: "Tidak mau?" katanya menghentikan langkahnya yang berada diambang pilar yang lebar seperti sebuah pintu napun tak tampak seperti sebuah pintu namun tak membalikkan tubuhnya kearah wanita yang masih setia menahan amarahnya.
Davin: "Tidak mau maka tidak keluar, bahkan sampai kamu mati pun aku tidak akan mengeluarkanmu" lanjut kalimatnya terdengar sangat menakutkan.
Davin: "Dan beribu ribu caramu pun tak akan mampu membuat kamu menghilang dari hidupku lagi. Karna kamu hanya milikku sekarang" kata terakhir yang terlontar sebelum Davin menghilang dibalik pilar itu yang mengawali berbagi ide Velicia untuk bisa keluar.
Terdapat sebuah balkon kecil yang terhubung dengan kebun yang tadi mereka lewati.
Tapi sayangnya, gadis itu tidak mengetahui bahwa kamar Davin memiliki sistem otomatis yang hanya bisa dilakukan oleh Davin.
Karna kamar itu telah jauh jauh hari dirombak oleh Davin diubah dari kamar biasa seperti milik saudara saudaranya yang lain menjadi sebuah kamar masa kini yang semuanya bisa Davin lakukan hanya dengan mengeluarkan suaranya.
Tirai otomatis, pengatur suhu bahkan televisi dan keempat komputer kompternya pun memakai sistem yang dapat mempermudahnya saat bekerja.
Tak hanya sampai disitu bahkan kamar Davin yang memiliki dua sisi ruangan itu sangat saling berbanding terbalik.
Satu ruangan yang sangat teknologi dan masa kini dengan perabot perabot komputer, televisi dengan layar yang cukup sangat lebar kemudian sofa sofa hitam panjang yang terlihat nyaman.
Tak lupa terdapat sofa refleksi dan juga berbagai alat elektronik lainnya yang cukup meramaikan ruangan pertama saat baru memasuki kamar miliknya.
Sedangkan dirungan satunya, hanya berisi ranjang dan sebuah meja nakas tak lupa dilengkapi dengan sebuah kamar mandi.
Tak ada yang lain didalamnya selain lemari yang ikut menyatu pada dinding kamar.
Sangat sederhana dengan cat warna dinding yang tenang.
Tak ada satupun foto atau bingkai hiasan lainnya yang tertera didalam kamar yang masih setia gadis itu amati.
Velicia: "Aku harus bagaimana?" dirinya mulai kelabakan karna merasa bingung yang tak berkesudahan.
Velicia: "Aku tak mungkin berakhir ditangan Davin kan?" rasa khawatir terus mengikutinya seiring suara germecik air yang berjatuhan dilantai kamar mandi yang Davin tempati.
Velicia: "Aku tak mau menjadi istrinya terlebih lebih menjadi ibu dari anak anaknya"
Velicia: "Aku tak sudi dan tak akan pernah sudi membiarkan pria semacam Davin berkuasa atas diriku. Karna diriku ini hanyalah milikku sendiri"
Seutas ide muncul saat dirinya teringat wanita sebelumnya yang ia temui didepan tadi.
Wanita yang jauh lebih berumur darinya yang dia yakini sebagai ibu dari pria bejad yang telah merusak tubunya begitu juga masa depannya.
Davin: "Wanita itu? maksudmu mommy ku?" kalimat itu membuat Velicia terkaget kaget.
Velicia tak mejawab dan hanya mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghindari kontak mata antara dirinya dengan pria yang sedang sangat ia benci.
Davin: "Menurutmu mommy ku akan membantumu?" Davin mengernyit heran.
Davin: "Pikiranmu terlalu jauh Vei.. apa menurutmu aku akan membuat dirimu bertemu dengan mommy ku dan semua keluargaku?"
Velicia masih bungkam dan tak mau angkat bicara seolah dirinya tak mau menganggap keberadaan Davin.
Davin: "Jangan menghayal sayang.. karna aku tidak akan mengeluarkanmu dari kamar ini bahkan hanya untuk sekedar menghirup oksigen diluar sana" terangnya menohok mencoba menjelaskan sebuah keinginannya.
Velicia: "Kau ingin menyekap ku disini Davin?" tanyanya tapi tetap tak mau menghadap kearah Davin.
Davin: "Kalau aku jawab iya memangnya kenapa?"
Velicia: "Kau tak bisa memaksa ku!" ucapnya tegas tak mau tertindas.
Davin: "Aku bisa" sahut pria itu mantap.
Velicia: "Kau tak bisa karna aku tak bisa dipaksa oleh siapapun itu"
Davin: "Aku bisa dan keberadaan mu saat ini di sini, di kamar ku adalah bukti bahwa aku bisa memaksa mu" sahut Davin tak mau kalah.
Velicia tak menjawab lagi karna baginya percuma berdebat dengan pria macam Davin.
Davin: "Bersihkan dirimu dan pakailah pakaian biasa" perintahnya mulai dijalankan.
Velicia: "Aku tak suka diperintah terlebih oleh orang seperti mu"
Davin: "Jika kau tidak suka diperintah oleh ku menggunakan pakaian biasa, maka kau bisa berinisiatif tak usah lagi berpakaian agar aku mudah menggaulimu dan lekas membuatmu hamil"
Velicia menajamkan matanya, menatap Davin dengan penuh aura membunuh dan jengkel yang tak ada hentinya.
Davin: "Menyingkirlah" katanya meminta Velicia untuk menyingkir dari depan pintu.
Velicia tanpa menjawab hanya menghidar supaha tubuhnya tak dapat tersentuh lagi oleh Davin.
Davin: "Aku akan pergi makan didepan, mungkin akan lama kau bisa istirahat terlebih dahulu" ucap Davin saat baru saja memegang gagang pintu.
Davin: "Ingat!"
Davin: "Aku menyuruhmu istirahat maka kau harus istirahat, jangan lakukan yang lain terlebih memegang barang barangku. Karna aku tak suka milikku disentuh oleh orang lain bahkan jika dia memiliki hubungan darah denganku" terangnya panjag lebar.
Davin: "Dan lagi.. mungkin akan lebih baik kau memikirkan cara agar kau bisa hamil anakku dengan cepat. Semakin cepat kau hamil maka semakin cepat kau bisa keluar"
Davin: "Tapi semakin lama kau menunda, semakin lama kau menghindar dariku maka semakin lama pula dirimu berada dipenjara indah milikku ini. Dan semakin lama pula diriku bisa memuaskan nafsuku kapan pun aku inginkan. Semua bukan tergantung dirimu"
Davin: "Karna cepat atau lambat aku akan benar benar menghamili mu"
Velicia: "Kenapa kamu tega Davin?" Davin menghentikan tangannya yang baru saja berniat menarik gagang pintu saat mendengar kalimat dari mulut manis Velicia yang sedang bergetar.
Velicia: "Kenapa kamu tega?! Kamu lupa?! Aku ini kekasihnya Evan Davin. EVAN!!!" teriaknya sudah tak bisa tertahan karna niat Davin yang begitu ingin memasaknya dan mengikatnya.
Davin: "Sudah aku katakan dengan jelas Vei.. bahkan jika itu berhubungan darah sekalipun denganku tidak akan ada yang mampu menghentikan keputusanku untuk memiliki sesuatu yang aku inginkan"