
Karna aku bukan seorang pria hypersex seperti daddy ku, jadi jangan mengharap banyak padaku.
Kalimat itu membuat Velicia tiba tiba tergerak untuk melakukan sesuatu. Turun dari ranjang dengan raut wajah yang penuh dengan maksud tertentu.
Berjalan menuju lemari pakaian yang penuh akan miliknya dulu yang Davin belikan khusus hanya untuk dirinya.
Mencari suatu benda yang menjadi salah satu kado yang diberikan oleh seseorang dulu sebagai kata selamat atas pernikahannya dengan Davin yang awalnya tidak pernah ingin ia gunakan.
Namun kali ini, pemikiran yang tidak ingin ia pergunakan telah ia buang jauh jauh karna ucapan Davin yang belum lama terucap.
Sebuah kado jubah femme yang nampak sangat elegan dengan warna nude dari Victoria secret berhasil membalut sebagian kecil tubuh Velicia.
Kimono tidur yang sama sekali tidak transparan, tidak tembus pandang namun tetap mampu menarik perhatian kaum adam yang melihatnya.
Belahan dada yang sangat terbuka karna garis kerah yang jatuh di bagian ujung bahu, serta lipatan bunga bunga yang menggantung di perpotongan paha yang sangat mulus itu dan tali kecil yang terlihat biasa namun sangat mengganjal di mata saat melihatnya memang telah mengusik Davin terlalu dalam.
Gaun tidur yang diberikan oleh Celine kakak iparnya dulu saat baru menjadi bagian dari keluarga Mayndra, baru kali ini ia kenakan.
Warna yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih nan halus itu membuat Davin mulai gusar dalam duduk diamnya.
Menatap lurus bagaimana istrinya berusaha menggoda dirinya dengan cara mengikat rambutnya dan semakin menonjolkan leher serta bahu yang sama sekali tidak tertutupi.
Davin: "Jangan menggodaku Vei. Ingat kamu sedang hamil" katanya yang sudah mulai lebih gusar lagi.
Velicia: "Tidak" sahutnya menggeleng cepat.
Velicia: "Aku tidak sedang menggodamu" lanjutnya kali ini yang mulai melepas celana dalamnya tepat di hadapan Davin.
Velicia: "Aku hanya ingin tidur seperti ini di malam hari ulang tahunku. Lagi pula bukankah kamu mengatakan tadi bahwa kau bukan seorang hypersex, berarti itu tandanya kau bisa mengontrol rasa inginmu bukan suamiku tercinta?" godanya kali ini yang tiba tiba menaiki Davin secara perlahan dalam duduknya.
Davin: "Vei?!" gertaknya yang ingin menjauh namun tidak bisa.
Velicia: "Apa sayangku?" godanya semakin memuncak dengan senyumannya yang ia tahan dengan sebisanya.
Davin: "Aku tidak ingin melakukannya"
Velicia: "Melakukan apa?" tanyanya heran.
Velicia: "Memangnya apa yang mau kamu lakukan jika aku berpakaian seperti ini?"
Velicia yang pura pura sok polos serta Davin yang sudah kebat kebit akan rasa yang timbul memberikan hawa panas pada dirinya.
Velicia: "Ya sudah aku ganti baju lagi...
Davin: "Kamu yang memaksaku Vei" cegatnya yang kali ini menidurkan Velicia di kasur.
Velicia: "Tidak. Aku tidak memaksamu, biarkan aku mengganti bajuku"
Davin: "Kamu memaksaku"
Pria itu memulai aksinya, dengan terburu buru melepas apa yang melekat pada dirinya.
Rasa yang ingin dikeluarkan dari dirinya benar benar menyiksa suami dari Velicia saat melihat sang istri terus saja bermain dengan daya tariknya.
Velicia: "Ingat ada dia di dalam Vin" ucapnya mengingatkan pada suaminya saat Davin baru saja hendak memasukinya.
Davin: "Kalau bukan karna ada janin di rahimmu sudah habis kamu Vei. Jangan lakukan hal yang sama saat kamu sedang mengandung"
Davin: "Aku ingatkan sekali lagi jangan pernah menggodaku saat kamu sedang hamil Vei"
Davin benar benar memasukinya. Menerjang serta bertegur sapa dengan keturunan keduanya.
Menikmati setiap kedekatannya dengan Velicia yang merintih dalam nikmatnya.
Memperhatikan setiap rintihan dan jeritan kecil dari mulut istrinya yang sangat nampak dari raut wajah Velicia.
Rasa nikmat diperas di dalam diri Velicia karna nafsu yang sama membuat Davin semakin menggila.
Deru nafas yang saling bersahutan dengan rintihan itu benar benar memenuhi kamar mereka berdua.
Davin meninggalkan beberapa titik bukti percintaan mereka di permukaan kulit Velicia dengan tanda tanda merah yang kian bertambah menggelap.
Velicia: "Vin?" panggilnya lirih.
Davin: "Mmm?"
Velicia: "Cukup Vin" pintanya.
Davin: "Belum" tolaknya yang ingin merasakan lebih.
Velicia: "Perut aku kram Vin. Sakit" rintihnya.
Karna ucapan Velicia, dengan tiba tiba pria itu menarik secara spontan miliknya dari dalam diri Velicia.
Dengan mimik muka yang sangat kesal pria itu bangkit dan turun dari ranjang lalu berlalu menuju kamar mandi dengan langkah berat yang teramat.
Dan setelah itu, tidak ada lagi ke intiman diantara mereka berdua setelah keluarnya Davin dari dalam kamar mandi.
Davin menjauhi Velicia bahkan saat mereka berada dalam atas ranjang yang sama.
Davin mempunggungi Velicia dan tidak ingin melihat ke arahnya.
Bahkan saat wanita hamil itu meminta untuk diperhatikan pun Davin seolah tidak mendengarnya.
Davin mendiami Velicia dari malam setelah pergulatan hingga pagi menjelang.
Untung saja masih terdapat satu nama yang membuat Davin kembali lagi seperti suami siaga dan mencintai istrinya.
Satu nama yang akan selalu menyatukan Davin dan Velicia dalam suatu ikatan pernikahan.
Vania Lavina
Membangunkan Davin dari tidurnya dan memaksa ingin melihat bagaimana keadaan putri kecil kesayangan mereka berdua.
Saat penampilan mereka berdua yang masih terlihat berantakan dan tidak menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu, mereka sepelan mungkin memasuki kamar David dan Melliza.
Awalnya Davin mengetuk pintunya terlebih dahulu, namun karna tidak ada jawaban akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk secara langsung.
Dan saat mereka berdua mulai sampai di suatu ruangan, Davin dan Velicia dikejutkan dengan apa yang mereka lihat untuk pertama kalinya saat baru tiba di ruangan yang sudah sangat berantakan.
Tidak seperti kepribadian mommy Davin yang sangat pembersih atau daddy nya yang sangat rapih.
Botol susu yang Velicia kenal sering ia gunakan untuk Vania telah bercecer di meja dan di lantai sebanyak tiga botol telah dipergunakan.
Minyak telon yang tidak hanya satu merek berantakan di atas meja di dekat sofa serta penghangat ruangan yang terguling berada tidak jauh dari sofa pula. Tidak luput beberapa kain tebal yang mengitari sofa semakin terlihat sangat berantakan.
Namun selain karna itu semua, mereka berdua lebih fokus pada pemandangan saat seorang pria yang telah berumur tengah duduk bersandar dalam tidurnya yang tengah menggendong bayi dalam upaya menghangatkannya.
Vania bayi kecil itu tertidur dalam balutan pelukan sang grandpa dengan begitu nyaman.
"Kalian sudah bangun?" suara yang sedikit mengejutkan mereka membuat Davin dan Velicia menoleh ke arah sumber suara yang terdengar dari ruangan lain di dalam kamar David dan Melliza.
Seorang wanita yang mulai memiliki beberapa helai uban itu keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi berwarna putih.
Rambutnya yang dijepit sembarang membuat aura ibu lima anak yang mulai dimakan usia itu tetap terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi.
Mommy: "Daddy mu menjaganya semalaman tanpa henti. Dan dia baru tertidur saat Vania benar benar dalam kondisi yang sudah jauh lebih baik" ucapnya yang hanya melewati Davin dan Velicia.
Mommy: "Kau harus berterima kasih pada daddy nanti Vin" lanjutnya yang kali ini telah duduk di sebelah suaminya yang masih tertidur.
Davin: "Aku memiliki firasat buruk" katanya lirih yang hanya bisa didengar oleh Velicia yang berada di sampingnya saat mommy nya sedang berusaha membangunkan daddy nya.
Velicia: "Firasat buruk apa?" sahutnya merasa khawatir.
Davin: "Aku merasa bahwa aku akan kalah lagi oleh daddy ku" jawabnya yang membuat Velicia menjadi tercengang mendengarnya.
Davin: "Setelah daddy bangun, bawa Vania ke dalam kamar. Jangan biarkan daddy melihatnya lagi sampai Vania benar benar mengenal siapa ayahnya" tuturnya yang semakin membuat Velicia membulatkan matanya.
Mommy: "Pindah di kasur dy" bujuknya yang kali ini telah memisahkan sang cucu dari suaminya dan memberikannya pada Velicia.
Daddy: "Jam berapa ini?" tanyanya yang masih setengah sadar.
Mommy: "Sudah jam setengah tujuh, daddy tidur lagi saja"
Daddy: "Cek terlebih dahulu suhu Vania, nanti daddy baru istirahat lagi" katanya yang mulai bangkit dari duduknya dengan menggerak gerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri.
Davin: "Davin bisa melakukannya, daddy istirahat saja"
Daddy: "Tahu apa kamu, memangnya kamu tahu mana termometer mana stetoskop?" celanya yang hendak mengambil balik Vania dari ibunya.
Davin: "Davin memang bukan dokter, tapi Davin tidak sebodoh itu hingga tidak bisa membedakan mana termometer dengan stetoskop" sahutnya menghadang langkah sang ayah.
Daddy: "Kamu itu bodoh!" celanya semakin meningkat.
Daddy: "Kalau kamu pintar mana ada Vania diculik, mana ada Vania disandera hingga mengalami hipotermia" lanjutnya semakin menjadi.
Daddy: "Untung Vania memiliki grandpa seperti daddy yang bisa diandalkan"
Davin: "Davin yang memberi jalan supaya daddy bisa membawanya. Tanpa Davin, tidak akan mungkin daddy bisa membawa Vania keluar"
Daddy: "Hasil akhirnya tetap saja daddy yang menyelamatkannya"
Perdebatan itu membuat Melliza dan Velicia merasa bingung harus berbicara apa.
Pasalnya mereka berdua sendiri tidak tahu akan apa yang sedang diperdebatkan oleh suami mereka.
Davin: "Kita bawa saja Vania ke kamar, jangan biarkan pria hypersex ini memberi pengaruh buruk pada Vania" katanya sangat pedas karna merasa tidak terima akan ucapan sang daddy.
Daddy: "Kalau daddy hypersex lalu kamu apa Vin?" ucapnya terlontar saat putra dan istrinya hendak berlalu membawa cucunya.
Daddy: "Melakukan hubungan suami istri saat anakmu berada dalam kondisi sekarat kau sebut itu apa?"
Kata kata yang semakin pedas keluar dari satu sama lainnya.
Mommy: "Daddy sudah cukup"
Daddy: "Siapa yang memberi pengaruh buruk pada Vania Vin? Kamu atau daddy?" ucapnya tidak memperdulikan peringatan istri tercinta.
Mommy: "Daddy?"
Daddy: "Mungkin daddy salah karna memberi selisih umur antara celine dan kamu yang terlalu dekat. Tapi coba lihat dirimu"
Daddy: "Celine menerima kenyataan mendapatkan adik saat usianya tujuh bulan. Sedangkan Vania?"
Daddy: "Dia saja belum genap lima bulan tapi kau sudah membuat Velicia mengandung anak kedua mu"
Davin: "Itu ide daddy!" selanya menimpali merasa tidak terima.
Davin: "Daddy yang menyuruh Davin agar membuatnya hamil dan tetap terikat pada Davin" lanjutnya menunjuk sang ayah.
Daddy: "Daddy hanya memberi saran, seperti yang kamu katakan tadi"
Daddy: "Permasalahan kamu melakukannya atau tidak itu keputusanmu sendiri. Mengapa daddy harus disalahkan?"
Daddy: "Kalau kamu tidak mengharapkan anak anakmu, maka berikan saja pada daddy dan mommy. Kami masih sanggup merawat bayi dan menjadi orang tua"
Davin: "Jangan harap!" celetuknya menolak dengan telak.
Davin: "Anda ini sudah menjadi seorang grandpa, maka berperilakulah selayaknya seorang kakek. Jangan terlalu banyak tingkah seperti anak muda, ingat keriput daddy sudah tak terhitung lagi jumlahnya"