
Deswey pun diperiksa oleh dokter di saat itu juga, dan dokter mengatakan bahwa Deswey sedang hamil, kehamilannya sudah seminggu. Nyonya Heva yang mendengar hal itu langsung merasa bahagia.
Dokter pun mengatakan bahwa Deswey harus banyak istirahat, meskipun kandungan Deswey kuat. Hal itu membuat Deswey bahagia sekaligus tak percaya.
Nyonya Heva pun memeluk Deswey dengan lembut dan mencium perut Deswey. Herlan pun merasa cemburu melihat kemesraan mama nya dan Deswey. Hingga dia berkata.
"Ma, Deswey itu istriku kenapa kemesraan kalian membuat ku iri?" ucap Herlan cemberut.
"Hahahaha, ya ampun baru kali ini melihat anak mama cemburu dengan mama nya sendiri," ucap nyonya Heva sambil tersenyum dan tertawa.
"Hihi," Deswey hanya tersenyum melihat tingkah cemburu Herlan.
Nyonya Heva pun sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, sore ini diperbolehkan pulang. Herlan dan Deswey pun bergegas membereskan untuk pulang.
Sore pun tiba.
Nyonya Heva, Herlan dan Deswey pun pun pulang ke Mension nyonya Heva. Herlan yang mengemudi sedangkan nyonya Heva di samping Deswey.
Hingga dering ponsel Deswey pun berbunyi.
Mereka pun melakukan video call.
📱" Ya Hallo mama dan papa, dan Desy serta Very, tumben kalian mau video call," ucap Deswey bertanya.
📱"Benarkah dari nyonya Heva, kalau kamu sedang hamil sekarang," ucap Desy bertanya karena rasa penasaran.
📱"Iya adikku tersayang," ucap Deswey tersenyum malu.
📱"Wah keren juga, ampun bangun salto Herlan," ucap tuan Herley yang lain terbengong maksud tuan Herley.
📱"Ih papa nie apaan, nggak sayang, maksud papa mu itu, syukurlah akhirnya manjur juga bulan madu kalian ini," ucap nyonya Geby.
📱"Iya ma dan papa, semuanya doain yaa semoga Deswey selalu sehat bersama debay di dalam perut," ucap Deswey memegang perutnya.
Herlan hanya tersenyum dengan kebahagiaan mereka hingga dia bergumam dalam dirinya.
"Ya Tuhan, please jangan merenggut kebahagiaan kami selama ini, semoga selalu bahagia," gumam Herlan dalam hati.
Mereka pun merasa bahagia atas kabar tersebut, meskipun ke depannya pasti akan sibuk di karena kan ada pernikahan Very dan Desy, meskipun demikian Deswey sebisa mungkin bisa membantu.
Kedua keluarga tersebut sangat sibuk dengan urusan pernikahan dengan Desy dan Very. Menjelang H-3 kesibukan keluarga Desy sangat tampak terlihat. Desy dan Very sudah sibuk mengatur semuanya. Akan tetapi ternyata ada yang tidak suka dengan kebahagiaan keluarga tuan Herley.
Di hari jenjang pernikahan.
Desy dan Very sudah siap masuk ke altar akad nikah yang diadakan gedung mewah. Tanpa ada halangan dan rintangan acara pernikahan tersebut berjalan dengan lancar. Setelah acara selesai semuanya pun kembali ke kediaman masing-masing.
"Sah," teriak semua undangan.
Desy pun mendekati suaminya dan mulai menjahili suaminya.
"Sayang, malam ini kita bertempur ya," goda Desy pada suaminya berbisik.
"Hihi, baiklah suami ku kita lihat saja nanti yaa," jawab Desy.
Keduanya pun berbicara banyak satu sama lain, sambil tersenyum pada tamu yang menyalami mereka berdua.
Setelah acara selesai, keduanya pun istirahat akan tetapi belum sampai mereka masuk ke kamar, keduanya masih di ajak bicara oleh orang tua Desy.
Desy mulai menguap karena dia sudah sangat lelah dengan pernikahan mereka hari ini. Tuan Herley pun berbicara pada intinya saja, agar satu sama lain harus saling menjaga. Karena sekarang sedang dalam kondisi sulit, masih adanya musuh tuan Herley yang berkeliaran.
"Baik Bapak mertua," ucap Very menjawab.
"Hahaha, Ya Tuhan suamiku tercinta panggil saja papa dengan sebutan yang biasa kami panggil," ucap Desy tertawa sambil menguap.
"Iya benar Very, yang dikatakan oleh istrimu, panggil saya dengan sebutan papa saja, saya bahagia menanti saya semuanya laki-laki yang baik dan sabar menghadapi anak-anak perempuan saya yang cantik," ucap tuan Herley menepuk pundak Very.
"Baik pa, terima kasih banyak," ucap Very sambil tersenyum.
Satu keluarga pun tertawa atas candaan keluarga tuan Herley akan tetapi dari kejauhan ada wajah kebencian dari Olivia.
"Ehm, Herlan hanya milikku, aku akan mengubah seluruh identitas ku menjadi orang lain, agar Herlan tidak menaruh curiga dengan ku, dan Deswey tak akan melahirkan anak tersebut, anak tersebut harus mati tidak boleh hidup di bumi ini," ucap Olivia dengan nada kesal.
Olivia pun masuk ke dalam mobil sebuah organisasi yang ingin menghancurkan keluarga Deswey, mereka bernama Balck white, Olivia mengubah tampilannya ketika berada bersama keluarga nya, akan tetapi menjadi lebih berbeda ketika menjadi Nadya wanita polos yang belum memahami dunia.
Olivia sudah bergabung dengan organisasi sebulan yang lalu, di kala dia kalut atas masalah percintaan nya, Olivia hanya mencintai Herlan seorang, dia tidak diberi kesempatan untuk mengejar Herlan lagi karena Herlan sudah menikah dengan wanita yang di sukai oleh saudara laki-lakinya.
Berbeda dengan Olivia, Gerald lebih memilih mengikhlaskan Deswey bersama Herlan, karena itu Herlan dan Gerald masih menjalani komunikasi intens sebagai teman bisnis.
Kala itu lah Olivia benar-benar kalut, seolah-olah dunia tidak memihak padanya, hingga suatu hari ada yang menghampiri dan mengajaknya bicara, Olivia pun menyepakati hal tersebut sehingga membuat Olivia merasa bahagia dengan identitas baru sebagai karyawan baru yang bekerja di perusahaan Herlan.
Hal itu membuat Herlan mempercayai Nadya yang sebenarnya Olivia, karena pekerjaan nya begitu cekatan, hingga Olivia pernah bergumam dengan dirinya sendiri.
"Walau saat ini aku belum memiliki, setidaknya sekarang lebih baik aku berada di dekat walau tidak bisa saling menyapa," gumam Olivia dalam hati.
Setelah selesai dari acara dan di antar oleh temannya, Olivia kembali menjadi seperti biasanya. Ya, Olivia sudah berubah menjadi orang lain meskipun Gerald merasa curiga dengan aktivitas adiknya, akan tetapi dia lebih percaya dengan adiknya ketimbang nalurinya yang berbicara.
Olivia mulai bosen dengan sikap keluarga nya yang hanya mementingkan harta tanpa bertanya tentang keinginan anak mereka, hingga Gerald yang bertanya ke adiknya.
"Olivia, ada apa gerangan dengan mu? kenapa lebih banyak diam yang tak biasa nya?" ucap Gerald bertanya di kala semuanya serius berkata tentang perusahaan.
"Olivia muak kak, setiap makan malam yang hanya di bahas tentang perusahaan, untung dan untung tanpa bertanya apakah yang berada di dalam rumah ini bahagia," ucap Olivia.
"Satu lagi, di keluarga in kebanyakan munafik, hanya bisa menutup kesalahan yang lainnya, sepeti menutup lubang satu dan membuka lubang yang lainnya," ucap Olivia berkata tinggi.
"Oliv, cukup yang kamu katakan, kamu lihat akibat nada tinggi kamu, papa sesak nafas karena ulahku," ucap mama.
"Argh, jika terjadi sesuatu pada papa, kenapa mama selalu menyalahkan aku?" ucap Olivia menangis menuju ke kamarnya.
Gerald pun mengikuti adiknya untuk menghiburnya, akan tetapi Olivia memilih ingin sendiri dalam tangisnya malam itu.
Penasaran tunggu saja ga😚