Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 32


Very dan Desy benar-benar menikmati perjalanan mereka. Bahkan Desy tertidur dengan berat sehingga meminta Very untuk beristirahat sejenak saja.


Beberapa jam kemudian mereka sampai di kediaman Herlan dan Nyonya Deswey. Very pun memarkirkan mobilnya. Setelah di rasa selesai, dia pun membangunkan Desy tapi tidak bangun dari tadi. Very pun membopong tubuh Desy untuk di gendongnya dari punggungnya.


Desy dalam mimpi.


[Argh enak semua makanannya mau]


Saat Very menggendong nya Desy menjilat leher Desy seperti makanan yang di alam mimpinya.


"Erhm enak," gumam Desy dalam keadaan belum sadar.


[Ya ampun, nie cewek Napa pulak mimpi sih mana leherku dijilatinya seperti makanan, geli Desy duuh belum sampai juga di kamarnya, eeh sampai juga] gumam Very lega.


Namun, saat Very meletakkan Desy di atas kasur, Desy memegang erat leher Very terjadi lah sesuatu yang tidak diinginkan.


Bibir Very mendarat ke keningnya Desy, Desy pun tidak melepaskannya sama sekali. Hingga Very sulit untuk bangun dari cengkeraman Desy.


[Argh, nie cewek kuat banget sih, kalau diketahui oleh Tuan Herlan, bisa mampus gue] gumam Very kesal.


Desy pun membalikkan tubuhnya sehingga Very yang berada di posisi atas ikut di samping juga.


[Ya ampun, sakit Desy badan gue elo hentakkan kayak ginie] gumam Very.


Very pu. berusaha untuk melepaskan itu. Tapi Desy tiba-tiba terbangun karena yang dipeluknya bukan bantalan. Saat bangun.


"Aaaaaahhh......" teriak Desy dengan sekencang-kencangnya.


Tepoook Kening Desy untuk berhenti berteriak untuk yang dilakukan Very kala itu.


"Awww sakit tahu, ngapaian kamu di sini Very terus juga kenapa berada di dekat aku?" ucap Desy mendengus kesal.


"Idihhh, yang duluan menarik tangan aku itu adalah kamu Nona Desy, dari tadi aku ingin melepasnya tapi kamu memegang tanganku sangat erat, bagaimana aku bisa melepaskan nya, nah coba kamu pikirkan kembali," ucap Very langsung pergi meninggalkan kamar itu.


"Tuunggu, please jangan beri tahu kak Deswey yaa, kalau aku kembali bermimpi yang menganggu orang lain," ucap Desy memohon.


Very pun mendekati kembali Desy, dengan muka isengnya.


"Waah, nggak segampang itu Nona mau dimaafkan, ada syaratnya kalau begitu," ucap Very.


" Emang syaratnya apaan, maka akan ku kabulkan?" ucap Desy penasaran.


"Aku juga penasaran bhaaaa....," ucap Very tertawa.


"Bercanda kok, baiklah aku tidak akan memberi tahunya," ucap Very melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut.


Namun, dikunci otomatis oleh Desy pakai remote.


"Cepat katakan, kalau tidak maka tidak boleh keluar dari kamar ini," ucap Desy mengancam.


'Ya ampun Desy, aku bercanda tadi cuma jahilin kamu aja kok," ucap Very menjelaskan.


"Ehm masa' sih ada cowok kayak kamu tidak tergoda sedikitpun dengan wanita, apa aku kurang cantik?, kurang seksi atau tidak pantas buat kamu," ucap Desy sambil memencet tombol membuka pintu tersebut.


Very pun mendekati Desy.


Desy yang di dekati oleh Very jadi salah tingkah. Jantung nya tidak berhenti berdegup kencang.


Dag.....


Dig......


Very pun berkata Desy dengan jarak yang sangat dekat...


"Nona Desy, kamu cantik dari segala sisi, kamu seksi darii segala sisi, bahkan aku cemburu jika laki-laki lain mendekatimu atau pun menggoda mu dan kamu itu berharga bagi ku, maka dari itu aku hanya bisa menjaga mu untuk sekarang, masalah perasaan ku pada mu memang ada namun aku sadar diri dengan kondisiku, maka tunggulah sejenak, aku hanya ingin memastikan ketika dirimu bersama ku tidak ada kesedihan di wajahmu, dan aku berharap kita tetap bersama meskipun belum ada ikatan," ucap Very perlahan menjauhkan wajahnya.


"Ehm, tapi kenapa kamu tidak pernah mengungkapkan perasaan mu pada ku jika kamu benar-benar menyukaimu, kenapa harus menunggu memastikan perasaan mu itu?, aku seorang wanita aku juga memiliki batas kesabaran itu," ucap Desy mendengus kesal dengan menyilang tangan sambil muka cemberut.


"Baiklah-baiklah Nona Desy, akan ada waktunya nanti, meskipun demikian aku hanya menjadikan mu istri dan bukan untuk main-main itu saja," ucap Very pergi meninggalkan Desy dalam diam .


[Iiih menyebalkan, sudah tahu suka sama aku, kenapa tidak mau menembak ku?, padahal aku sudah menunggu moment itu, ih dasar Very nyebelin] gumam Desy dalam hati.


Desy pun kembali tidur dengan kekesalannya. Entah ingat apa tidak atas kekesalan kedua nya pada hari itu.


Sedangkan Very di dalam kamarnya, tengah menarik nafas dalam-dalam menghirup udara segar dengan membuka jendela kamarnya.


[Uuuh lega juga, ya ampun untung saja cepat keluar dari kamar Nona Desy, kalau tidak aku tidak mampu mengendalikan perasaan ku yang sangat mencintai Nona Desy] gumam Very.


Saat Very berbicara dengan dirinya sendiri, dering ponselnya pun berbunyi.


"Very, sekarang kamu berada di dekat Desy kan coba tanya Desy dia mau apa?" ucap Herlan bertanya.


"Kita sudah di rumah Tuan, Nona Desy sedang tidur," ucap Very.


"Kamu ke kamarnya dan ketok pintunya, bilang saja Kak Deswey mau bicara," ucap Deswey.


"Baik...," ucap Very gugup.


Very pun menuju kamar Desy, yang mana Desy terlelap dalam tidurnya. Saat ingin mengetok pintu, pintu kamar sudah dibuka. Ponsel tersebut masih dalam keadaan masih video call.


Very pun meletakkan ponselnya di dekat meja dan di sandarkan di lampu meja hias tersebut.


Very pun berusaha membangunkan.


"Nona Desy, segera bangun ada Nyonya Deswey mau bicara," ucap Very berbisik di telinganya.


Desy kegelian dengan bisikan tersebut dia pun berbalik, dan bi*** mereka bertemu kembali. Very memundurkan dirinya dan terkejut atas sikap yang dilakukan Desy.


Desy yang tanpa dosa mengucek matanya dan melihat yang berada di depannya.


Very menunjuk ke arah ponselnya. Desy pun memahaminya.


"Hay, adikku tercinta kakak lagi di sebuah distro nie kamu mau milih pakaian yang mana," ucap Deswey memperlihatkan gaun kepada adiknya.


"Argh sebentar Kak, aku nanya sama Very dulu," ucap Desy melirik ke Very.


Deswey dan Herlan bingung dengan sikap Desy yang malah bertanya ke Very.


"Kamu suka warna apa?" ucap Desy bertanya.


"Suka warna Biru Nona Desy," ucap Very spontan..


"Very good, good idea," ucap Desy mengancungkan jempol.


"Nah Kak Deswey warna biru saja gaunnya, terus high heels kakak saja yang pilih karena tahu kan aku suka yang mana," ucap Desy tersenyum kecil.


"Oke-oke, kalau begitu kakak tutup dulu ya sayang, mau bayar di kasir nie," ucap Deswey langsung menutup video call tersebut.


Desy pun memberikan ponsel Very dan dia pun kembali ke tidur. Very hanya bingung dengan sikap Desy yang menanyakan gaun tadi, namun dia tidak berani bertanya. Very pun pergi dari kamar tersebut dan menutup pintu kamar Desy.


🍁💐💐💐🍁