Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 15


Herlan pun masuk lagi ke kamar mandi.


"Kenapa kamu teriak sih sayang? apa yang kamu lihat?" ucap Nyonya Geby melihat seluruh isi ruangan, bahkan Tuan Herley bergerak dengan cepat mencari sesuatu yang diteriakin putrinya.


Deswey hanya tersenyum malu dan berkata "Hehe nggak ada kok Ma, Pa tadi Deswey hanya terkejut saja," ucap Deswey sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Ih apaan sih Herlan, keluar dengan tidak mengenakan pakaiannya, aku kan belum jadi istrinya, mana pulak tubuhnya seksi gitu makin terpesona aku," ucap Deswey senyum malu-malu.


Di dalam kamar mandi.


"Ya ampun Tuhan, ini mah mempermalukan diri sendiri, aku lupa kalau Deswey sudah bangun tadi, untung saja dia tidak bilang ke orang tua nya, malu sampai langit ke tujuh deh," ucap Herlan sambil mengenakan pakaiannya dan keluar setelahnya.


"Nyonya Geby dan Tuan Herley, maaf menunggu lama," ucap Herlan berbicara mendekati keduanya.


"Tidak apa-apa Herlan, Tante dengan om pulang dulu ya, ingat kalian jaga kesehatan besok kalian sudah menikah," ucap Nyonya Geby.


"Baik Nyonya Geby, terima kasih. Begitupun nyonya Geby dan Tuan Herley jaga kesehatan," ucap Herlan.


Tuan Herley pun mendekati Herlan " Saya kan sudah katakan panggil kita Mama Geby dan Papa Herley, kamu sudah bagian dari keluarga kami Herlan ucap Tuan Herley sambil mengusap punggung calon mantunya.


"Baik Papa Herley," ucap Herlan.


Semuanya pun tertawa terbahak-bahak atas tingkah manis yang diucapkan Tuan Herley dan Herlan. Papa dan Mama nya Deswey pun beranjak meninggalkan kamar tempat Deswey di rawat.


"*Kamu sudah makan sayang?" ucap Herlan berbicara sambil memakan buah yang sudah di potong.


"Sudah tadi, makan bersama mama dan papa, eits sejak kapan kamu manggil aku sayang," ucap Deswey sambil mengunyah buahnya.


Herlan pun tersenyum dan berkata "kita akan menjadi suami istri, jadi kamu harus terbiasa dengan ucapan itu atau kamu belum pernah yaa mendengar kata sayang dari seseorang untuk mu," ucap Herlan berbicara.


Tiba-tiba ekspresi Deswey berubah 180 derajat, melihat hal itu Herlan berhenti memakan buahnya dan duduk di samping Deswey.


"aku salah bicara yaa, maaf jika itu melukai hati kamu," ucap Herlan memegang pundak Deswey.


"Tidak apa-apa, aku akan memulai cerita tentang ku, karena kamu akan jadi Suamiku meskipun pernikahan ini terpaksa," ucap Deswey.


Beberapa tahun sil, masa lalu Deswey.


Masa-masa Sekolah Menengah, masa bahagia bagi sebagian orang tanpa terkecuali Deswey. Deswey wanita cantik, pintar dan populer di sekolahnya, bahkan banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya namun berakhr dengan penolakan hingga suatu ketika seorang laki-laki bernama Edward yang populer dengan prestasi olahraga yaitu basket menembak Deswey dengan cara berbeda, sehingga Deswey menerima pernyataan cinta Edward.


Keduanya seperti pasangan lainnya, namun beda nya Deswey dan Edward banyak membicarakan persoalan prestasi sehingga bagi orang lain keduanya pasangan yang sangat serasi. Keduanya selalu dinobatkan sebagai pasangan yang fenomenal di masa itu. Edward laki-laki yang berparaskan blasteran Inggris-Indonesia dengan tinggi 178 cm dengan kulit putih kekuningan sungguh menarik perhatian semua wanita terhadap nya.


Hingga perjalanan mereka sudah mencapai satu tahun lebih dan mereka sama-sama duduk di kelas 3 ujian nasional masa itu. Keduanya sibuk mempersiapkan ujian sekolah, sehingga komunikasi di antara keduanya sempat renggang.


Hingga ujian selesai dan menunggu hasil, keduanya masih sibuk dengan dunia masing-masing. Hingga Edward mengatakan putus kepada Deswey dengan alasan dia sudah berubah tidak seperti Deswey yang dia kenal dulu. Hingga beberapa hari Deswey mengetahui alasan Edward sebenarnya jika dia harus kembali ke Inggris untuk pengobatan. Deswey terus mencari kontak Edward hingga nihil tidak ada yang tahu.


Karena hal itu lah Deswey tidak mempercayai perkataan laki-laki ketika menjalin sebuah hubungan, hubungan itu dilandasi rasa kepercayaan dan komunikasi. Jika keduanya berjalan maka hubungan itu akan langgeng. Sejak itu Deswey anti Pati dengan jenis laki-laki manapun, dia hanya menganggap semuanya teman tanpa ada spesial pun. Meskipun hingga sekarang masih ada yang mendekati Deswey, namun Deswey hanya mengganggap teman tidak lebih.


Mendengar pernyataan itu Herlan memeluk Deswey dan mengambil tisu tersebut untuk diberikan kepada Deswey.


"Jadi, apakah sampai sekarang kamu mengetahui keberadaan Edward?" ucap Herlan penasaran.


"Saya tidak mencari tahu sejak dia memutuskan hubungan itu, meskipun seskali aku pernah ke Inggris, tidak sekalipun aku mencarinya meskipun bagi ku mudah tapi aku sudah lama melupakannya, bagi ku dia hanya bagian dari masa lalu," ucap Deswey sambil mengusap air matanya yang terjatuh.


Herlan pun melepas pelukannya, karena dering ponsel kembali berbunyi.


"Oke persiapkan saja satu jam lagi kita rapat," ucap Herlan pada sekretarisnya.


"Herlan, aku pergi mandi dulu yaa," ucap Deswey berusaha bangun dari tempat tidurnya.


"Ehm kamu lupa yaa, aku papah yaa sampai ke kamar mandi nya, di sana sudah disiapkan kursi kecil kalau ada apa-apa panggil aku yaa," ucap Herlan.


Herlan pun memapah Deswey sampai ke kamar mandi.


"Herlan, tolong ambilkan handuk dan pakaian ku di atas meja tadi lupa," ucap Deswey.


"Sayang, kalau kamu sudah selesai nanti aku berikan ya, nanti basah kalau di masukan di kamar mandi kamu kan masih sakit," ucap Herlan teriak dari luar kamar mandi.


"Baiklah" ucap Deswey dalam suara lirihya.


Deswey pun selesai dari mandinya.


"Herlan tolong ambilkan handuk dan pakaian ku," ucap Deswey teriak.


"iyaa tunggu," ucap Herlan.


"Yaa ampun malu bener di denger oleh karyawanmu," ucap Herlan sambil memberi kode kepada sekretaris nya melanjutkan presentasi selanjutnya.


Seisi kantor yang mengikuti meeting tersebut mulai bergemuruh dihati masing-masing


"Waah Tuan Herlan yang arogan, galak dan pemarah itu selembut itu dengan Nona Deswey," ucap karyawan tersebut dalam hatinya.


Herlan pun menuju ke depan kamar mandi. Dan memberi kan pakaian serta handuk untuk Deswey.


"Thanks yaa Herlan," ucap Deswey dalam kamar mandi.


Herlan pun melanjutkan meetingnya. Lalu keluar lah Deswey dari kamar mandi, dan Herlan mematikan suara di meeting tersebut agar pembicaraannya dengan Deswey tidak di dengar siapapun.


"Kamu sedang meeting Herlan," ucap Deswey.


"Iya sayang, sedang meeting kamu istirahatlah dulu ya nanti kita berjalan ke taman rumah sakit untuk belajar jalan," ucap Herlan.


Deswey hanya mengangguk ketika Herlan berkata begitu. Hanya Herlan yang bisa dipercaya karena dokter serta orang tua nya menyerahkan tanggung jawab penyembuhan kepada Herlan sehingga Deswey hanya mengikuti nya saja.


Meeting pun selesai tepat pukul 10.00. Deswey yang tengah asyik melihat ponselnya tidak mengetahui buah yang di tangannya sudah habis. Dan dia pun menyadarinya...


"Kok bisa, buah nya habis tadi masih banyak," ucap Deswey berpikir sambil mengernyitkan alisnya. Pandangannya mulai terarah di mulut Herlan..


"Heeeerlan!!! kamu yang menghabiskan buah yang ku makan yaa," ucap Deswey kesal.


"Sorry sayang, habisnya aku dari tadi memanggilmu tapi tidak mendengar," ucap Herlan.


Keduanya pun tertawa bersamaan, bahkan gurauan mereka hampir membuat keduanya jatuh ke bawah ranjang. Namun, Herlan dengan sigap menahan Deswey agar tidak terjatuh. Keduanya pun malu-malu dengan muka yang memerah seperti tomat yang baru di petik.


🍁💐💐💐🍁