
Matahari menampakkan sinarnya yang begitu terang. Wajah-wajah keceriaan terpancar dari kebahagiaan suasana khidmat nan sakral. Dekorasi pelaminan yang begitu cantik dan menawan menambah kekaguman mereka pada sosok sepasang pengantin hari itu.
"Herlan, bantu aku kaitkan bagian belakang," ucap Deswey.
Herlan pun membantuk kaitan tersebut dengan mata tertutup.
"Deswey tersenyum dengan tingkah suaminya yang menutup mata, sudah belum sih?" ucap Deswey mendengus kesal dengan senyuman.
"Sudah sayang," ucap Herlan.
"Oke thanks," ucap Deswey.
Deswey meminta bantuan tersebut bukan tanpa alasan karena orang tuanya curi dengar di luar, telinga mafia sudah berjalan sehingga dia sangat tahu gerak-gerik depan pintu tersebut.
"Herlan, kamu duluan lah nanti saya di papah oleh Desy adik saya," ucap Deswey.
Benar saja tiba-tiba pintu terbuka padahal Herlan belum membuka pintu tersebut.
"Eeh Kak Ipar dan mba Deswey, permisi Kakak Ipar saya ingin menemui mba Deswey," ucap Desy cengengesan.
"Iya silahkan," ucap Herlan tanpa memandang wajah Desy.
"Kak suami kamu handsome banget, Carikan aku dong," ucap Desy memelas.
"Cowok kamu dikemanain" ucap Deswey.
"Aku sudah putus lagi dengan cowok ku mba," ucap Desy.
"Apaaa?" ucap Deswey.
"Hehe, sudah nanti saja mikirkan adikmu yang banyak mantan ini, sekarang kita menuju tempat pelaminan karena akad nikah kakak akan diucapkan," ucap Desy sambil memapah mba nya.
Desy terpanah pada sosok polos dan lagu namun tampan, yang selalu dekat di sisi Kakak iparnya.
"Siapa laki-laki itu, aku harus mendapatkan nya," ucap Desy dengan senyumannya.
Desy ingin mengincar laki-laki tapi di tarik olehnya dan berkata :
"Adikku tersayang apakah kamu tertarik dengan laki-laki yang arah jam 9," ucap Deswey berbisik keadiknya.
"Iyaa mba, ganteng badannya tegap mana juga kekar kayaknya," ucap Desy mulai matanya berbinar.
"Nanti mba kenalkan, tapi sekarang fokus dulu jadi pendamping mba," ucap Deswey mencubit pinggang adiknya.
"Aww, iya mba ku cerewet," ucap Desy mendengus kesal dengan bibir di monyongin.
Desy tidak mengetahui bahwa Veri mengamati tingkah nya sedari tadi, selain Veri sekretaris Herlan dia berperan sebagai pengawal Herlan dan Nona Deswey sehingga semua tingkah yang berdampingan dengan Tuan Herlan dan Nona Deswey menjadi perhatiannya, hingga dia bergumam dalam dirinya.
"Siapakah wanita di samping Nona Deswey, sikapnya manja sekali sehingga aku ingin berbicara... uftz jangan berpikir tidak-tidak mana mungkin punya kesempatan mendekati cewek kerjaan ku adalah sekretaris dan pengawal Tuan Herlan yang arogan," gumam Veri menghela nafasnya.
Akad nikah pun berjalan dengan khidmat. Semua hadirin berteriak kesenangan karena moment sakral pernikahan tersebut. Setelah selesai pun Herlan dan Deswey berdiri di atas panggung...
"Baik, terima kasih kepada Mertuaku dan Mama Heva serta para hadirin yang menghadiri pernikahan kami silahkan menikmati makanan yang sudah tersaji," ucap Herlan.
Herlan pun menarik tangan Deswey untuk melempar bunga, namun mata Deswey dan telinganya tidak di dengarnya. Herlan pun jahil dan menggigit telinga istrinya.
"Awww, sakiit Herlan..."
Semua mata terbelalak dengan teriakan tersebut.
"Sorry teman-teman, istriku akan melempar bunga nya jadi para jomblo silahkan bersiap," ucap Herlan.
Deswey malu bukan kepalang dan berkata :
"Aku lapar Herlan, kenapa kamu menggingitku dan menyuruhku melempar bunga sih?" ucap Deswey kesal.
"Setelah ritual ini kita makan sayang, semua mata melihat ke kamu loe, ayoo lempar bunga nya saya atau kamu mau aku gigit lagi," ucap Herlan berbisik dan menahan tawanya karena sikap unik istrinya yang kelaparan.
Deswey pun melempar bunga tersebut setelah selesai Deswey ke meja tempat duduk mereka. Herlan mencari Deswey terkejut istrinya sudah berada di tempat yang sudah disediakan.
"Waah elo keren Very mendapatkan bunga nya," ucap teman Very sambil menepuk pundaknya.
Dari arah berlawanan datanglah Desy dengan kesal mengomel sendiri, tanpa dilihatnya mereka berdua pun tabrakan.
brukkkk...bruuukk...
Veri pun menarik tangan Desy secara repleks hingga keduanya berpelukan dan saling memandang satu sama lain cukup lama.
"Oh Tuhan, laki-laki yang dari tadi ku idamkan ada di depan mata, mau kenalan tapi gengsi, mau jaim nanti nggak ada kesempatan lagi," gumam Desy memandang Very tanpa berkedip.
Desy pun langsung berdiri dengan tegap. Dia pun pergi malu-malu.
"Argh, gue cewek gengsian bisa malu-malu, harga diri gue di letakkan dimana," gumam Desy.
"Hey Istriku, sepertinya adikmu dengan Very cocok Thu bagaimana kalau kita jodoh kan," ucap Herlan dengan senyum menyeringai.
"Argh emang mereka cocok, elo tahu sendiri sih Very pria pendiam tidak banyak bicara, lah adik gue itu cerewet nya minta ampun, emang bisa Very mengimbangin karakter adik gue," ucap Deswey berbisik ke Herlan.
"Gampang lah itu, nanti kita aturan mereka berdua, oke istriku," ucap Herlan.
"Atur saja, lagian Very laki-laki baik yang tidak pernah macam-macam," ucap Deswey.
Desy asyik duduk sendirian sambil mengunyah makanan, datanglah seorang laki-laki yang menggodanya yang sudah lama menginginkan Desy.
"Hey Desy, elo cantik banget dengan gaun itu," ucap Reo.
"Ngapain elo kesin, pergi sana jangan ganggu gue, gue lagi mau sendiri," ucap Desy kesal.
"Hayo lah..." ucap Reo menggoda Desy.
Desy pun memegang tangan Reo dan menjatuhkan Reo begitu saja, Very yang berniat menolong terkagum dengan reaksi Desy yang repleks.
"Eeh denger yaa, gue bukan cewek murahan yang bisa elo sentuh semau loe," ucap Desy mendengus kesal.
"Hey Desy, wajar saja jika tidak ada pria yang bisa tahan dengan kamu, di sentuh saja kamu melawan apa lagi melakukan lagi," ucap Reo dengan mulut kasar.
Desy kesal mendengar itu namun Very datang dan meninju Reo yang setengah berdiri dan terjatuh kembali
Bruukkk.......
"Sorry tangan gue lagi pegal tadi," ucap Very memanggil pengawal Herlan untuk mengusir Reo.
Reo mendengus kesal dengan sikap laki-laki yang meninju nya.
Desy pergi begitu saja tanpa terima kasih kepada Very. Very mengejar Desy karena ingin minta maaf.
"Maaf Nona, bisa kah kita bicara sebentar," teriak Very.
"Iyaa ada apa? elo mau marahi gue karena ninju cowok itu atau karena gue lupa bilang terima kasih, baiklah gue katakan terima kasih," ucap Desy kesal karena di ganggu.
"Bukan itu, bisa kah kita duduk sebentar," ucap Very sambil tersenyum.
Desy dan Very duduk di kursi yang panjang keduanya berjarak, Desy tidak berbicara dia memilih diam karena kesal diganggu me time nya.
"Saya ingin minta maaf karena perlakuan gue tadi," ucap Very.
"Perlakuan yang mana!" ucap Desy mengernyitkan keningnya.
"Tadi pas tabrakan, apakah tangan terluka karena saya lihat tanganmu seperti sakit terjepit makanya aku memgejarmu sampai kesini," ucap Very.
"Ohw itu, iya sih tapi bukan karena kamu kok, lagian anggap saja impas karena kamu sudah meninju Reo laki-laki bang***," ucap Desy ngedumel.
"Emang siapa laki-laki itu," ucap Very penasaran.
"Hanya seorang teman di kampus dia tengah mengejar aku yang aku denger mereka tengah taruhan mendapatkan Lebel pacaran dengan ku karena papa tidak mengijinkan buat saya pacaran, yaa hanya mengikuti kemauan papa saja, jadi selama study berkutat dengan buku-buku," ucap Desy panjang lebar.
Saat Very ingin meminta nomor ponsel Desy, dering ponselnya berbunyi.
*drrtttt..... drrrrrrtttt....
"Baik bos, saya segera kesana," ucap Very.
"Nona, maaf yaa saya pamit duluan ada urusan, semoga nona baik-baik saja," ucap Very berlari pelan.
"Padahal tadi gue senang bertemu dengan laki-laki tapi karena mood ku nggak baik jadi nya nggak jadi minta nomor hp nya, uuuh kesalnya," ucap Desy.
Pesta pernikahan pun selesai, seluruh tamu undangan pulang satu persatu. Namun, ada yang mengejutkan bagi Herlan. Kedatangan seseorang yang sangat dinantinya.
Wanita tersebut pun menemuinya..l
"Selamat yaa Herlan atas pernikahannya," ucap wanita tersebut.
Herlan bingung mengekspresikan dirinya saat itu. Sedangkan Deswey memandangan keduanya dari kejauhan.
🍁💐💐💐🍁*