
Deswey pun masih berdiri memandang Herlan yang tengah marah dengan dirinya sendiri. Saat dia berbalik, dia terkejut istrinya berada di depan pintu.
"Istriku, silahkan duduk, keperluan apa yang membuat mu datang ke sini?" ucap Herlan bertanya.
"Aku bawa makanan buat suamiku, aku memasak sendiri, jika kamu masih marah, aku pergi saja," ucap Deswey berbicara seadanya.
"Maaf ya, aku tidak memperhatikan mu Deswey, apakah ada hal yang mendesak yang ingin kamu katakan? atau kamu mau izin ke Paris, aku sudah mengizinkanmu kok," ucap Herlan berusaha menjawab sebisanya.
"Tidak ada, aku ke sini hanya menemui suami ku saja," ucap Deswey sambil duduk.
Keduanya masih terdiam satu sama lain, bahkan lebih tepatnya kedua tidak berbicara dalam beberapa menit, hingga dering ponsel Deswey berbunyi, dan dia permisi dengan Herlan untuk mengangkat panggilan tersebut.
Deswey pun keluar mengangkat telpon tersebut, dan mendapat kabar yang membuatnya tersenyum, setelah selesai dia pun kembali ke ruangan suaminya.
Deswey yang tersenyum sejak memasuki kembali ruangan tersebut membuat Herlan bingung dengan sikap suaminya.
"Deswey, kabar apakah yang membuatmu tersenyum seperti itu?" ucap Herlan bertanya.
"Hapus dulu ingusmu, nanti di lihat karyawanmu, dan cuci muka mu dulu nanti aku jelaskan, aku ke ruangan dapur kantor dulu mau membuatkan mu minum," ucap Deswey beranjak.
"Tunggu, kamu ngapain ke sana, suruh OB saja, aku mau kamu disini sayang, temani aku," ucap Herlan manja dengan rengekannya.
"Hei Herlan, sejak kapan kamu merengek begini malu tahu di lihat karyawan," ucap Deswey mendekati Herlan.
"Iya ini aku hapus, aku turuti semuanya, tapi kamu janji nggak pergi ke Paris," ucap Herlan merengek.
"Ehm aku pikir dulu ya, ohya suamiku kenapa kamu memarahi Very tadi, sampai adikku Desy yang tidak pernah marah sama orang malah marah sama kamu," ucap Deswey penasaran.
"Baik aku akan bicara alasanny, tapi Istriku kamu mau makan apa dan minum apa?" ucap Herlan bertanya.
"Kamu kan tahu selera ku, jadi cemilan saja dan cappucino saja Herlan," ucap Deswey duduk di atas sofa.
Herlan pun menyuruh OB nya, datang ke ruangannya 10 menit lagi, karena muka ny belum berubah menjadi ceria. Setelah Herlan permisi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Terasa segar bagi Herlan setelah melakukannya.
"Punya istri seperti Deswey memang bisa membolak balikkan hatiku yang es batu ini, padahal Deswey bukan tipe ku, jika dia jauh aku tidak ingin dia pergi, tapi jika dekat aku selalu cuek padanya," gumam Herlan dalam hati.
Deswey bingung dengan suaminya yang sudah lebih 10 menit dari kamar mandi, bahkan OB yang mengantarkan makanan sudah datang. Saat Deswey ingin mengetok pintu, suaminya pun keluar kamar mandi, keduanya saling berhadapan dekat satu sama lain.
Herlan yang tinggi 180 cm, sedangkan istrinya 168 cm hanya berdiri tegap tanpa bergerak. Keduanya kaku dan terdiam untuk sesaat.
Deswey pun hendak mundur, tapi hampir saja terjatuh dan di pegang langsung oleh Herlan. Keduanya pun kembali berdiri dengan sempurna.
Setelah adegan tidak terduga tersebut, lagi-lagi keduanya salah tingkah atas sikap keduanya. Hingga suara ponsel Herlan membuyarkan segalanya.
"Hallo Abang ipar, nanti jangan bicara, untung calon suami ku tidak apa-apa, kata dokter jika tidak segera bisa-bisa lukanya akan tidak terobati, beberapa hari ini ke Very calon suami minta cuti," ucap Desy ketus.
"Argh, tidak perlu bos saya akan tetap kerja jangan dengarkan kata Desy," ucap Very mengatakan kepada Herlan.
Deswey pun muncul mendekati Herlan dengan sedang video call dengan keduanya.
"Hallo Very dan adik ku tersayang, maaf yaa suami Kak Deswey sedang sakit, kakak mewakilkan Very di beri izin untuk istirahat, hal itu tanpa cuti di hitung pas nanti nikah, jadi Desy ku yang cantik, maafin yaa suami Kak Deswey," ucap Deswey bicara lembut pada adiknya.
"Baiklah, aku maafin Abang ipar karena kakak ku yang cantik meminta, jadi calon suamiku kamu mau kan cuti, ini untuk kesehatan mu," ucap Desy.
"Yaa sudah, lanjutkan istirahat nya Very yaa, Kakak Deswey mau bicara dengan Abang iparmu ya Desy," ucap Deswey membujuk.
Very hanya manut saja dengan sikap Desy, bagaimana tidak dia sangat mencintai gadis yang baru di kenalnya ini. Karena dia tidak pernah mendapatkan cinta yang full dari seorang wanita, sehingga apapun yang dikatakan calon istri nya selama tidak keluar jalur dia patuhi saja.
****
Deswey pun kembali ke tempat duduk, dan Herlan masih saja terdiam.
"Hayoo suami ku kita makan dulu yaa," ucap Deswey mencairkan suasana.
Herlan pun mendekat dan memakan, makanan yang sudah tersaji.
Beberapa menit kemudian, keheningan masih saja terjadi, dering ponsel Deswey kembali berbunyi.
📞" Ya Hallo, bagaimana?" ucap Deswey.
📞"Oke baiklah, saya akan segera ke sana dalam waktu 30 menit yaa," ucap Deswey.
Deswey pun menutup panggilan tersebut, dan memohon pamit pada suaminya.
"Herlan, saya permisi ada rapat mendadak ya, ohya Herlan, jaga emosi kamu ya, jika ada masalah denganku, langsung saja katakan, jangan di pendam, apalagi melimpahkan emosimu ke orang lain, okey," ucap Deswey mengambil tas nya dan pergi.
"Tunggu Deswey, apakah terlihat di wajah ku jika aku memiliki problem," ucap Herlan bertanya.
"Ehm terlihat banget, sepertinya kamu tidak membaca dengan baik CV ku, aku pernah kuliah jurusan psikologi, jadi aku tahu beberapa kepribadian, aku pergi dulu yaa suamiku," ucap Deswey melambaikan tangan nya.
Herlan pun tertunduk lesu, atas perkataan istrinya.
"Argh, aku suami macam apa sih?" ucap Herlan mendengus kesal.
Di tempat lain.
"Desy, aku bisa melakukan nya sendiri," ucap Very.
"Huus, diam deh jangan ikut campur yang aku lakukan, kalau kamu melarang aku lagi, ke depannya aku tidak akan memperdulikan mu lagi meskipun kamu nanti suamiku," ucap Desy mengancam.
Very pun langsung terdiam dan dia pun memainkan ponselnya.
"Calon istriku galak banget yaa, melebihi apapun deh," ucap Very dalam hati.
Desy pun menyadari kesalahannya, dia pun mendatangi Very.
Very terkejut dengan kedatangan Desy.
"Kalau kamu tidak suka perhatian ku, maka aku akan pergi, dan maaf sudah mengancam mu, aku hanya menunjukkan kepedulian terhadap calon suami ku saja," ucap Desy merunduk.
"Maaf yaa Desy, kamu jangan marah, aku hanya butuh istirahat saja," ucap Very.
"Baiklah aku akan pergi, jika perlu apa-apa katakan saja," ucap Desy pergi meninggalkan rumah Very dengan berat hati.
Very bingung dengan sikapnya, akan tetapi saat ini dia hanya perlu istirahat.
🍁🍁🍁🍁🍁