Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 16


Keduanya pun beradu pandangan hanya beberapa menit. Dan menjaga jarak setelahnya.


"Hayoo sayang, kita ke taman Rumah Sakit yaa kita cari udara segar disana,"ucap Herlan mengendong istrinya untuk duduk di kursi roda.


"Terima kasih ya Herlan," ucap Deswey.


"Deswey!" ucap Herlan.


"Aapa?" ucap Deswey.


"Susah yaa mengeluarkan kata sayang untukku dari mulutmu," ucap Herlan.


Deswey pun tersenyum dengan ucapan lelaki yang sekarang mulai dicintainya.


"Ohya Deswey, hari ini kita fitting yaa, kamu mau kan nanti aku gendong kamu disana," ucap Herlan.


"Taapi, apa kata orang kamu menikahi dengan cewek yang kakinya belum bisa berjalan," ucap Deswey.


"Maka dari itu sayang, kita belajar sekarang lagian aku tidak malu kok, kamu kan jadi istri ku siapapun yang bersikap buruk padaku sama saja dengan menginjak aku," ucap Herlan sambil memegang tangan Deswey untuk belajar jalan.


Herlan pun membantu Deswey berjalan. Deswey jatuh berkali-kali, sekian kalinya Herlan membantunya. Deswey berdecag dalam hatinya.


"Jangan sampai aku jatuh cinta dengan Herlan, bisa hilang dunia kebebasan ku," gumam Deswey dalam hati


Lain hal nya dengan Herlan.


"Seperti inikah memperlakukan seorang wanita dengan baik, aku benar-benar menantikan seseorang yang menghadirkan kelembutan," ucap Herlan dalam hati.


Keduanya terhenti lamunannya, ketika pintu kamar pasien diketok dari luar yang ternyata Nyonya Heva menjenguk Deswey.


"Bagaimana kabar kamu sayang?" ucap Mama Heva sambil mencium Deswey dan memapahnya kembali ke tempat tidur.


"Kabarku sudah lebih baik Ma, tadi belajar berjalan dengan Herlan," ucap Deswey.


"Oh baguslah kalau begitu, apakah kalian sudah fitting ," ucap Nyonya Heva.


"Nanti sore kami kesana Ma, sudah janjian dengan butik," ucap Herlan.


"Apakah perlu mama membantu kalian," ucap Nyonya Heva.


"Tak perlu ma, kami bisa melakukan nya terima kasih atas kebaikan mama," ucap Herlan.


Dering ponsel Nyonya Heva pun berbunyi.


"Ya Hallo, baiklah saya akan kesana," ucap nyonya Heva kepada sekretaris nya.


"Herlan dan Deswey, mama ke kantor lagi, kalian berdua jaga kesehatan yaa, besok hari pernikahan kalian," ucap Nyonya Heva.


Keduanya pun hanya mengangguk saja atas pesan dari Nyonya Heva.


Sore pun tiba.


Herlan dan Deswey berangkat menuju butik untuk fitting pakaian pengantin.


Herlan pun memopong Deswey, sebenarnya tidak ingin menyusahkan Herlan namun apa boleh buat, nanti dikira aneh kalau calon istri malah dibantu orang lain begitu pikir Deswey.


Setelah selesai keduanya kembali ke Rumah Sakit.


"Kok, sepertinya ada yang mengikuti dari tadi yaa sejak di butik atau firasatku saja ehm mungkin mata-mata papa," ucap Deswey dalam hati.


Melihat Deswey melamun seperti sedang memikirkan sesuatu Herlan pun bertanya.


Deswey pun terperanjat dengan tepukan Herlan.


"Herlan aku merasa ada yang memperhatikan kita sejak di butik, sayang perketat keamanan rumah sakit cepat hubungi pengawal kamu," ucap Deswey meronta-ronta.


"Sudah sayang, mereka selalu berjaga-jaga bahkan anak buah papamu juga berjaga-jaga diluar rumah sakit, sebenarnya kamu mengkhawatirkan apa sih," ucap Herlan penasaran.


'"Aku mengkhawatirkan mu lah, kamu laki-laki tapi tidak terlalu pandai bela diri, jadi aku yang jadi tameng kamu dong," ucap Deswey kepada Herlan.


"Nggak boleh gitu, kamu perempuan masa aku harus penjagaan dari seorang wanita, malu sayang di mana harga diri ku," ucap Herlan.


Deswey hanya tersenyum dengan tingkah Herlan. Namun, pikirannya masih penasaran dengan seseorang yang dianggap sebagai penguntit.


"Kenapa juga sih boa nyuruh kita untuk mengawasi nona Deswey dengan cara seperti ini, entah lah kita hanya mematuhi orang yang menyuruh kita," ucap mata-mata tersebut.


Deswey dan Herlan pun tiba di Rumah Sakit. Dengan malu-malu Deswey pun berbicara dengan Herlan yang tidur di sofa sambil memegang ponselnya.


"Herlan bisakah kamu tidur disampingku, ehm jangan berpikir yang tidak-tidak besok kita akan menikah, aku tidak mau ada apa-apa dengan mu jadi biar aman kamu harus ada di dekatku, setidaknya kami terjangkau dari pengawasan ku," ucap Deswey.


Herlan pun mendekati Deswey dan berkata ;


"Apakah aku selemah itu di mata mu? apakah aku tidak bisa melindungi mu sebagai pasanganmu? dan apakah kamu benar-benar tidak mempercayai kemampuanku yang bisa menjagamu,, harga diri seorang laki-laki itu nomor satu Deswey dan kamu sudah melukai harga diriku," ucap Herlan pergi meninggalkan ruangan itu, Herlan lebih memilih berjaga diluar meskipun udara dingin menyesap pada tubuhnya.


Deswey uang berada di kamar pasien merasa bingung dengan sikap Herlan padahal niatnya hanya melindungi dirinya tanpa melukai harga dirinya sama sekali. Deswey bingung melakukan apapun. Hingga Deswey memberanikan diri untuk berjalan ke depan pintu. Deswey pun memampah dirinya .


"Bruuuuuk"


Deswey terjatuh dengan sangat keras, dia pun berjalan hanya menggunakan tubuhnya. Herlan pun masuk ke dalam namun tidak di dapati ya, malah dia melihat Deswey duduk di lantai sambil menangis. Herlan hanya mengamati pembicaraan Deswey dengan hatinya.


"Benar kata Herlan, bagaimana wanita lumpuh seperti ku bisa melindungi nya sekarang, aku saja belum sembuh masih berlagak melindungi nya, Herlan aku tidak berniat melukai harga dirimu, aku hanya terbiasa melindungi orang lain daripada melindungi diri sendiri, aku minta maaf ," ucap Deswey dalam tangisannya.


Herlan pun menggendongnya tanpa mengeluarkan kata-kata. Deswey yang melihat itu terkejut sejak kapan Herlan masuk ke dalam. Padahal tadi tidak ada orang sama sekali. Deswey pun menghapus air matanya.


"Sejak kapan kamu masuk aku tidak melihatnya tadi," ucap Deswey.


Herlan pun duduk dipinggiran ranjang dan menghapus air mata Deswey.


"Aku dari tadi sejak kamu menyalahkan dirimu dan merasa bersalah tidak bisa melindungi ku," ucap Herlan.


"Apaaa?? jadi kamu mendengar semua nya," ucap Deswey dengan muka malu-malu.


"Deswey dengerin aku, apapun status kita nanti nikah kontrak atau apalah? kamu itu statusnya istri ku, jadi berikan hak ku untuk melindungi dan menjaga mu, dan hal lain bela diri saya sudah mendaftarkan diri sesuai rekomendasi kamu, jadi kamu tak perlu khawatir dengan diriku," ucap Herlan panjang lebar.


Deswey hanya mengangguk perkataan Herlan benar-benar membuatnya terdiam. Saat mereka tengah asyik berbincang.


"Permisi tuan Herlan, ada titipan makanan dari Nyonya Heva" ucap seseorang dari luar.


"Silahkan bawa masuk ke dalam," ucap Herlan.


Penjaga nya pun masuk ke ruangan tersebut dan memberikan makanan untuk keduanya.


"Terima kasih yaa," ucap Herlan.


"Sama-sama Tuan" ucap penjaga tersebut.


"Tangan kamu masih bisa buat makan kan hayoo kita makan," ucap Herlan menyajikan makan di atas tempat tidurnya Deswey.


Keduanya pun melahap masakan mama Heva. Mama Heva sangat hobi memasak apalagi Herlan jarang sekali memakan makanan dari luar, karena masakan mama nya lebih enak dari siapapun.


🍁💐💐💐🍁