
Sementara itu, di Rumah Sakit.
Setelah hampir satu minggu Arga tak sadarkan diri, akhirnya ia bisa menggeliatkan tubuhnya. Perlahan Arga membuka mata kemudian memperhatikan sekeliling ruangan yang bernuansa putih tersebut.
"Mas Arga, kamu sudah sadar?" tanya Mona sembari menghampiri tempat tidur lelaki itu.
"Mona?" Arga mencoba bangkit dari posisinya, tetapi tidak bisa.
"Di-di mana aku, Mona?" tanya Arga dengan wajah panik.
"Di Rumah Sakit," jawab Mona singkat dan jelas. Ia mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang terletak di samping ranjang Arga.
"Rumah Sakit?" Arga kembali mengedarkan pandangannya dan sekarang ia sadar bahwa dirinya memang sedang terbaring di sebuah kamar rumah sakit. Terbukti dengan adanya botol infus yang menggantung di samping ranjang serta jarum yang menancap di pergelangan tangannya.
"A-apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Arga dengan bingung dan mulai mengingat-ingat kejadian yang terjadi di hari kecelakaan itu.
"Nella!"
Tiba-tiba Arga teringat akan wanita malam itu. Wanita yang mengaku mengidap penyakit HIV dan sudah menularkan penyakit menjijikkan itu kepadanya. Arga kembali panik, ia ingin menemui wanita itu dan menanyakan hal tersebut sekali lagi. Berharap apa yang dikatakan oleh Nella hanyalah sebuah kebohongan belaka.
"Aku harus menemuinya!" gumam Arga.
Mona mendengus kesal karena di saat-saat seperti ini, Arga masih saja mengingat wanita nakal itu.
"Huft! Nella lagi," gumam Mona sambil memutarkan bola matanya.
Arga bergegas melepaskan jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya. Melihat hal itu, Mona pun panik. Ia mencoba menahan Arga, tetapi lelaki itu tetap keras kepala.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?"
"Aku harus menemui Nella!" jawab Arga dengan tegas.
"Nella lagi! Lihat kondisimu saat ini, Mas! Selama kamu dirawat di sini, ia bahkan tidak pernah menjengukmu sekali pun!" geram Mona.
"Kamu tidak mengerti, Mona. Sebaiknya kamu diam saja!" geram Arga sembari melemparkan jarum dan selang infus tersebut.
Arga menyingkap selimut yang menutupi bagian perut hingga kaki. Ia merasa ada yang aneh pada anggota tubuh bagian bawahnya saat itu. Dan ketika selimut itu terbuka, mata Arga pun terbelalak.
"Ka-kakiku! Mana kakiku?" pekik Arga dengan wajah pucat pasi ketika melihat sebelah kakinya sudah tiada.
Lelaki itu terus berteriak-teriak dan menjerit. Arga tidak terima bahwa ia telah kehilangan sebelah kakinya. Yang artinya sekarang ia cacat dan menjadi lelaki yang tidak sempurna.
"Tenanglah, Mas Arga!" Mona tampak kesal karena lelaki itu menangis seperti bocah yang tidak dituruti kemauannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Mona? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" lirih Arga di sela isak tangisnya.
"Tulang kaki Mas remuk karena terhimpit mobil dan tidak bisa diselamatkan lagi. Dokter terpaksa mengambil tindakan ini untuk menyelamatkan nyawamu, Mas!" jelas Mona.
"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin," ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya. Ia mencoba memungkiri kenyataan pahit itu. Namun, semuanya sudah terjadi. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
Beberapa hari kemudian.
"Bagaimana kondisi suamimu, Nak?" tanya Pak Abdi yang baru saja tiba di Rumah Sakit. Ia menghampiri Mona yang duduk termenung di sebuah kursi yang terletak di depan ruangan.
"Eh, Ayah." Mona tersenyum tipis kemudian mempersilakan Pak Abdi dan Bu Lidia untuk duduk bersamanya.
"Hmmm ...." Pak Abdi menghembuskan napas berat. "Semoga semuanya cepat selesai. Tapi ...."
"Tapi kenapa, Ayah?" Mona menatap Pak Abdi dengan wajah heran.
"Dengan kondisinya saat ini, apakah dia masih bisa bekerja sama seperti dulu? Selain itu, mungkinkah pihak perusahaan akan tetap memperkerjakan dirinya?" lanjut Pak Abdi dengan wajah cemas menatap Mona.
Sebagai seorang Ayah, tentu saja Pak Abi mengkhawatirkan bagaimana nasib Mona ke depannya. Apalagi saat ini Mona sedang mengandung dan membutuhkan banyak uang. Sementara Arga sudah tidak bisa diharapkan lagi.
"Aku juga memikirkan hal itu, Yah. Tapi, biar bagaimanapun aku masih sayang sama Mas Arga. Semoga saja setelah ini ada jalan keluar untuk semua masalah yang sedang kami hadapi ini," jawab Mona.
Tepat di saat itu, seorang perawat tiba dan menghampiri mereka. Perawat itu tersenyum lalu berkata kepada Mona.
"Mbak Mona?"
"Ya."
"Dokter ingin bicara dengan Anda. Ini tentang kondisi suami Anda," lanjut perawat itu.
Mona pun mengangguk pelan kemudian bangkit dari posisinya.
"Sebentar ya, Yah, Bu."
"Ya," sahut Pak Abdi dan Bu Lidia secara bersamaan.
Mona segera mengikuti langkah perawat itu yang kini menuntunnya menuju ruangan dokter. Setibanya di sana, Mona segera masuk dan duduk di depan meja dokter tersebut.
"Ada apa ya, Dok?" tanya Mona sambil menautkan kedua alisnya heran.
"Ehm, ini soal suami Anda, Mbak Mona."
"Kenapa lagi, Dok? Apa ada yang harus dioperasi lagi?" tanya Mona yang mulai panik.
Dokter menggelengkan kepalanya pelan. Ia menghela napas berat kemudian menjawab pertanyaan dari Mona. "Tidak, Mbak, bukan itu. Namun, ini jauh lebih penting. Ini soal penyakit yang sedang diderita oleh Pak Arga."
"Penyakit? Penyakit apa lagi?" Mona makin penasaran.
"Pak Arga positif mengidap HIV."
"HIV?" pekik Mona dengan mata membulat sempurna. Namun, ia tidak menampik hal itu. Secara ia tahu bagaimana pergaulan Arga di belakangnya.
"Itulah sebabnya kenapa kami meletakkan Pak Arga di ruangan yang berbeda dari pasien lainnya. Sebenarnya kami ingin menyampaikan hal ini langsung kepada Pak Arga. Namun, sayang kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan," jelas Dokter.
Melihat Mona yang tampak shok, Dokter pun mencoba menenangkannya.
"Sebenarnya HIV bisa menjangkiti seseorang tanpa berhubungan badan, Mbak. Bisa saja Pak Arga terjangkit melalui cara lain ...." Belum habis Dokter menjelaskan hal itu, Mona sudah menyelanya.
"Tidak perlu dijelaskan, Dok. Aku sudah tahu pasti bagaimana cara Mas Arga mendapatkan penyakit menjijikkan itu!" geram Mona sambil terisak.
Dokter terdiam sambil memperhatikan Mona yang kini melenggang pergi meninggalkan ruangannya.
...***...