Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Menikahlah Denganku


"Mulai sekarang belajarlah untuk menangani masalah dapur dengan tanganmu sendiri. Jangan selalu mengandalkan orang lain untuk mengganjal isi perutmu," sahut Arga.


"Seumur-umur aku tidak pernah sekali pun berjibaku di dapur, Mas. Bahkan ibuku saja tidak pernah membiarkan aku bergelut di dapur. Kamu tahu kenapa? Karena aku adalah gadis kesayangan kedua orang tuaku dan di sini kamu malah memperlakukan aku dengan seenak hati," geram Mona di sela isak tangisnya.


"Terserah. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Buang-buang waktu saja!" Arga melirik jam tangannya kemudian melenggang pergi meninggalkan Mona yang masih terisak di dapur, meratapi nasib sialnya.


Tubuh Mona lunglai. Ia jatuh sambil bersandar di salah satu dinding ruangan. Mona memeluk kedua kakinya kemudian membenamkan wajahnya di antara kedua lutut dan kembali terisak di sana.


Selang beberapa menit kemudian.


Mona mengangkat kepala lalu mengusap air mata yang masih membasahi kedua pipinya. "Ok, baiklah! Akan kubuktikan kepadamu, Mas Arga, bahwa aku pun bisa hidup mandiri," ucap Mona, memberi semangat dan keyakinan pada dirinya sendiri.


Ia bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri lemari pendingin, di mana persediaan makanan di rumah itu tersimpan.


"Ok, hari ini kita akan masak apa?" gumam Mona sembari membuka pintu lemari pendingin.


"Apa? Yang benar saja, tidak ada apa-apa di sini?" keluh Mona saat ia melihat tak ada apa pun di dalam lemari pendingin tersebut. Hanya beberapa biji telur dan beberapa bungkus mie instan.


Mona tersenyum sinis dalam kepahitan. "Gila aja! Apa aku harus mengenang masa laluku ketika menjadi seorang mahasiswa yang tinggal di kost-kostan?"


Mona memang pernah menikmati bangku kuliah walaupun hanya beberapa semester saja. Bukan karena keuangan, tetapi karena Mona sendiri lah yang tidak betah dan hanya ingin menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang tanpa beban pelajaran dan apa pun itu.


Berbeda dengan Risa yang memang tidak pernah menikmati masa-masa kuliah. Setelah lulus SMA, kedua orang tua angkatnya tidak mengizinkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah. Dengan terpaksa, Risa pun memilih bekerja dan tidak lama setelah itu ia pun menikah dengan Arga atas kehendak kedua orang tua angkatnya pula.


***


Dengan cekatan, Mona menghidupkan kompor kemudian mulai memasak telur serta mie instan yang ia dapatkan di dalam lemari pendingin. Karena rasa lapar yang sudah tak terbendung, mie instan serta telur ceplok yang ia masak barusan pun ludes masuk ke dalam perutnya yang keroncongan.


"Ah! Akhirnya aku kenyang juga," gumam Mona sambil mengelus perutnya yang sudah kenyang.


Jika di rumah Mona hanya memakan makanan apa adanya. Berbanding terbalik dengan Arga yang sedang berada di tempat kerjanya. Lelaki itu malah bersenang-senang bersama salah seorang selirnya. Menikmati berbagai masakan enak yang sengaja ia pesan melalui sebuah aplikasi berwarna hijau.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu menyukainya?"


"Tentu saja, Mas. Semua makanan yang Mas berikan kepadaku, mana ada sih yang gak enak. Semuanya selalu enak dan aku pasti ketagihan," jawab wanita itu sambil tersenyum semringah.


"Sama seperti kamu ketagihan juniorku, 'kan?" celetuk Arga sambil mencolek wajah cantik kekasihnya itu.


"Ah, Mas bisa aja!" balasnya dengan manja.


Sementara itu di tempat lain.


"Ayden?" Oma tersenyum melihat kedatangan Ayden yang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu dari lelaki tampan itu.


"Di mana Risa?" tanya Ayden tanpa berbasa-basi.


"Di dalam kamarnya, jemput Lily yang baru bangun dari tidurnya," jawab Oma.


"Bolehkah aku menemuinya?" tanya Ayden walaupun tampak ragu-ragu.


Oma Hana kembali tersenyum kemudian menepuk pundak Ayden dengan lembut. "Oma sudah mengetahui semuanya dari Rachel. Temuilah dia, minta kepastian darinya. Dan soal mommy-mu, kamu tidak usah khawatir. Nanti Oma bantu bicara padanya."


Ayden tersenyum lebar setelah mendengar penuturan dari Oma Hana barusan. "Benarkah itu, Oma? Oma bersedia membantu bicara sama mommy?"


Oma Hana mengangguk pelan. "Ya, Oma pasti akan bantu. Tapi sebaiknya kamu selesaikan dulu masalah Risa. Risa belum bercerai secara resmi. Sebaiknya bantu dia mendapatkan surat cerainya."


"Ya, Oma benar. Aku ke sini memang ingin membicarakan masalah itu kepada Risa."


"Temuilah dia," balas Oma lagi.


Ayden pun segera pamit lalu menuju kamar Risa. Di mana wanita itu tengah asik menggantikan popok Lily yang sudah penuh.


Tok ... tok ... tok!


Risa sontak menoleh setelah mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Kebetulan saat itu pintu kamarnya tidak tertutup dengan sempurna hingga ia bisa melihat siapa yang sedang berdiri di balik pintu.


"Mas Ayden?"


"Boleh aku masuk?" tanya Ayden ragu-ragu.


Risa terdiam sejenak sambil berpikir. "Tunggulah sebentar lagi, Mas. Biar kita bicara di luar saja," jawab Risa sambil mengelus tengkuknya.


"Ehm, baiklah."


Dengan sabar Ayden menunggu Risa menyelesaikan pekerjaannya, menggantikan popok Lily yang sudah penuh dengan popok yang baru.


Selang beberapa menit kemudian.


Risa keluar kemudian menemui lelaki itu bersama si kecil Lily di pelukannya. "Ada apa ya, Mas?" tanya Risa sambil tersenyum hangat menatap Ayden.


"Sama seperti kemarin, aku masih ingin mendengar jawabanmu soal lamaranku, Ris. Aku ingin menjadi suami untukmu sekaligus menjadi ayah untuk Lily," sahut Ayden sembari mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna keemasan dari dalam sakunya.


Perlahan Ayden membuka kotak perhiasan tersebut kemudian menyodorkannya ke hadapan Risa. "Menikahlah denganku, Ris. Aku berjanji akan bertanggung jawab kepadamu dan juga Lily," ucapnya dengan mantap.


...***...