
"Aku hamil, Mas," ucap Mona sambil tersenyum semringah.
"Apa?!" pekik Arga
Arga menarik tangannya dengan kasar dari perut Mona. Lelaki bertubuh kekar itu segera berdiri di hadapan Mona dengan wajah yang tampak memerah.
"Apa aku tidak salah dengar, Mona? Kamu hamil?" pekik Arga sekali lagi dengan nada suara yang mulai meninggi.
Mona pun ikut bangkit kemudian duduk di tepian ranjang sambil menatap Arga dengan tatapan sendu. "Ya, Mas. Aku hamil."
"Kamu sudah gila, ya! Tidak-tidak! Kamu pasti bohong!" Arga mulai panik.
"Aku serius, Mas. Aku benar-benar hamil. Sebentar ...."
Mona meraih dompetnya kemudian mengambil sebuah test pack bergaris dua yang ia peroleh dari hasil pemeriksaan kemarin. Mona menyerahkan benda mungil itu ke hadapan Arga dengan tangan yang bergetar.
"Lihatlah, Mas. Ini hasil pemeriksaan kemarin."
Arga meraih benda kecil itu dengan kasar kemudian memperhatikannya dengan serius.
"Kamu benar-benar sudah gila, ya!" Arga menggelengkan kepalanya sambil tertawa sinis. "Mana mungkin kamu hamil, sementara aku selalu mengenakan pengaman saat bercinta denganmu. Bahkan kamu sendiri yang memilih dan memasang pengaman itu kepadaku. Seperti ini!"
Arga yang mulai tersulut emosi, mencabut pengaman berduri yang masih menempel di benda berurat miliknya. Ia melemparkan benda itu serta alat test kehamilan ke wajah Mona. Cairan kental yang tertahan di pengaman itu bahkan sampai keluar dan mengenai wajah serta bagian tubuh Mona.
Mona hanya bisa terisak sambil menyeka cairan itu dari wajahnya. "Kenapa Mas Arga tidak percaya? Apa Mas lupa, pertama kali Mas menyentuhku, Mas bahkan tidak mengenakan pengaman apa pun. Sedangkan Mas Arga mengeluarkannya di dalam."
Arga terdiam sambil mengingat-ingat kejadian di malam pertamanya bersama Mona. Di mana ia benar-benar dibakar hawa napsu hingga melupakan hal sepenting itu. Arga tampak frustrasi. Ia duduk di samping Mona sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Ya. Kamu benar. Aku memang lupa memasang pengaman pada malam itu. Tapi, rasanya sangat mustahil jika dalam sekali permainan, kamu bisa langsung hamil. Aku jadi curiga, jangan-jangan anak itu bukan anakku lagi? Kamu dengan sengaja memanfaatkan aku untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan milikku," geram Arga sambil melirik Mona dengan tatapan sinis.
"Mas!" pekik Mona sambil membulatkan matanya.
"Apa!" Arga pun tak mau kalah. "Heh, apa kamu sudah lupa? Kamu itu sudah tidak perawan!"
Mona menggelengkan kepala dengan cepat. Butiran kristal itu kembali merembes di kedua sudut matanya. Apa yang ia khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan. Arga tidak mau mengakui bayi itu sebagai anaknya.
"Mas Arga jahat! Ya, aku memang bukan wanita baik-baik. Aku bukan perawan karena memang pernah melakukan hubungan itu bersama lelaki lain. Namun, sebelum aku datang ke rumah Mas Arga, aku bisa pastikan bahwa aku tidak sedang mengandung!" tegas Mona dengan wajah kesal.
"Mas Arga!" Mona bangkit dan menghampiri lelaki itu.
"Mas Arga! Aku tidak mau tahu, pokoknya Mas harus bertanggung jawab atas anak ini!" geram Mona sembari menarik-narik tangan Arga.
"Enyah kau!" Arga mendorong tubuh Mona dengan kasar hingga terjengkang kembali di atas tempat tidur.
"Apa kamu sudah lupa, Jal*ng! Aku sudah sering tegaskan kepadamu bahwa hubungan kita hanya untuk bersenang-senang dan saling memuaskan. Aku puas dan kamu pun sama! Tidak akan pernah ada hubungan apa pun di antara kita, walaupun kamu hamil!" tegas Arga.
Arga mengenakan kembali pakaian dallam, kemeja serta celananya dengan tergesa-gesa. Ia sudah muak berada di tempat itu bersama Mona dan ini untuk pertama kalinya ia merasa tidak nyaman ketika berada bersama Mona.
"Jika Mas tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan bongkar semua rahasia kita kepada Mbak Risa!" ancam Mona dengan wajah serius menatap Arga yang masih sibuk merapikan pakaiannya.
Ucapan Mona barusan membuat Arga kembali tersulut emosi. Ia mendorong Mona dengan kasar kemudian menindih tubuh molek yang kini terlentang di atas kasur. Tanpa Arga sadari, sebelah tangan kekarnya telah berada di leher gadis itu dan mencekiknya dengan begitu erat.
"Coba saja kalau kamu berani, Jal*ng! Aku pastikan bahwa kamu tidak akan pernah hidup tenang jika berani mengatakan hal itu kepada Risa!"
"Akh, Mas! Le-lepaskan tanganmu! A-aku tidak bisa bernapas!" ucap Mona terbata-bata sambil mencoba melepaskan cekikan Arga di lehernya.
Namun, kekuatan lelaki bertubuh besar itu tidak sebanding dengannya. Ia menggelepar seperti ikan tanpa air dengan mata memelas menatap Arga. Berharap lelaki itu melepaskan cengkeramannya.
Arga melepaskan Mona dan turun dari ranjang. Ia meraih pakaian milik Mona dan melemparkannya ke arah gadis itu dengan begitu kasar.
"Kenakan kembali pakaianmu!" titahnya.
Mona pun bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Ia takut Arga kembali meradang dan menyakitinya seperti tadi. Mona benar-benar syok. Ia tidak percaya bahwa Arga benar-benar mengerikan. Lelaki itu bahkan tidak segan-segan menyakiti dirinya.
"Aku tidak habis pikir kenapa Risa bisa punya adik seperti dirimu. Menjijikkan! Setidaknya Risa lebih baik darimu. Dia masih perawan ketika aku sentuh. Sementara dirimu, heh!" Arga tersenyum miring.
"Entah berapa banyak lelaki yang sudah menggarap lorongmu itu. Menjijikkan," lanjut Arga.
"Dan kau pun sama. Sama-sama menjijikkan karena sudah ikut menggarap lorongku yang sudah digarap oleh banyak orang, Mas!" kesal Mona dengan air mata yang berderai.
"Diam kamu!" bentak Arga dengan mata membulat.
...***...