Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Penjelasan Pak Abdi


Pak Abdi tiba di ruang depan dan Ayden segera menyambut lelaki paruh baya itu sambil tersenyum hangat.


"Pak." Ayden menyapa sembari mengulurkan tangannya.


Pak Abdi memperhatikan Ayden dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, mencoba meyakinkan bahwa lelaki bertubuh besar dan kekar di hadapannya adalah Ayden. Bule kere yang dulu pernah ia tolak kehadirannya.


"Ayden?"


"Ya, Pak Abdi. Saya Ayden," jawab lelaki itu.


"Sia-silakan duduk, Nak Ayden."


"Terima kasih, Pak."


Pak Abdi duduk kemudian di susul oleh Bu Lidia yang kini duduk di samping suaminya. Baik dirinya maupun Pak Abdi begitu penasaran akan niat Ayden menemui mereka.


"Lihat penampilannya! Ayden sudah berubah jauh dari Ayden yang dulu kita kenal. Atau ... bisa jadi ia sengaja memperbaiki dirinya agar terlihat lebih baik di hadapan kita," bisik Pak Abdi kepada Bu Lidia.


"Ya, Ayah benar. Tapi aku rasa Ayden memang benar-benar sudah berubah, Yah. Coba saja Ayah intip mobil yang dipakai oleh Ayden ke sini. Mobilnya, mobil mewah, Yah!" balas Bu Lidia.


"Masa sih, Bu?"


"Iya!"


Pak Abdi menghentikan percakapannya bersama Bu Lidia. Sekarang ia fokus pada Ayden dan Risa yang duduk di hadapannya.


"Ehm, jadi ... apa yang membuat kalian datang ke sini, Nak Ayden?" tanya Pak Abdi yang mencoba memulai percakapan mereka.


Ayden melirik Risa. "Sebenarnya begini, Pak ...."


"Ayah, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian dan aku benar-benar minta maaf jika pertanyaanku nanti membuat kalian tersinggung," potong Risa.


"Pertanyaan apa, Risa? Tanyakan saja," sahut Pak Abdi sambil tersenyum hangat.


"Aku ingin tahu di mana orang tua kandungku berada, Yah. Aku ingin kalian jujur, di mana kalian menemukanku sebelumnya," lirih Risa dengan kepala yang mulai tertunduk.


Ayden menggenggam tangan Risa yang terasa sangat dingin dan mencoba memberikan kekuatan untuk wanita itu.


Pak Abdi membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Risa. Begitu pula Bu Lidia, kedua netra wanita itu kini terlihat berkaca-kaca.


"Yah!" Bu Lidia menatap sedih kepada suaminya.


"Risa, kenapa kamu ingin mencari tahu tentang mereka? Apakah kasih sayang yang kami berikan selama ini masih kurang? Biar bagaimanapun kamu tetap anak kami, Ris. Kasih sayang yang kami berikan ke kamu jauh lebih besar dari kasih sayang mereka," tutur Pak Abdi.


Risa mengangkat kepalanya kemudian menatap kedua netra lelaki paruh baya itu dengan seksama.


"Maafkan aku, Yah. Tapi, biar bagaimanapun aku harus tetap mengetahui di mana mereka. Setidaknya aku bisa memastikan kalau mereka baik-baik saja."


Pak Abdi membuang napas panjang. "Sebenarnya kami tidak tahu di mana kedua orang tuamu berada, Ris. Kami juga tidak mengenali siapa mereka," jawab Pak Abdi.


"Maaf menyela, Pak Abdi. Sebenarnya kami saat ini tengah merencanakan hari pernikahan. Dan di hari bahagianya nanti, Risa ingin kedua orang tua kandungnya hadir di pesta pernikahan kami," sela Ayden.


Pak Andi dan Bu Lidia saling lempar pandang untuk sesaat.


"Menikah? Ja-jadi kalian berdua sudah berencana untuk menikah? Kenapa kalian tidak memberitahu kami terlebih dahulu? Walaupun kami hanya orang tua angkat, tetapi kami pantas diberitahu lebih dulu. Biar bagaimanapun kami lah yang sudah membesarkan Risa," pekik Pak Andi dengan wajah kesal menatap pasangan itu.


"Maafkan aku, Pak. Tapi kali ini aku harus mengambil keputusan sendiri. Ini masa depanku dan aku tidak ingin masa depanku terenggut lagi," lirih Risa.


Pak Abdi dan Bu Lidia seketika terdiam. Mereka merasa tertampar setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Risa barusan. Ya, selama ini mereka begitu kejam karena sudah merenggut kebahagiaan Risa demi anak perempuannya mereka, Mona.


"Baiklah kalau begitu. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


"Ayah, Ibu, kalian masih belum mengatakan dari mana aku berasal? Kumohon dengan sangat, aku ingin sekali bertemu dan melihat wajah kedua orang tua kandungku," ucap Risa sekali lagi.


Pak Abdi menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. "Kami mengadopsimu dari sebuah panti asuhan yang bernama Cahaya Asa. Temuilah pengurus panti tersebut, siapa tahu mereka bisa membantu menemukan kedua orang tuamu, Ris," jawab Pak Abdi.


Risa mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia begitu bahagia mendengar jawaban dari Pak Abdi. Walaupun masih belum jelas asal-usulnya, tetapi setidaknya ia sudah punya sedikit harapan.


Risa bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Pak Abdi dan Bu Lidia. Ia memeluk kedua orang tua angkatnya itu secara bergantian sembari mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih banyak, Ayah, Ibu. Terima kasih banyak," ucap Risa dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama, Ris." Bu Lidia pun sama. Matanya tampak berkaca-kaca ketika membalas tatapan Risa saat itu.


"Oh iya, sekarang kamu bekerja di mana, Nak Ayden?" sambung Pak Abdi yang mulai berbasa-basi.


"Saya bekerja di perusahaan telekomunikasi, Pak," jawab Ayden.


"Oh." Pak Abdi hanya ber 'oh' ria sambil menganggukkan kepalanya. "Berapa gaji karyawan di sana?" tanyanya lagi.


"Ehm, lumayan besar, Pak. Sebab gaji yang diterapkan di perusahaan kami sudah di atas gaji rata-rata," jawab Ayden dengan tenang.


"Trus apa posisi kamu di perusahaan itu?" lanjut Bu Lidia yang sudah penasaran sejak tadi.


Ayden terdiam sejenak sambil memperhatikan kedua orang tua angkat Risa.


"Pasti karyawan biasa ya, 'kan? Tapi lumayan lah, gajinya kan lebih besar dari pada gaji di perusahaan lain," celetuk Pak Abdi.


Ayden hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Bu Lidia menepuk pelan lengan Pak Abdi dengan wajah yang menekuk. "Ish, Ayah ini!"


"Tidak apa-apa, Bu," sahut Ayden.


...***...