
Hari persidangan pun tiba.
Risa sudah tiba di pengadilan bersama Ayden yang selalu setia menemaninya. Begitu pula Arga, lelaki itu sudah tiba terlebih dahulu dan sekarang sudah duduk di kursinya.
Risa tampak gugup ketika memasuki ruangan itu. Apalagi ketika ia harus bersitatap mata dengan Arga yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Kamu tenang saja. Aku akan selalu di sini," ucap Ayden sembari menepuk pelan pundak Risa agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak."
Persidangan pun dimulai. Hakim mulai mengupayakan perdamaian terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan mediasi. Namun, Risa tetap teguh dengan pendiriannya bahwa ia ingin bercerai dan melepaskan diri dari Arga.
Sementara Arga hanya diam dan tak berani mengelak karena semua bukti sudah lengkap di sana. Termasuk bukti video dan foto perselingkuhannya dengan Mona saat itu. Jangankan untuk meminta hak asuh untuk Lily, Arga bahkan tidak berani berkata-kata di dalam ruangan itu dan hanya bisa pasrah dengan hasil keputusan dari persidangan tersebut.
Hingga akhirnya keputusan pengadilan pun dibacakan. Kini Risa dan Arga resmi bercerai secara agama maupun negara. (Sebenarnya sidang perceraian itu dilakukan beberapa kali sidang. Namun, karena Author gak mau ribet nulisnya. Terpaksa sidangnya di skip saja dan cukup satu kali persidangan. Ok, Readers!)
Setelah putusan dijatuhkan dan berkekuatan hukum, baik pihak penggugat maupun tergugat segera mengambil Akte Cerai mereka secara langsung di hari itu.
Risa tampak semringah. Ia berjalan menghampiri Ayden sambil menenteng surat akte perceraian itu.
"Selamat ya, Risa. Akhirnya kamu berhasil bebas dari jeratan lelaki itu dan maafkan aku yang jahat karena ikut bahagia di atas perceraianmu," ucap Ayden sambil terkekeh pelan.
Risa ikut terkekeh sembari mencubit pelan perut berotot milik Arga. "Mas, bisa aja."
"Mari," ajak Ayden sembari meraih tangan Risa dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Sementara Arga masih terdiam di tempatnya sambil memperhatikan Risa dan Arga dengan wajah yang menekuk.
"Dasar pengkhianat!" umpat Arga sembari menghempaskan akte cerainya ke atas meja.
Setelah pasangan itu keluar, Arga pun segera menyusul. Ia berniat ingin menemui Nella dan berbagi kisahnya bersama wanita itu.
Di tempat parkir.
Arga meraih gagang pintu mobilnya dan bersiap masuk ke dalam benda beroda empat tersebut. Namun, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Arga?!"
"Toni, kamu?" Arga mengulurkan tangannya ke hadapan lelaki yang bernama Toni tersebut dan segera disambut olehnya dengan begitu antusias.
"Bagaimana kabarmu, Arga? Sudah lama kita tidak bertemu, ya!"
Dulu Toni adalah salah satu teman Arga di tempat kerja. Namun, lelaki itu sudah resign dan kini bekerja di tempat yang baru.
"Ya, kamu benar. Sudah hampir setahun kita tidak bertemu setelah kamu resign dari pabrik. Sekarang bagaimana pekerjaanmu di tempat yang baru?"
"Hmmm, aku benar-benar tidak menyesal resign dari pabrik karena di tempat kerja yang baru ternyata jauh lebih menyenangkan. Selain itu gajinya pun jauh lebih besar dari kerja di pabrik. Apa kamu tidak berminat menyusulku, Arga?" sahut Toni dengan begitu antusias.
Arga menggelengkan kepalanya pelan. "Aku rasa itu tidak mungkin, Toni. Usiaku sudah tidak memungkinkan aku untuk melamar ke tempat kerja yang baru," jawabnya. "Oh ya, kamu ngapain di sini?"
"Menemani salah satu atasanku yang ingin menemui boss kami. Katanya boss kami ada di sini, menemani salah satu kerabatnya yang sedang bercerai," sahut Toni sambil mengedarkan pandangannya di sekitar parkiran tersebut.
"Bossmu? Siapa?" Arga menautkan kedua alisnya heran.
"Nah, itu dia! Itu CEO di perusahaan kami, Arga. Namanya tuan Ayden Abraham. Dia benar-benar seorang atasan yang sangat baik dan tidak sombong," jawab Toni sembari menunjuk ke arah Ayden yang sedang berbincang bersama atasan Toni. Sementara Risa masih berdiri di samping Ayden.
Arga sontak menoleh dan matanya pun langsung membulat dengan sempurna setelah tahu siapa Ayden yang sebenarnya.
"Le-lelaki itu CEO di perusahaan tempat kamu bekerja sekarang, Toni?" tanya Arga dengan terbata-bata.
"Ya. Memangnya kenapa? Kamu mengenalinya?" Toni balik bertanya.
Arga menggelengkan kepalanya pelan dan wajah lelaki itu tiba-tiba memucat. "Ti-tidak. Aku tidak mengenalinya."
"Oh ya, aku lupa. Sedang apa kamu di sini, Arga?" tanya Toni lagi kepada Arga.
"Ehm, sepertinya aku sudah terlambat. Aku harus segera kembali, Toni. Senang bertemu denganmu lagi," sahut Arga yang bergegas memasuki mobilnya.
Sementara Toni terpelongo melihat reaksi Arga yang tampak aneh. "Kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku, Arga!" gumam Toni sambil memperhatikan mobil Arga yang kini melesat bebas, semakin menjauh darinya.
...***...