
"Aku pulang dulu ya, Bu. Lain kali aku mampir lagi ke sini, gak papa 'kan?" Mona memeluk tubuh sintal Bu Lidia dengan begitu erat. Setelah beberapa saat, Mona pun kembali melerai pelukannya.
"Kenapa tidak, Mona? Malah sebaliknya, Ibu sangat senang jika kamu sering-sering jengukin kami. Tapi, jangan lupa ajak suamimu sekalian. Biar rame," ucap Bu Lidia sambil tersenyum semringah.
"Apa kamu tahu, Mona? Setelah kamu menikah dengan Arga, sementara Risa pergi entah ke mana, kini kami merasa sangat kesepian. Benar 'kan, Yah?" Bu Lidia menoleh kepada suaminya yang berdiri di sampingnya.
"Ya. Ibumu benar, Nak," jawab Pak Abdi sembari merengkuh pundak Bu Lidia.
"Ya, sudah. Aku pamit dulu ya, Bu, Yah. Dah!" Mona melenggang pergi meninggalkan kediaman kedua orang tuanya sambil terus melambaikan tangan.
"Entah mengapa Ibu merasa ada yang aneh pada Mona. Lihatlah tubuhnya, semakin kurus saja 'kan, Yah? Dan apa Ayah lihat bagaimana cara dia menikmati makanannya? Sama seperti orang yang sudah lama tidak makan makanan enak!" ucap Bu Lidia kepada Pak Abdi yang masih asik memperhatikan anak perempuannya dari kejauhan.
"Ya, sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama, Bu. Aku melihat ada yang aneh pada Mona," jawab Pak Abdi.
"Ah, semoga saja itu hanya perasaan kita saja ya, Yah. Semoga Mona baik-baik saja," sambung Bu Lidia.
Di perjalanan.
Mona kembali menaiki sebuah ojek online yang akan mengantarkan dirinya kembali ke kediaman milik Arga.
"Ya Tuhan! Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Ayah dan Ibu. Aku malu, benar-benar sangat malu. Aku tidak pantas mengeluh karena ini adalah keinginanku." Mona bergumam dalam hati.
Tak terasa kini Mona tiba di depan kediaman sang suami. Setelah membayar ojek online yang ia tumpangi, Mona pun bergegas masuk. Dari kejauhan ia melihat Arga yang tampak sibuk di pekarangan rumah. Bolak-balik membawa tumpukan sesuatu di tangannya kemudian meletakkannya di tanah.
Mona mencoba untuk tak peduli. Ia terus melangkah tanpa berkeinginan menghampiri apalagi menyapa lelaki menyebalkan itu.
"Dari mana saja kamu, Mona?"
Belum sempat melewati tubuh lelaki itu, tiba-tiba terdengar suara bariton Arga memanggil nama Mona tanpa menoleh sedikit pun.
"Dari rumah ibu," jawab Mona, juga tanpa menoleh sedikit pun kepada lelaki itu.
Arga tertawa sinis. "Untuk apa? Untuk mengadukanku?" ucapnya.
Mona sontak menoleh dengan ekspresi wajah kesal kemudian memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh lelaki itu.
"Aku rindu ayah dan ibu. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka," jawab Mona dengan setengah kesal.
Arga mendengarkan ucapan Mona, tetapi kali ini ia tidak ingin menggubrisnya. Ia terus saja sibuk dengan pekerjaannya saat itu, menumpuk barang-barang milik Risa di tengah halaman kemudian menyiramnya dengan minyak tanah.
"Ya, memangnya kenapa? Aku akan menyingkirkan semua barang-barang milik wanita pengkhianat ini!" jawabnya dengan wajah memerah.
Mona tersenyum sinis. "Kenapa harus disingkirkan? Bukankah kamu begitu menyayangi benda-benda itu, Mas Arga?"
Arga refleks menoleh dan dengan wajah kesal menatap Mona. "Diam kamu! Apa kamu tahu, ternyata selama ini dia sudah berani mengkhianati aku. Dia menjalin hubungan gelap di belakangku bersama bule kere itu dan aku sangat yakin bahwa Lily adalah anak hasil dari hubungan gelap mereka!"
Mona menautkan kedua alisnya heran. "Bule kere?"
"Ya! Ayden si bule kere itu. Mantan kekasih Risa sebelum menikah denganku," jawab Arga dengan tegas sembari melemparkan sebuah kain (yang sudah dibakar ujungnya) ke tumpukan barang-barang milik Risa.
Seketika api pun menyala kemudian membesar dan melahap apa pun yang disentuhnya.
"Mas Ayden? Sejak kapan mbak Risa kembali berhubungan dengan lelaki itu?"
Mona tampak heran karena selama ia tinggal bersama Risa dan Arga, ia tidak pernah melihat Risa pergi ke manapun. Apalagi bertemu dan menjalin hubungan bersama lelaki itu sama seperti tuduhan Arga.
"Tanyakan hal itu pada kakakmu si pengkhianat itu!" jawab Arga.
Mona tersenyum sinis sembari menggelengkan kepalanya. Ia kembali meneruskan langkahnya kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Arga masih saja menggerutu di halaman sambil melemparkan benda-benda milik Risa ke dalam gumpalan api yang semakin membesar itu.
"Mas Arga sudah gila!" gumam Mona.
Mona menghentikan langkahnya tepat di samping meja yang ada di ruang depan. Ia melirik sebuah kertas yang tergeletak di atas meja kemudian meraihnya.
"Apa ini?" Mona membaca tulisan yang tercetak di kertas tersebut dengan seksama. "Surai panggilan dari pengadilan?" Mona kembali tersenyum sinis.
"Oh, ternyata kertas inilah yang sudah berhasil membuat kamu bersikap seperti orang gila, Mas? Kamu tidak terima ketika mbak Risa mengurus perceraian kalian ke pengadilan," lanjut Mona sembari meletakkan kembali surat panggilan perceraian itu ke atas meja.
Mona berjalan menghampiri kaca rumahnya kemudian mengintip dari balik gorden.
"Kasihan sekali kamu, Mas Arga! Sebenarnya kamu masih mencintai mbak Risa, 'kan? Hanya saja kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya," gumam Mona sambil terus memperhatikan gerak-gerik Arga di halaman rumah.
Sementara itu.
"Awas saja kamu, Risa! Aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu bahagia! Apalagi bersama lelaki itu!" geram Arga dengan rahang yang tampak menegas.
...***...