
"Kamu mengenalinya, Ay?" tanya Oma Hana dengan alis bertaut menatap Ayden.
"Boleh aku menggendongnya, Oma?" Bukannya menjawab pertanyaan Oma Hana, Ayden malah mengulurkan tangannya ke hadapan wanita paruh baya itu.
"Tentu saja, Ayden."
Oma Hana menyerahkan bayi mungil itu kepada Ayden dan segera disambut olehnya. Ayden tersenyum semringah menatap wajah bayi mungil itu sambil menciuminya.
"Ya ampun, Sayang. Bagaimana kamu bisa berada di sini?" gumam Ayden.
"Lalu, di mana ibunya?" Ayden menatap Oma Hana yang tengah memperhatikan dirinya dengan terbengong-bengong.
"Ehm, tadi katanya dia mau ke kamar kecil dan mungkin sebentar lagi dia akan kembali," sahut Oma Hana.
"Nama ibunya Risa 'kan, Oma?" Ayden kembali mencoba memastikan.
"Ya, namanya Risa. Oh, iya. Kamu pasti juga kenal sama Risa 'kan? Secara Rachel juga kenal sama dia," celetuk Oma Hana.
Ayden menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mengenalnya, Oma. Bahkan sangat mengenalnya," jawab Ayden.
"Nah, benar 'kan." Oma Hana tersenyum lebar.
Renatta dan Rachel tiba di ruangan itu. Rachel membantu Renatta duduk dan bersandar di sofa tersebut, tak jauh dari posisi Oma Hana.
"Dia kenapa, Chel?" tanya Oma Hana sambil memperhatikan Renatta dengan seksama.
"Cuma luka lecet biasa, Oma. Oh ya, dia Renatta, anak gadisnya Pak Guntur dan Bu Ara," ucap Rachel sembari menjatuhkan diri ke samping tubuh Oma Hana kemudian meraih minuman dingin itu lalu menenggaknya hingga habis separuh.
"Anaknya Pak Guntur?" Oma tersenyum tipis menatap Renatta.
"Ya, Oma. Saya Renatta, anak dari Pak Guntur dan Bu Ara," sambung Renatta.
"Oh." Oma Hana mengangguk pelan. "Mari, Nak, minum dulu. Kamu pasti haus," lanjutnya.
"Terima kasih, Oma." Renatta meraih segelas minuman dingin tersebut kemudian meminumnya.
"Eh, Chel. Coba kasih dia obat serta plester luka untuk mengobati dan menutup lukanya. Kasihan 'kan dia?" titah Oma sambil menepuk paha Rachel yang sedang asik menggoda Ayden.
Gadis itu sama sekali tidak mendengar perintah Oma Hana. Ia terus tersenyum menatap Ayden sambil sesekali menggoda lelaki itu.
"Bagaimana, Bang Ay? Kedatanganmu ke sini tidak sia-sia 'kan?"
Ayden menghembuskan napas berat. "Ya, tapi banyak sekali pertanyaan yang menyelimuti kepalaku saat ini, Chel. Aku tidak habis pikir kenapa Risa bisa berada di sini, sementara suaminya tengah asik bermain bersama wanita lain di luaran sana," sahut Ayden.
"Sebaiknya tanyakan hal itu kepada Risa. Aku tidak ingin menjawabnya karena takut salah ngomong," tutur Rachel lagi.
"Hei, Rachel! Kamu dengar Oma, tidak?" tanya Oma Hana kepada Rachel yang terus berbincang bersama Ayden tanpa mempedulikan Renatta yang masih kesakitan akibat luka kecilnya.
"Hah? Kenapa, Oma?" Rachel tersentak kaget.
"Hhh, dasar kamu itu, ya!" kesal Oma Hana.
Sementara Oma masih asik menggerutui Rachel, Risa tiba di ruangan itu dengan wajah tertunduk. Ia terpaksa kembali karena merasa tidak enak jika terus menghindar.
Ayden tersenyum lebar tatkala ia melihat Risa yang datang mendekat.
"Risa," sapa Ayden.
Karena asik mengoceh, Oma Hana sampai tidak sadar bahwa Risa sudah tiba di ruangan tersebut.
"Oma, bolehkah aku bicara bersama Risa sebentar saja?" tanya Ayden kepada Oma Hana yang sedang asik mengomeli Rachel.
"Eh, ternyata Risa sudah di sini. Tentu saja boleh, kenapa tidak?" sahut Oma Hana.
"Terima kasih, Oma."
Oma Hana mengangguk kemudian kembali bicara bersama Rachel yang kini tengah sibuk mengobati luka Renatta. Wajah Rachel menekuk dan terlihat jelas bahwa ia begitu terpaksa melakukannya karena permintaan Oma.
"Ayo, Ris!" Ayden bangkit dari posisinya lalu berjalan menghampiri Risa. Ia meraih tangan wanita itu lalu menuntunnya keluar dari ruangan tersebut. Sementara Renatta hanya bisa menatap kepergian pasangan itu dengan wajah sedih dan kecewa.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Risa.
"Ke ruang depan, di mana tidak ada siapa pun di sana. Hanya aku, kamu dan Lily," jawab Ayden.
Setibanya di ruangan itu.
Ayden duduk di sofa ruang depan kemudian meminta Risa untuk duduk bersamanya.
"Sekarang ceritakan yang sebenarnya, Risa. Aku mohon dengan sangat, jangan ditutup-tutupi lagi."
"Cerita soal apa?" tanya Risa dengan wajah sendu menatap Ayden.
Ayden menghembuskan napas berat kemudian menggenggam tangan Risa dengan erat. "Semuanya, Risa. Semuanya! Ceritakan lah kepadaku semua permasalahanmu. Siapa tahu aku bisa membantumu."
Risa menundukkan kepalanya menghadap lantai. "Aku rasa tidak ada yang perlu aku bicarakan soal semua yang terjadi padaku, Mas. Itu aib rumah tanggaku, tak seharusnya aku menceritakannya kepada orang lain. Cukup Tuhan saja yang mendengarkan keluh kesahku," lirih Risa dengan mata berkaca-kaca.
Ayden menelan salivanya dengan susah payah. Ia meraih wajah Risa yang tertunduk agar ia bisa melihat dengan jelas kesedihan wanita pujaannya itu.
"Apakah ada yang bisa aku bantu, Ris? Jika bukan untukmu, setidaknya untuk Lily," ucap Ayden.
"Tidak usah, Mas. Aku tidak ingin menyusahkan siapa pun. Apalagi Mas Ayden," jawab Risa.
"Oh ya, Tuhan!" Ayden menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kesal.
"Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur, apa Mas Arga yang mengusirmu dari rumah kalian?" tanya Ayden dengan begitu serius menatap Risa.
Risa menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Aku sendiri yang memilih keluar dari rumah."
"Kenapa?"
"Karena Mas Arga sudah menceraikan aku," lirih Risa. "Tidak mungkin aku bertahan di rumah itu sementara kami sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi."
Ayden terdiam sejenak sambil terus menatap wajah sendu Risa.
"Mungkin aku jahat, Ris. Namun, tidak isa aku pungkiri bahwa ada sedikit perasaan bahagia saat aku tahu bahwa Mas Arga sudah menceraikanmu," gumam Ayden dalam hati.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Ayden kemudian.
Risa tersenyum getir. "Entahlah, Mas. Aku pun tidak tahu. Tapi setidaknya nasibku sudah mulai membaik saat berada di sini. Ada tempat tinggal yang nyaman, dapat gaji yang lumayan besar dan bisa bekerja sambil menjaga bayiku. Itu bahkan sudah lebih dari cukup," jelas Risa.
...***...