Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Kecelakaan


"Kamu kenapa sih, Nel?" Arga makin penasaran.


"Mas Arga," lirih Nella.


Nella meraih tangan Arga kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Sebaiknya segera cek kesehatan Mas ke Dokter," lanjut Nella dengan bibir bergetar hebat. Buliran bening itu bahkan masih menetes di kedua sudut matanya.


"Hah? Cek kesehatan?" Arga terkekeh pelan. "Kenapa aku harus mengecek kesehatanku? Selama ini aku baik-baik saja, apa yang harus aku cemaskan? Kamu jangan mengada-ada deh, Nel."


Nella kembali menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksudku, Mas."


"Trus?" Arga mulai tampak kesal.


"Mas Arga, aku positif terjangkit HIV."


"Apa?!" Arga sontak melepaskan genggaman tangan Nella kemudian menjauh beberapa meter dari wanita itu.


"Jangan bercanda kamu, Nel! Ini benar-benar tidak lucu, kamu tahu!" geram Arga sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Nella makin terisak. "Aku tidak sedang bercanda, Mas. Aku serius!"


"Sejak kapan, Nella? Sejak kapan?!" Arga yang kesal meneriaki Nella sambil mengguncang-guncang tubuh wanita itu dengan kasar.


"Sejak beberapa bulan yang lalu," lirih Nella, masih terisak.


"Sejak beberapa bulan yang lalu dan kamu malah dengan sengaja membiarkan aku terus menerus menyentuh dirimu! Kamu sengaja, ya?!" Arga makin panik.


"Maafkan aku, Mas."


"Maaf kamu bilang, ha? Maaf!" Arga meraih bantal milik Nella kemudian melemparkan ke wajah wanita itu dengan cukup keras.


"Setelah dengan sengaja kamu menjangkitkan penyakit menjijikkan itu padaku, sekarang kamu bilang maaf! Kurang ajar!"


Arga melayangkan tangannya ke udara dan tertahan di sana. Ia mengurungkan niatnya untuk memukul wanita malam tersebut setelah melihat wajah pucat Nella yang mengiba kepadanya.


"Dasar wanita mur*han!" umpat Arga sembari meludah ke arah samping.


"Maafkan aku, Mas!"


"Sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu, Nella! Tidak akan pernah!"


"Sialan! Apa mungkin aku juga tertular penyakit mematikan itu? Ah, semoga saja tidak!" gumam Arga seraya menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumah Nella.


Sebelum memasuki mobilnya, Arga sempat bersitatap mata dengan beberapa orang tetangga Nella yang masih duduk dan berkumpul di teras rumah mereka. Lagi-lagi mereka mulai berbisik-bisik, sama seperti sebelumnya sambil menatap Arga dengan tatapan aneh.


"Apa kalian lihat-lihat?" Arga yang sudah termakan emosi, menyapa mereka dengan ucapan sedikit kasar.


"Heh, Pak! Sebaiknya periksakan kesehatan kamu sebelum mengencani wanita itu. Semua orang di sini sudah tahu seperti apa wanita itu. Jika orang-orang menjauhinya, eh kamu malah dengan sengaja mendekatinya. Pengen cepat-cepat mati, ya?" ketus salah seorang ibu-ibu.


Arga mendengus kesal sembari mengepalkan tangannya dengan sempurna. Ia yang sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya, segera masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Sialan! Dasar jal*ng sialan!" teriak Arga dengan wajah geram sembari memukul-mukul setir mobilnya.


Kekesalan Arga memuncak dan akhirnya lelaki menangis tersedu-sedu di dalam mobil tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku memeriksakan kondisiku sekarang ini ke Dokter? Lalu, bagaimana jika itu benar? Aku pasti tidak akan sanggup menerimanya. Ini semua gara-gara jal*ng sialan itu!" umpat Arga di sela isak tangisnya.


Arga yang masih larut dalam emosi, kini memencet-mencet klakson mobil agar truk yang berada tepat di hadapannya segera memberikan jalan untuknya. Sopir truk pengangkut barang-barang bangunan itu pun kesal dan memberikan sedikit jalan untuk Arga menyalipnya.


Arga menginjak gas lebih dalam lagi dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menyalip truk tersebut. Namun, tanpa ia sadari tepat di hadapannya sebuah minibus melaju kencang dengan berlawanan arah.


Arga tersentak kaget dan refleks membanting setirnya ke kiri hingga akhirnya kecelakaan pun tak dapat terelakkan. Truk yang masih melaju di belakang, menghantam body mobil Arga dengan cukup keras kemudian menyeretnya hingga beberapa meter sebelum sopir itu menghentikan kecepatan mobilnya.


Sementara minibus yang melaju di depan Arga, juga terguling dan menghantam bahu jalan. Sama seperti Arga, sopir minibus itu pun ikut terkejut lalu mencoba menghindari tabrakan tersebut dengan membanting setirnya.


Brakkk!!!


"Aaakhhh!"


Sementara itu.


Prankkk! Gelas yang dipegang oleh Mona tiba-tiba jatuh ke lantai lalu pecah. Beruntung pecahan gelas kaca tersebut tidak mengenai kakinya.


"Ya ampun, ada firasat apa ini? Kenapa dadaku berdebar-debar tak karuan," gumam Mona sembari memegangi dadanya.


Ia berjongkok kemudian meraih pecahan gelas kaca yang cukup besar untuk di singkirkan. Sementara pecahan yang kecil-kecil, ia bersihkan dengan menggunakan sapu.


...***...