
Baru saja Mona selesai mengenakan pakaiannya, Arga sudah menarik tangan gadis itu dengan kasar agar mengikutinya keluar dari kamar tersebut.
"Ayo, kita pulang!" titah Arga dengan tegas.
"Tunggu sebentar, Mas. Jangan ditarik-tarik seperti ini, tanganku sakit!" pekik Mona sembari mencoba melepaskan cengkraman tangan Arga dari pergelangan tangannya.
"Diam! Aku bisa menyakitimu lebih dari ini," ancam Arga sambil melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menarik tangan Mona.
Mona meringis kesakitan. Ia mencoba mensejajarkan langkah kakinya bersama kaki jenjang Arga. Namun, karena Arga bergerak dengan begitu cepat, Mona pun terlihat kesusahan untuk menyeimbanginya. Ia bahkan beberapa kali hampir terjatuh.
"Mas Arga, pelan-pelan!"
Bukannya peduli, Arga malah semakin mempercepat langkahnya. Setelah mengembalikan card lock kepada resepsionis, Arga pun kembali melanjutkan langkahnya keluar dari hotel tersebut bersama Mona.
"Masuk!" titah Arga sembari membuka pintu lalu mendorong tubuhnya dengan kasar hingga gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Mas, jangan kasar begini! Apa kamu lupa, saat ini aku sedang hamil!" kesal Mona dengan wajah menekuk.
Namun, Arga tampak tidak peduli. Ia malah membanting pintu mobilnya dengan kuat hingga membuat Mona terkejut.
"Ya ampun, Mas Arga!" Mona mengelus dadanya.
Arga masuk ke dalam mobil kemudian duduk di depan kemudi. Ia yang masih tersulut emosi, segera melajukan mobil tersebut menuju kediamannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Mas, pelan-pelan! Apa kamu tidak takut terjadi sesuatu?" protes Mona sambil menatap Arga dengan mata membulat.
"Diam!" bentak Arga yang berhasil membuat Mona terdiam dan tak berani berkata-kata lagi. Pandangan lelaki itu fokus ke depan dan tak ingin melirik Mona sedikit pun.
Tiga puluh menit kemudian.
Arga menghentikan mobil tepat di pekarangan rumahnya. Sebelum keluar, Arga sempat memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia tidak ingin siapa pun melihat dirinya keluar bersama Mona. Setelah memastikan bahwa tak ada saksi mata, Arga pun segera membuka pintu di samping Mons tanpa keluar mobil tersebut.
"Sekarang keluar lah!" titah Arga kepada Mona.
Sebelum Arga kembali mendorongnya seperti tadi, Mona bergegas keluar dari mobil tersebut. Ia takut Arga kembali memperlakukan dirinya dengan kasar.
Setelah Mona keluar, Arga pun segera menyusulnya. Ia segera membuka pintu utama kemudian menguncinya kembali sebelum kembali ke kamar.
Arga meraih tangan Mona yang berjalan di depannya kemudian mencengkramnya dengan erat hingga Mona merasa kesakitan.
"Aw! Mas, sakit!"
Mona menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. "Iya-iya, baiklah!"
Arga menekuk wajahnya kesal lalu menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama, sementara Mona masuk ke dalam kamarnya.
Arga melihat Risa yang sudah tertidur dengan posisi meringkuk di samping keranjang bayinya. Tubuh Risa terlihat jelas dengan balutan lingerie seksi berwarna pink yang ia kenakan sejak tadi. Arga meraih selimut kemudian menutupi tubuh Risa.
Huft! Terdengar hembusan napas berat yang keluar dari bibir lelaki itu. Ia duduk di tepian ranjang sembari melepaskan kemeja serta celananya. Setelah pakaiannya terlepas, ia pun berbaring di samping Risa.
Matanya masih terbuka lebar. Tatapannya kosong menerawang menatap langit-langit kamar. Wajahnya tampak masam dan pikirannya benar-benar kalut.
"Kenapa Mona ceroboh sekali! Bukankah kami sudah sepakat bahwa hubungan kami hanya sebatas saling menguntungkan saja? Aku curiga, jangan-jangan bayi itu memang bukan milikku. Dia hanya memanfaatkan aku untuk bertanggung jawab kepada bayi yang jelas-jelas bukanlah milikku. Sialan," geram Arga dalam hati.
Arga meraih ponsel miliknya kemudian menekan-nekan benda pipih tersebut dengan wajah yang begitu serius. Tiba-tiba sebuah ide konyol terlintas di pikiran Arga. Ia mencoba mencari obat yang bisa digunakan untuk menggugurkan kandungan Mona melalui internet.
Hingga akhirnya ia menemukan salah satu merk obat yang katanya mampu menggugurkan kandungan. Arga terus berselancar ria di internet. Mencari tahu kegunaan dan fungsi obat tersebut hingga ia pun tertarik untuk membelinya.
"Sipp! Sepertinya obat ini bagus dan sudah banyak terbukti hasilnya. Ya, walaupun harganya sedikit lebih mahal," gumam Arga sambil tersenyum tipis.
Arga memesan obat tersebut melalui toko online yang ada di sebuah aplikasi yang ada di ponselnya. Setelah selesai chek-out, ia pun tersenyum puas.
"Bayi itu harus segera disingkirkan, walaupun bayi itu adalah milikku! Aku tidak ingin menambah bebanku dengan kehadiran seorang bayi lagi. Cukup Lily, dan aku tak ingin yang lainnya," gumamnya sambil mencoba memejamkan mata.
Wajah Arga yang tadinya tampak menegang, kini terlihat sedikit lebih tenang. Ia berharap dengan obat itu, masalah peliknya kali ini dapat terpecahkan. Setelah beberapa saat, akhirnya Arga pun benar-benar tertidur di samping Risa. Sementara ponsel miliknya tergeletak begitu saja di samping bantal.
Jam menunjukkan pukul 03.00.
Risa yang tadinya tertidur dengan nyenyak, kini terbangun karena si kecil Lily menangis kehausan. Risa bergegas bangkit kemudian duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memberi asi untuk bayinya. Ia melirik ke samping dan tampak Arga tengah tertidur pulas sambil memeluk sebuah guling.
"Mas Arga sudah kembali dan ternyata ia benar-benar tidak ingin menyentuhku. Aku curiga, jangan-jangan Mas Arga memang suka jajan sekarang," gumam Risa dalam hati.
Risa melihat ponsel Arga yang masih dalam keadaan on, tanpa kunci layar. Lelaki itu lupa keluar dari aplikasi online shop yang ia kunjungi sebelum tertidur pulas. Risa yang sudah diselimuti rasa penasaran sekaligus curiga, segera meraih ponsel itu dan mulai mengeceknya.
"Obat apa ini?" gumam Risa dengan wajah heran menatap barang pembelian Arga.
"Aku harus cari tahu obat apa yang sudah ia pesan," gumam Risa lagi.
...***...