Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Derita Mona


💕 Yang nungguin balasan untuk Arga, insyaallah sebentar lagi, ya! Author gak bisa skip bagian ini 😢 Dan maaf banget karena sekarang Author jarang up sebab Author harus fokus ke aplikasi sebelah. Udah terlanjur kontrak di sana dan harus daily juga.


Yang punya aplikasinya bisa mampir 🥰🥰🥰 Judulnya "My Possessive Sugar Daddy" aplikasi F 💕


...❤️ Happy Reading ❤️...


"Nih!" Mona menyerahkan kotak obat yang diminta oleh Arga.


"Sekarang kamu bersihkan luka Nella dan obati dia!" titah Arga sembari menunjuk ke arah luka Nella yang masih mengeluarkan darah segar walaupun tidak sebanyak sebelumnya.


"Apa? Enak saja! Lagi pula dia yang mulai duluan, kok!" elak Mona.


"Sekarang kamu lihat ini, Mas Arga!" Mona memperlihatkan wajahnya yang memerah akibat pukulan Nella.


Namun, bukannya peduli, Arga mam membuang muka kemudian kembali fokus pada kekasih hatinya.


"Sudahlah. Jangan pedulikan wanita itu," ucap Arga sembari membersihkan luka Nella.


"Aw! Sakit sekali, Mas! Sebaiknya Mas bawa aku ke dokter saja," keluh Nella dengan begitu manja.


"Baiklah, tapi besok pagi saja. Sekarang sudah larut dan sebaiknya kita tidur dan istirahat, bagaimana?" bujuk Arga karena ia lihat kondisi Nella tidak begitu mengkhawatirkan.


Nella menekuk wajahnya. "Baiklah. Tapi janji, besok kita ke dokter."


"Ya, aku janji!"


Mona yang sejak tadi memperhatikan kemesraan pasangan itu, memutarkan bola matanya dengan kesal.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, Arga dan Nella sudah berangkat. Sementara Mona juga sudah bersiap-siap untuk pergi. Ia ingin menemui kedua orang tuanya dan menceritakan soal kelakuan Arga yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Aku harus menceritakan bagaimana kelakuan Mas Arga yang sebenarnya kepada ayah dan ibu. Siapa tahu dengan begitu, ayah dan ibu bisa memberikan sedikit pengertian untuk Mas Arga," gumam Mona sebelum melangkah pergi meninggalkan rumahnya.


Dengan menaiki ojek online yang sudah ia pesan, Mona menuju kediaman kedua orang tuanya. Setelah beberapa puluh menit menempuh perjalanan, kini Mona tiba di depan kediaman orang tuanya.


"Sebentar ya, Mas. Aku ambil uangnya dulu."


"Baik, Mbak."


Karena tidak memegang uang sedikit pun, Mona terpaksa meminta uang kepada ibunya untuk membayar jasa ojek online tersebut.


"Loh, Mona?" Bu Lidia kaget melihat kedatangan Mona yang begitu tiba-tiba. Ia refleks menoleh ke belakang Mona, mencari sosok Arga. Karena tidak menemukan sosok itu, Bu Lidia pun sontak bertanya.


"Di mana suamimu?"


"Mas Arga bekerja, Bu. Oh ya, Bu. Tolong bayarin mas-mas ojek itu, dong! Aku gak bawa uang soalnya," ucap Mona sambil tersenyum kecut menatap sang ibu.


Setelah membayar jasa ojek online tersebut, Bu Lidia segera menyusul Mona. Ia mencari-cari keberadaan anak perempuannya itu di ruang utama, tapi tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya langkah Bu Lidia terhenti di ruang makan, di mana Mona sedang duduk di sana sambil memegang sebuah piring kosong.


"Bu, boleh aku numpang makan. Aku lapar sekali, Bu!" ucap Mona sambil mengelus perutnya.


Walaupun bingung melihat aksi Mona saat itu, tapi Bu Lidia tidak ingin bertanya macam-macam. Ia mengangguk dan menganggap apa yang terjadi pada Mona hanyalah kebetulan saja. Di mana semua itu hanya bawaan janin yang sedang ia kandung.


"Kebetulan sekali Ibu masak banyak hari ini. Makanlah apa pun yang kamu suka. Makan yang banyak, mungkin ini rejeki bayimu, Nak."


"Siap, Bu!" jawab Mona dengan penuh semangat.


Mona segera mengisi piring kosong tersebut dengan nasi serta berbagai lauk kesukaannya. Bu Lidia bahkan sampai bingung melihat porsi makan Mona yang tidak seperti biasanya.


"Banyak sekali, Nak? Kamu yakin bisa menghabiskan semuanya?" tanya Bu Lidia dengan wajah heran.


Mona mengangguk dengan mulut penuh. "Bisa!" jawabnya dengan begitu yakin.


Bu Lidia tersenyum kecut sembari mengelus lembut rambut Mona. "Makanlah yang banyak, Nak."


Selama tinggal bersama Arga, Mona jarang merasakan makanan enak. Hampir setiap hari ia hanya disuguhi dengan mie instan dan telur. Bahkan tidak jarang ia harus menggoreng nasi dengan minyak sisa menggoreng telur karena Arga kelupaan membeli bahan makanan untuknya.


"Mona, Ibu perhatikan tubuhmu semakin kurus saja? Apa ini karena kehamilanmu?" tanya Bu Lidia sambil memperhatikan tubuh Mona.


Mona tiba-tiba terdiam dan berhenti mengunyah makanannya. Ia menoleh ke arah lemari kaca yang ada di ruangan itu kemudian memandang tubuhnya. Mona baru sadar bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu benar. Tubuhnya memang menyusut dan ia yakin itu semua karena asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya selama ia tinggal bersama Arga.


"Kamu masih mengalami morning sickness?" tanya Bu Lidia lagi.


"Ehm, sebenarnya aku ...." Mona menghentikan ucapannya karena sang ayah masuk ke dalam ruangan itu.


"Mona? Tumben. Mana suamimu?" tanya Pak Abdi sembari menjatuhkan dirinya di kursi dekat Mona.


"Mas Arga kerja, Ayah. Aku sendirian ke sini," jawab Mona.


"Kamu pasti bahagia 'kan hidup bersama lelaki pilihanmu? Sekarang bagaimana kabar kalian? Kalian pasti sangat bahagia hingga lupa berkunjung ke sini?" tanya Pak Abdi sambil tersenyum kecil kepada Mona.


Bukan hanya Pak Abdi yang tak sabar menunggu jawaban dari Mona, Bu Lidia pun sudah sejak tadi menunggu jawaban dari anak perempuannya itu.


"Apakah aku harus mengakui semuanya dan mengatakan bagaimana sikap Arga selama ini terhadapku? Sementara mereka tahu kalau ini adalah pilihanku sendiri," gumam Mona dalam hati.


"Mona?"


"Ah, iya. Kami baik-baik saja," jawab Mona.


...***...