
"Ayo, Nella! Cepat, buka bajumu! Aku sudah tidak sabar lagi ini." Arga menarik dress seksi yang dikenakan oleh Nella kemudian merebahkan tubuh wanita itu ke atas kasur empuknya.
Nella tersenyum manja. "Memangnya Mas masih sanggup menggempur aku? Mas 'kan sedang mabuk. Paling-paling di tengah permainan Mas akan menyerah dan memilih tidur," sahut Nella.
"Tidak akan, Sayang. Tidakkah kamu lihat si Joni-nya Mas udah menegang dan butuh sentuhan darimu?" ucap Arga kemudian sembari menciumi puncak bulatan kenyal milik Nella yang masih tertutup kain brokat berbusa, berwarna pink tersebut.
"Ok, baiklah. Tapi biarkan aku mengunci pintu kamar ini terlebih dahulu. Aku tidak ingin istri mudamu melihat pertempuran panas kita," sahut Nella sembari mendorong pelan tubuh Arga yang sudah menindih tubuhnya dan mencoba bangkit dari posisinya.
"Tidak usah, Sayang. Biarkan saja dia melihatnya. Kalau dia pengen, tinggal kita ajakin saja sekalian," sahut Arga dengan entengnya.
Nella terkekeh pelan. "Memangnya dia mau diajakin bermain bertiga denganku?"
"Ya, siapa tahu!"
Dengan begitu beringas Arga memberikan pemanasan di tubuh Nella. Begitu pula dengan wanita itu. Sebagai wanita nakal, hal itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Dengan begitu mudah ia membuat Joni milik Arga menegang dan siap menembus lorong-lorong kenikmatan miliknya.
Sementara itu.
Mona yang tadinya memutuskan untuk diam di ruang depan, akhirnya memutuskan untuk menyusul pasangan itu ke kamar utama. Kamar yang ia dan Arga tempati. Walaupun ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh pasangan haram itu di sana.
"Aku harus menghentikan mereka! Ini rumahku, aku harus bisa mempertahankannya. Aku tidak ingin lemah seperti Mbak Risa yang akan menyerahkan Mas Arga begitu saja kepada wanita murahan itu. Tidak akan!" gumam Mona dengan kesal sembari melangkah cepat menuju kamar utama.
Setibanya di depan ruangan itu, Mona pun segera menghentikan langkahnya. Tubuhnya bergetar hebat. Begitu pula jantungnya yang kini berdetak tak karuan. Suara dessahan yang saling beradu di ruangan itu, membuat hati Mona seakan dicabik-cabik.
"Mas Arga! Kamu benar-benar sungguh keterlaluan!" geram Mona.
Mona menghampiri daun pintu kemudian mendorongnya dengan kasar. Pintu yang memang sengaja tidak dikunci oleh Arga tersebut, kini terbuka lebar.
Mata Mona langsung terbelalak ketika melihat dua orang insan yang saling menindih dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Tubuh yang dipenuhi dengan keringat serta bagian pribadi yang saling menyatu di bawah sana.
"Hentikan, Mas! Hentikan! Kalian sudah keterlaluan!" teriak Mona dengan bibir bergetar. Ia bahkan tidak sanggup menahan air matanya untuk tidak merembes keluar.
Arga dan Nella sontak menghentikan aksi mereka. Kini tatapan keduanya tertuju pada Mona yang berdiri tepat di depan ranjang mereka. Arga berdecak sebal kemudian melerai pergumulannya bersama Nella.
Arga menghampiri Mona dengan tubuh polos yang masih dipenuhi oleh keringat. Lelaki itu tersenyum miring sambil menatap Mona tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kenapa, Mona sayang? Kamu mau ikut bersama kami? Biar kita main bertiga, bagaimana?"
Cuihhh! Mona meludah ke samping tubuhnya. "Najis, Mas! Aku tidak sudi walaupun kamu tidak akan pernah menyentuhku lagi untuk selama-lamanya," ucap Mona sambil menyeka air mata dengan penuh kekesalan.
Mona melirik Nella yang malah asik bersandar di sandaran tempat tidur sambil memeluk bantal. Bantal yang sengaja ia gunakan untuk menutupi bagian tubuh polosnya. Wanita itu melemparkan senyum kepada Mona dan membuat Mona semakin kesal saja.
Arga tertawa pelan. "Serius tidak ingin ikut bermain bersama kami? Kalau begitu ya sudah! Silakan pergi dari kamar ini dan jangan ganggu kesenangan kami. Mengerti?"
Arga mendorong tubuh Mona agar segera pergi dari kamar tersebut. Mona sempat protes dan mencoba melawan. Namun, kekuatannya tak sebanding dengan Arga dan akhirnya ia pun pasrah lalu segera keluar dari ruangan itu dengan sedikit paksaan.
"Mar Arga! Mas!"
Brakkk!
Arga membanting pintu kamar dengan sangat kasar kemudian menguncinya dari dalam hingga Mona tidak bisa menggangu aktifitasnya lagi.
Mona masih belum menyerah. Ia terus berteriak memanggil nama Arga sembari menggedor pintu kamar tersebut. Namun, bukannya merasa terganggu dengan perbuatan Mona, Arga dan Nella malah semakin bersemangat memainkan permainan panas mereka di dalam ruangan itu.
Mona pun akhirnya menyerah. Ia memilih meninggalkan ruangan itu dan melangkah menuju dapur dengan langkah gontai.
"Ya, Tuhan! Apakah ini karma yang harus aku terima karena sudah merusak rumah tangga kakakku sendiri?" gumam Mona sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Setibanya di dapur, Mona duduk di meja makan kemudian meraih segelas air putih lalu meneguknya hingga tandas.
"Sayang, semoga pilihan Ibu tepat. Semoga setelah kamu lahir, ayahmu akan menyadari kesalahannya dan kembali kepada kita," gumam Mona lagi sembari mengelus perutnya yang kini sudah mulai terlihat membesar dari sebelumnya.
Setelah beberapa jam kemudian.
Karena kelelahan Mona sampai tertidur di meja makan. Ia terbangun ketika mendengar suara kulkas dibuka oleh seseorang. Mona mengerjapkan matanya lalu memperhatikan sosok wanita yang kini tengah berdiri di depan kulkas.
"Ya ampun, bagaimana ceritanya sampai kulkas kering kerontang seperti ini? Lihat isinya, hanya air putih dan air putih!" gumam Nella dengan wajah menekuk kesal.
Saat itu Nella tengah kelaparan setelah kelelahan bermain panas bersama Arga dan ingin memakan sesuatu. Namun, ia harus menelan kekecewaan karena tidak bisa menemukan apa pun untuk ia makan di dalam kulkas tersebut.
...***...