
Beberapa hari kemudian.
"Hai, Ris! Bagaimana jualanmu, laku banyak?" tanya Ayu kepada Risa yang tengah sibuk merapikan gendongan Lily.
Risa tersenyum "Begitulah, Yu. Namanya juga baru memulai. Semua butuh proses."
"Kamu benar. Oh ya, sekarang kamu mau ke mana?"
"Aku mau nganterin barang orang ke gang sebelah. Katanya sih gak terlalu jauh dari sini," sahut Risa.
"Sebenarnya aku mau ikut kamu, Ris. Tapi sayangnya aku belum mandi," ujar Ayu sambil tergelak. "Ya, sudah. Gak jadi, deh."
"Tidak apa-apa."
Risa yang sudah selesai merapikan gendongan Lily, segera pamit kepada Ayu. Risa berjalan menelusuri jalan setapak, menuju kediaman Mbak Khalisa untuk mengambil barang pesanan orang yang akan ia antar ke alamatnya.
Sesampainya di kediaman Khalisa.
"Nih bukan, ya?"
"Iya, Mbak. Yang ini," jawab Risa sambil tersenyum semringah meraih barang pesanan orang yang sudah terbungkus rapi tersebut dari tangan Khalisa.
"Hati-hati di jalan ya, Ris. Jam-jam segini biasanya jalanan masih padat merayap. Apalagi hari ini 'kan hari Minggu." Khalisa mencoba mengingatkan.
Risa terdiam sejenak setelah ia teringat bahwa hari ini adalah hari Minggu. Hari di mana Arga dan Mona akan bersanding menjadi raja dan ratu sehari di atas pelaminan mereka. Seketika aura wajah Risa berubah. Yang tadinya tampak semringah, kini berubah menjadi sedih.
"Risa? Risa, hallo? Kamu tidak apa-apa, Ris?" tanya Khalisa heran sambil menepuk pelan pundak Risa.
Risa pun terperanjat. Seketika lamunannya buyar. Ia tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya hanya lupa bahwa hari ini adalah hari Minggu," jawab Risa. "Ya, sudah. Saya berangkat dulu," lanjutnya.
"Ya, hati-hati!"
Risa melanjutkan perjalanan sambil menggendong si mungil Lily di dalam pelukannya. Melewati rumah demi rumah dan akhirnya Risa berada di jalan raya. Sama seperti yang dikatakan oleh Khalisa, jalan raya tampak padat merayap dengan berbagai kendaraan bermotor.
Risa berjalan di pinggir jalan sambil sesekali melirik ponsel bututnya. Di mana tertulis dengan jelas alamat lengkap sang pembeli.
Sementara itu.
"Aku masih di jalan, tak jauh dari rumah oma-mu. Di sini jalannya cukup padat, Chel. Aku tidak bisa cepat-cepat," terdengar celotehan seorang lelaki di dalam sebuah mobil yang sedang melaju di jalan tak jauh dari Risa berada. Lelaki itu tampak asik bicara bersama seseorang di ponselnya.
"Ya, sudah dulu! Gimana aku mau fokus menyetir, kalau kamu terus-terusan menghubungiku? Seharusnya yang kamu gangguin itu Ryan, bukan aku!" kesalnya.
Setelah puas menggerutu kepada lawan bicaranya, lelaki itu pun berniat menyimpan kembali ponsel tersebut ke dalam saku kemeja yang ia kenakan. Namun, naas bukannya masuk ke dalam saku, benda pipih itu malah terjatuh ke bawah kursi.
Lelaki itu akhirnya mencoba menggapai ponsel tersebut tanpa melihat kondisi jalanan saat itu. Ketika ia berhasil meraih benda tersebut, ia tidak sadar mobilnya oleh ke pinggir jalan dan menyerempet seorang pejalan kaki.
Brugkhh!
Lelaki itu bergegas menghentikan mobilnya dan keluar untuk menemui wanita itu. Dengan wajah yang memucat, lelaki itu menghampiri Risa yang tersungkur di jalan bersama bayi mungilnya. Beruntung Lily tidak kenapa-napa. Ia hanya terkejut dan akhirnya menangis histeris.
"Ya Tuhan! Maafkan aku, Mbak! Aku tidak sengaja!" ucap lelaki itu sembari mencoba membantu Risa.
"Hushhh, tidak apa, Sayang. Tidak apa," gumam Risa yang mencoba menenangkan bayi Lily.
Lelaki itu terdiam sejenak setelah mendengar suara lembut Risa. Ia benar-benar hapal dengan pemilik suara lembut itu. Lelaki itu pun menoleh ke wajah Risa.
"Ri-Risa?!" pekiknya.
Risa mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan lelaki itu. "Mas Ayden?"
"Ya ampun, Ris. Kamu tidak apa-apa?" Ayden semakin panik setelah mengetahui bahwa yang menjadi korbannya adalah Risa. Wanita pujaan yang pernah menjadi kekasihnya dahulu.
"A-aku baik-baik saja, Mas." Risa mencoba bangkit dengan dibantu oleh lelaki itu.
Ayden memperhatikan seluruh tubuh Risa dengan seksama, bahkan tanpa terlewat satu inci pun. Ia takut terjadi apa-apa kepada wanita itu.
"Serius, Ris? Kamu baik-baik saja?" tanya Ayden lagi dengan wajah cemas.
"Beneran kok, Mas. Aku baik-baik saja."
Tiba-tiba beberapa orang warga sekitar berdatangan menghampiri Risa dan Ayden. Wajah mereka terlihat tidak bersahabat.
"Apa yang terjadi di sini? Apa laki-laki ini sudah mengganggumu, Mbak?" tanya salah seorang dari mereka kepada Risa.
Risa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Pak. Dia teman saya dan saya juga baik-baik saja!"
Wajah lelaki itu tampak menekuk setelah mendengar jawaban dari Risa. Kini ia menatap Ayden dengan tatapan sinis.
"Seharusnya kamu itu dikasih pelajaran, hei, Anak Muda! Memangnya apa yang kamu lakukan hingga tidak melihat wanita sebesar ini berjalan di pinggir jalan? Atau kamu memang baru belajar menyetir mobil, iya?" geram lelaki itu dan dibalas anggukan kepala oleh beberapa orang laki-laki yang datang bersamanya.
"Ehm, bukan seperti itu, Pak. Tapi ya, aku mengaku bersalah dan aku siap bertanggung jawab kepadanya," jawab Ayden mantap.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya bawa wanita ini berobat. Apa kamu tidak kasihan melihat dia sampai terjatuh bersama bayinya?" lanjut lelaki itu.
"Baik, Pak. Saya akan segera membawanya berobat."
Ayden melirik Risa. "Mari, Ris. Aku anterin kamu berobat."
"
Risa pun segera menganggukkan kepalanya. "Baik, Mas."
Setelah Ayden dan Risa memasuki mobil, para warga pun segera kembali ke tempat mereka masing-masing.
...***...