Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Membuntuti Mona


Risa mengembalikan ponsel Arga di posisi semula, seolah tidak pernah tersentuh olehnya. Risa yang sudah mempersiapkan mentalnya, berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang perselingkuhan yang terjadi antara suami dan adiknya tersebut. Padahal semua bukti sudah ada di tangannya. Ia menyimpan semua bukti perselingkuhan itu di ponsel miliknya.


Risa duduk di tepian tempat tidurnya sambil memberikan asi kepada Lily. Raganya memang berada di ruangan itu, tetapi tidak dengan jiwanya. Risa bahkan tidak lagi berhasrat melihat sosok Arga yang masih tertidur dengan nyenyaknya di atas tempat tidur.


"Yang jadi pertanyaan sekarang, untuk apa obat penggugur kandungan itu? Apakah saat ini Mona tengah mengandung? Oh ya, Tuhan!" gumam Risa dalam hati.


Tidak berselang lama, Arga pun terbangun. Ia menggeliatkan tubuhnya dan segera bangkit. Tak lupa ia meraih ponsel yang ia letakkan di samping bantal kemudian menyimpannya ke dalam nakas.


"Kapan Mas pulang?" tanya Risa, tampak berbasa-basi.


"Mungkin jam 9 atau 10-an. Pokoknya kamu sudah tidur dan Mas tidak ingin mengganggu tidurmu," jawab Arga sembari melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


"Rame acaranya?"


Arga menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Risa yang memasang wajah dingin. Bahkan wanita itu sama sekali tidak melihat ke arahnya saat bicara.


Arga tersenyum miring. "Kamu kenapa sih, Ris? Tumben tanya-tanya. Aku dan temanku hanya ngobrol-ngobrol biasa saja, kok. Apanya yang rame?"


Risa tidak menjawab. Wajahnya masih terlihat datar dan dingin. Melihat Risa yang sama sekali tidak merespon ucapannya, Arga pun kembali melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


"Kamu aneh-aneh saja," gumam Arga.


Beberapa jam kemudian.


Setelah berpakaian, sarapan dan sebagainya, Arga pun segera pamit kepada Risa untuk pergi bekerja, sama seperti biasanya. Risa masih bisa menyembunyikan emosinya dengan baik bahkan di hadapan lelaki itu.


Setelah Arga pergi, Risa berniat menemui Mona di kamarnya. Namun, baru saja Risa tiba di ruangan itu, Mona sepertinya sudah bersiap-siap untuk pergi.


"Mau kemana kamu, Mona?" sapa Risa sambil memperhatikan penampilan Mona yang terlihat lebih rapi dari biasanya.


"Aku mau jalan sama temen aku, Mbak. Dia minta aku temenin buat beli keperluan dia," jawab Mona sambil tersenyum kecut menatapnya.


Mata Mona tampak sembab karena tadi malam ia terus menangis. Ia merasa sakit hati karena Arga menolak kehamilannya mentah-mentah. Risa menyadari hal itu, tetapi kali ini ia tidak peduli. Risa yakin rasa sakit yang ia hadapi saat ini jauh lebih sakit dari pada adik perempuannya itu.


"Jalan sama teman atau kekasihmu, Mona?" tanya Risa datar, sambil menatap lekat kedua netra indah milik Mona.


Mona kembali tersenyum kecut. "Ish, Mbak Risa bisa aja. Serius, aku mau jalan sama teman, Mbak. Temen sekolahku dulu," jawabnya.


Tiba-tiba Risa teringat akan video panas Mona dan suaminya. Di mana Mona begitu menikmati percintaan panas mereka. Mona bahkan berkali-kali mengerang dan tanpa sungkan meminta Arga untuk menambah kecepatan gerakannya.


Risa merasa jijik. Ingin sekali ia memukul, mencakar serta menghajar Mona habis-habisan. Namun, ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk memukul seseorang seperti Mona. Ia yakin pembalasan dari Tuhan akan lebih menyakitkan dari itu.


Mona melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ya, sudah, Mbak. Aku pamit dulu. Aku janji tidak akan lama," ucap Mona sembari meraih tangan Risa kemudian mencium puncaknya.


Mona yang sudah melangkah beberapa langkah meninggalkan Risa, tiba-tiba berbalik dan menatap Risa sambil tersenyum heran. Ia merasa bingung dengan sikap Risa yang tampak dingin pagi ini. Selain itu ucapan-ucapan Risa pun terdengar agak aneh dari biasanya.


"Ya, Mbak."


Mona kembali melangkah pergi dan meninggalkan kediaman kakaknya itu dengan tergesa-gesa. Risa segera menemui Bi Surti di dapur dan meminta wanita paruh baya itu untuk menjaga Lily sebentar.


"Sebentar saja ya, Bi!" pinta Risa.


"Baik, Non Risa."


Setelah menitipkan Lily kepada Bi Surti, diam-diam Risa membuntuti Mona dari kejauhan. Ia yakin Mona tidak pergi bersama temannya, melainkan bersama suaminya.


Risa terus mengikuti langkah Mona tanpa sepengetahuan adik perempuannya itu. Hingga akhirnya kecurigaan Risa pun terbukti. Dari kejauhan ia lihat mobil hitam milik Arga terparkir di pinggir jalan. Tak jauh dari gerbang komplek perumahan yang mereka tempati.


Risa mengintai dari jarak yang cukup aman hingga pasangan itu tidak mencurigai keberadaannya. Arga membuka pintu mobil dan Mona pun segera masuk ke dalam benda beroda empat itu. Kini mereka melaju, meninggalkan tempat itu.


"Ya, Tuhan. Ternyata firasatku benar. Mona pergi bersama Mas Arga. Sebenarnya mau ke mana mereka? Mas Arga bahkan rela tidak masuk kerja demi bisa bersama Mona," gumam Risa dengan mata berkaca-kaca.


"Risa?"


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Risa dan berhasil mengejutkan wanita itu. Risa berbalik kemudian tersenyum menatap wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya.


"Eh, Bu RT."


Wanita itu melihat ke arah jalan untuk beberapa saat kemudian kembali fokus pada Risa yang berada di hadapannya.


"Ngapain kamu di sini, Ris?" tanyanya penuh selidik.


"Ehm, saya mau beli gorengan di sana, Bu," jawab Risa sambil menunjuk ke arah abang-abang penjual gorengan yang baru saja menggelar dagangannya.


Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya. Seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Risa barusan.


"Serius? Ibu pikir kamu lagi buntutin adek perempuan kamu," celetuk Bu RT.


Mata Risa membulat sempurna. Ia terkejut mendengar penuturan dari wanita paruh baya itu. "A-apa maksudmu, Bu?"


"Sini, kemarilah, Nak. Biar kita enak ngobrolnya," ajak wanita itu seraya menarik tangan Risa agar mengikuti langkahnya.


...***...