
Risa berjalan menelusuri jalan tanpa tahu arah dan tujuan. Ia berhenti di tempat pemberhentian bus dan duduk di sana sambil melepas penat. Dia tidak sendiri, masih ada beberapa penumpang lain yang juga menunggu bus berhenti di tempat itu.
Tidak berselang lama, sebuah bus besar berhenti tepat di hadapan Risa. Semua orang yang berada di tempat itu segera menaiki alat transportasi besar tersebut. Hanya Risa yang terdiam dan terbengong-bengong melihatnya.
"Ikut, enggak, Mbak?" tanya salah seorang penumpang yang melihat Risa hanya diam dan tak bergerak dari posisinya.
Risa tampak berpikir sejenak hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut bersama bus besar itu.
"Tunggu, Pak. Baiklah, aku akan ikut."
Risa meraih kopernya lalu menaiki bus tersebut. Ada sebuah kursi kosong dan ia pun segera duduk di sana, di samping seorang wanita muda yang mungkin masih seumuran dengannya.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya wanita itu kepada Risa sambil tersenyum hangat.
Risa tersenyum getir. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sebab ia sendiri tidak tahu ke mana kakinya akan melangkah.
"Bus ini tujuannya ke mana ya, Mbak?" tanya Risa tampak ragu-ragu.
Wanita itu mengerutkan alisnya heran. "Ke kota A, Mbak. Memangnya Mbak mau ke mana? Jangan-jangan Mbak tersesat lagi," tanya wanita itu balik sembari memperhatikan koper milik Risa yang berukuran cukup besar.
Risa menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak kok, Mbak. Aku tidak sedang tersesat. Aku memang ingin merantau ke kota A dan mencari pekerjaan di sana," jawab Risa.
"Oh, kirain Mbak tersesat." Wanita itu manggut-manggut. "Aku juga mau ke kota A, Mbak. Soalnya aku kerja di sana," lanjutnya.
"Ehm, maaf. Kalau boleh bertanya kamu kerja apa di sana? Apakah ada lowongan pekerjaan untukku, tapi ...." Risa melirik bayi Lily yang sedang tertidur di pelukannya. "Aku punya bayi, Mbak. Apakah mungkin ada pekerjaan yang bisa menerima dengan kondisiku yang seperti ini?"
Wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kerja di sebuah rumah makan, Mbak. Dan maaf, di sana pekerjaannya cukup sibuk, jadi rasanya tidak mungkin mereka memperbolehkan karyawannya membawa bayi," jawab wanita itu dengan wajah sedih menatap Risa.
"Oh, seperti itu, ya?" Risa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya lagi.
"Ehm, Mbak sudah punya tempat tinggal di sana?" tanya wanita itu lagi.
Risa menggelengkan kepalanya pelan. "Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota itu, Mbak."
"Kalau kamu mau nyari kost-kostan yang murah meriah, aku bisa memberitahumu. Kebetulan aku juga tinggal di sana. Tapi ya itu, sesuai dengan kondisi kost-annya juga, sih. Kecil dan lumayan jauh dari jalan raya."
Risa tampak menimbang-nimbang. "Seberapa jauh dari jalan raya?"
"Tidak terlalu, sih. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki kok, Mbak."
"Ehm, sepertinya aku berminat, Mbak," ucap Risa dengan begitu antusias.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama."
"Ehm, kenalin namaku Ayu," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Risa.
"Risa." Ia tersenyum kemudian menyambut uluran tangannya.
Cukup lama Risa dan Ayu berbincang-bincang di dalam bus itu. Ayu bahkan tak sungkan membicarakan tentang asal usul dan statusnya sebagai seorang perawan tua kepada Risa. Hingga tak terasa bus itu pun berhenti di sebuah halte di kota A.
"Ayo, Risa. Ikuti aku," ucap Ayu.
"Baik." Risa kembali menyeret kopernya dan mengikuti langkah Ayu, wanita yang baru ia kenal itu.
Risa hanya bisa pasrah dan berharap Ayu adalah orang baik yang tidak akan mengambil keuntungan dari kesengsaraannya saat ini.
Lumayan jauh Risa berjalan bersama Ayu di tengah teriknya sinar matahari. Hingga akhirnya wanita itu berhenti di depan kost-kostan, di mana ia tinggal.
"Nah, ini kost-annya, Ris. Ya, seperti yang aku bilang tadi. Kost-annya kecil dan jauh dari jalan raya. Tapi, kalau soal harga, kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyurvei semua harga kost-kostan di sekitar sini dan di sinilah yang paling murah meriah," ucap Ayu sambil tersenyum lebar.
Risa memperhatikan tempat itu dan sekitarnya. Terlihat cukup nyaman dan aman. Warga di sekitar tempat itu pun tampak ramah.
"Bagaimana? Jika kamu berkenan, aku bisa ajak kamu bertemu sama yang punya kost-kostan. Lagi pula masih ada dua kamar yang masih kosong," ucap Ayu lagi.
Risa pun mengangguk. "Baiklah. Aku setuju."
"Yukk, ikuti aku."
Risa pun segera mengikuti Ayu untuk menemui sang pemilik kost-kostan tersebut.
Sementara itu di kediaman Arga.
Kantung mata Arga tampak membesar. Tadi malam ia tidak bisa tidur dan hari ini ia bahkan tidak bisa masuk kerja. Hati dan pikiran lelaki itu terus tertuju pada Risa yang kini sudah pergi dari kehidupannya. Arga duduk termenung di tepian ranjang dengan tatapan kosong tertuju pada pintu lemari pakaian yang terbuka.
Tampak jejeran baju-baju daster milik Risa yang masih tertinggal di sana. Pakaian yang memang sengaja tidak dibawa serta oleh wanita itu atas permintaan Arga. Pergi hanya dengan satu lembar pakaian di badan.
"Aku tidak menyangka kamu akan benar-benar nekat mengambil keputusan itu, Risa. Tapi, bukan Arga Wijaya namanya jika aku harus memohon dan merengek agar kamu kembali padaku. Aku yakin, di tengah keputusasaanmu, kamu akan datang dan merengek agar bisa kembali padaku," gumam Arga.
...***...