
Kehadiran bayi Mona yang cacat, menjadi pergunjingan para tetangga. Hampir setiap pagi, ketika melihat Mona menjemur bayinya, mereka terus saja bergosip ria, membicarakan kemalangan bayi itu.
Seperti sekarang ini, Mona tengah asik menjemur bayi laki-lakinya yang diberi nama Bian Aditama, di depan teras rumahnya. Ia tahu bahwa tetangga-tetangga sebelah rumahnya terus bergunjing tentang bayi mungil tersebut. Namun, Mona tetap tidak peduli selama mereka tidak menyentuh anaknya.
"Lihatlah, anaknya cacat. Kaki dan tangannya tidak dapat tumbuh dengan sempurna. Kamu tau kenapa?" ucap salah satu tetangganya yang sedang asik bicara dengan tetangga lainnya.
"Tidak. Kenapa, sih?"
"Menurut kabar yang aku dengar, katanya dia itu sudah menghancurkan rumah tangga kakaknya sendiri dengan merebut suami kakaknya. Kalau menurutku itu sih karma, ya. Karma yang memang pantas untuk dia dapatkan karena sudah menjadi pelakor. Apalagi pelakor buat kakaknya sendiri," celetuk orang itu sambil melirik sinis ke arah Mona.
"Kakaknya? Maksudmu si Risa?"
"Ya, iyalah! Siapa lagi," sahut wanita itu.
"Owalahhh, ck ck ck pantes emang. Sekarang dia merasakan akibatnya, 'kan. Punya anak cacat trus ditinggal suami," timpal yang lain.
"Iya, bener. Bu."
Mona tersenyum menatap kedua netra mungil itu kemudian membelai wajahnya yang masih memerah dengan lembut.
"Biarkan mereka mau bicara apa saja tentangmu, Nak. Ibu tidak peduli. Dan kamu juga, kamu harus kuat dan jadilah kebanggaan Ibu," ucap Mona dengan mata berkaca-kaca menatap bayi mungil itu.
Kemungkinan Bian adalah anak pertama dan terakhir untuk Mona. Setelah berhasil melahirkan bayi lelakinya itu, Dokter terpaksa mengangkat rahim Mona karena pada saat itu ia mengalami pendarahan yang sangat hebat pasca melahirkan. Sebab itulah Mona rela mempertahankan sosok mungil Bian di tengah-tengah gunjingan hebat para tetangganya.
"Mona, udahan yuk berjemurnya." Bu Lidia menghampiri Mona lalu meraih bayi mungil itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ia sengaja membawa masuk Bian dan Mona karena tahu para tetangga sebelah rumah tengah asik menggunjing anak dan cucunya.
Sementara itu di tempat lain.
"Ya, Tuhan! Ternyata benar," pekik Risa sambil memandangi sebuah testpack bergaris dua yang ada di tangannya.
Risa tampak cemas dan takut. Takut Ayden tidak bisa menerima kehamilannya yang begitu cepat sama seperti Arga dulu. Dengan gemetar, Risa keluar dari kamar mandi lalu duduk di tepian tempat tidur sambil merenungi nasibnya.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika Mas Ayden tidak bisa menerima bayi ini? Apakah kejadian itu akan terulang lagi pada bayiku?" gumamnya dengan wajah cemas.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ayden yang ingin berangkat kerja, segera menghampiri Risa yang masih duduk termenung di tepian tempat tidur.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, 'kan? Kepalanya masih sakit? Kalau ya, biar aku antar kamu ke dokter," ucap Ayden dengan wajah cemas.
Risa menoleh kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Mas, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Mas, coba lihat ini." Risa menyodorkan testpack bergaris dua miliknya ke hadapan Ayden dengan tangan gemetar.
"A-apa ini?" tanya Ayden heran sembari meraih testpack tersebut lalu memperhatikannya dengan seksama.
"Itu milikku, Mas. Aku hamil," lirih Risa dengan wajah tertunduk menghadap lantai.
"Ha-hamil?" pekik Ayden.
Tubuh Ayden bergetar hebat setelah mendengar penuturan dari Risa barusan. Alat test kehamilan itu bahkan hampir saja jatuh dari tangannya.
"I-iya, Mas. Maafkan aku," lirih Risa sambil mengangkat kepalanya dan menatap Ayden dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf? Kenapa kamu harus meminta maaf padaku, Risa sayang?"
Risa menautkan kedua alisnya ketika melihat bagaimana reaksi Ayden saat itu. "Mas tidak marah padaku?"
"Ya ampun, Sayang! Kenapa aku harus marah padamu. Malah sebaliknya, aku sangat-sangat bahagia mendengarnya," jawab Ayden dengan begitu antusias. Ia bahkan memeluk dan menciumi Risa tanpa henti.
"Benarkah? Mas tidak marah karena aku hamil secepat ini?" tanya Risa lagi, mencoba meyakinkan jawaban dari suaminya itu.
"Ya, Sayang. Tentu saja, aku sangat-sangat bahagia!" pekik Ayden sekali lagi dengan setengah berteriak.
"Ya ampun, Mas." Risa tersenyum penuh haru. Jika sekarang Ayden begitu bahagia menyambut kehamilannya, berbeda ketika ia bersama Arga dulu. Arga bahkan sampai syok dan tidak memperdulikan dirinya hingga ia melahirkan si kecil Lily.
"Terima kasih, Risa. Kamu telah memberikan warna yang indah dalam hidupku. Kamu dan Lily," ucap Ayden sembari memeluk tubuh Risa dengan erat.
"Dan bayi ini," sambung Risa sambil mendongak menatap Ayden.
"Ya, dan bayi kita," jawabnya.
.
.
.
...💕💕💕 The End 💕💕💕...