
Dokter menghembuskan napas berat. "Mbak, ada berita buruk yang harus saya sampaikan," ucap Dokter itu kepada Mona.
Melihat ekspresi wajah Dokter yang tampak sedih, Mona pun mulai penasaran. "Ada apa, Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada bayi saya?"
"Begini, Mbak Mona. Kondisi janin Anda tidak berkembang dengan baik. Kemungkinan besar bayi ini akan terlahir dengan tidak sempurna," jelas Dokter.
"Apa? Bagaimana ini bisa terjadi, Dok? Padahal selama ini saya baik-baik saja. Makanan dan minuman yang saya konsumsi pun semuanya sehat dan tidak ada masalah. Lalu bagaimana mungkin janinku tidak tumbuh dengan sempurna?" protes Mona dengan wajah kesal menatap Dokter.
"Semua bisa saja terjadi, Mbak. Mungkin saja Mbak pernah mengkonsumsi obat dengan dosis keras dan akhirnya mempengaruhi perkembangan janin Anda," jelas Dokter.
"Obat keras?"
Mona tampak mengingat-ingat. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa dulu Arga pernah memaksanya meminum obat penggugur kandungan. Bahkan bukan hanya satu atau dua biji saja, melainkan beberapa biji secara langsung dalam sekali waktu.
"Ya, Tuhan!" Tubuh Mona bergetar hebat. Wajahnya memucat dan matanya pun langsung berkaca-kaca.
"Anda baik-baik saja, Mbak?" tanya Dokter yang mulai cemas.
"Dokter, dulu ketika pertama kali saya mengetahui bahwa saya tengah mengandung, saya pernah dicekoki beberapa biji obat penggugur kandungan oleh lelaki yang kini menjadi suami saya. Saya sempat tumbang dan dilarikan ke Rumah Sakit. Tapi pihak Rumah Sakit tidak memberitahu apa pun soal janin saya, Dok. Mereka hanya bilang bahwa kandungan saya masih bisa diselamatkan, itu saja," tutur Mona sambil terisak.
Dokter menghembuskan napas beratnya sekali lagi. "Ya, mungkin saja saat itu janin Anda memang masih baik-baik saja. Seharusnya setelah kejadian itu, Mbak sering-sering cek kondisi kandungan Anda ke dokter spesialis," sahut Dokter.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Dok? Apakah janin ini bisa kembali tumbuh normal seperti bayi-bayi lainnya?" tanya Mona sambil menatap Dokter dengan tatapan penuh harap.
Dokter menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Maafkan saya, Mbak. Tapi Mbak bisa diskusikan masalah ini kepada suaminya terlebih dahulu. Apakah bayi ini dibiarkan tumbuh dan lahir dengan kondisi 'tidak sempurna' atau digugurkan saja," ucap Dokter, memberikan pilihan kepada Mona.
Mona terdiam sambil berpikir keras. "Jika aku bicarakan masalah ini kepada Mas Arga, Mas Arga pasti akan memintaku menggugurkan bayi ini, secara dia memang tidak pernah menginginkannya. Dan aku yakin setelah itu ia pasti akan menceraikan aku karena sudah tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan pernikahan ini," gumam Mona dalam hati.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Dokter kepada Mona yang masih terdiam.
"Tidak perlu, Dok. Saya rasa tidak perlu membicarakan masalah ini kepada suamiku. Biar aku sendiri yang akan memutuskannya, dan aku memutuskan akan membiarkan janin ini hidup di dalam kandunganku hingga ia lahir nanti," jawab Mona dengan tegas.
Dokter menghela napas lega. "Baiklah kalau begitu."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada Dokter kandungan tersebut, Mona pun segera kembali menuju tempat parkir, di mana Arga masih menunggunya.
Di dalam mobil.
"Iya, Sayang. Baiklah, aku akan segera transfer uangnya," ucap Arga kepada seseorang yang sedang bicara dengannya di seberang telepon.
Kedua netra milik Arga kini tertuju pada Mona yang datang mendekat ke arahnya dengan wajah kusut.
"Sayang, sudah dulu, ya. Nanti kita sambung lagi. Bye! Love you," ucap Arga sebelum ia memutuskan panggilannya.
Mona membuka pintu mobil kemudian duduk di samping Arga.
"Kamu kenapa? Wajahmu seperti orang yang baru saja bertemu setan," ucap Arga sambil terkekeh menatap wajah kusut Mona.
Mona menghela napas berat. "Kenapa Mas Arga malah bicara seperti itu? Apakah Mas Arga tidak penasaran bagaimana kondisi calon bayi kita?"
Arga kembali terkekeh. "Sayangnya aku sama sekali tidak penasaran bagaimana kondisi bayi itu. Lagi pula kamu sendiri kan sudah tahu, aku sama sekali tidak peduli padanya."
"Ya ampun, Mas Arga!" geram Mona dengan wajah memerah.
Mona membuang muka dan menatap ke arah luar jendela. Sementara Arga kini tampak fokus pada kemudinya.
Sementara itu di tempat lain.
Hari ini rencananya Ayden akan menyusul Rachel di kediaman oma Hana di kota A. Ia benar-benar sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya. Ditambah lagi, si Rachel dengan begitu sengaja mengacuhkan panggilan serta chat darinya sejak kemarin sore.
Ayden melangkahkan kakinya dengan cepat menuju area parkir. Area parkir yang dikhususkan untuk para petinggi perusahaan, termasuk dirinya yang menjabat sebagai CEO di perusahaan besar tersebut.
Ya, dengan hasil kerja kerasnya, Ayden berhasil diangkat menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan besar di tengah kota yang bergerak dalam bidang jasa telekomunikasi.
Ketika di perjalanan menuju area parkir, tiba-tiba Ayden mendapatkan panggilan dari seseorang. Ayden segera meraih ponselnya kemudian menatap layar pipih tersebut dengan seksama.
"Ck!"
Lelaki itu berdecak sembari membuang napas kasar.
"Rena," gumamnya sambil memasang wajah malas. Dengan terpaksa Ayden pun menerima panggilan dari gadis itu.
"Ya, Ren?"
"Mas. Mas Ayden di mana?" Terdengar suara lembut dari seorang gadis yang bernama Renatta tersebut. Gadis cantik berambut pirang yang kini menunggu di depan perusahaan besar tersebut.
"Aku lagi menuju area parkir. Memangnya kenapa?"
"Wah, kebetulan sekali, Mas. Saat ini aku sedang menunggu Mas di depan gerbang perusahaan. Aku ingin mengajak Mas Ayden bersantai di kafe X," ucap gadis cantik berusia 20 tahun itu dengan begitu semangat.
Lagi-lagi Ayden membuang napas berat.
"Mas? Mas masih di sana, 'kan?" tanya Renatta karena Ayden terdiam dan tak menjawab ajakannya.
"Ya, aku mendengarkanmu. Tunggulah di sana, sebentar lagi aku akan segera menyusul mu," jawab Ayden kemudian.
Ayden mempercepat langkahnya menuju area parkir kemudian masuk ke dalam mobil kesayangannya itu.
Selang beberapa saat.
Akhirnya Ayden tiba di depan gerbang perusahaan besar itu. Dari kejauhan ia sudah dapat melihat mobil milik Pak Guntur yang terparkir tak jauh dari posisinya. Mobil yang ditumpangi oleh anak gadisnya Pak Guntur, Renatta Alicia.
Ayden menghentikan mobilnya tepat di samping mobil tersebut dan hanya dalam sepersekian detik berikutnya, seorang gadis keluar lalu berlari kecil menuju mobil Ayden.
"Masuklah," ucap Ayden sembari membukakan pintu mobilnya untuk Renatta.
"Terima kasih, Mas."
Ayden tersenyum tipis kemudian kembali melajukan mobilnya menuju kafe X, seperti permintaan Renatta sebelumnya.
"Tumben Mas Ayden pulang cepat. Memangnya Mas mau ke mana?" tanya Renatta sambil memperhatikan penampilan Ayden yang selalu terlihat rapi dan sempurna.
"Maafkan aku, Rena. Hari ini aku tidak bisa menemanimu lama-lama. Hari ini aku ingin berkunjung ke kediamannya Oma Hana. Rachel menginap di sana dan dia memintaku untuk menjemputnya."
Renatta tampak kecewa. Wajahnya menekuk dan keningnya pun ikut mengerut. "Yah, sayang sekali," ucap Renatta.
"Oh iya, Mas. Bagaimana jika aku ikut Mas Ayden saja ke tempat Oma Hana? Nanti aku minta izin kepada Ayah dan Ibuku. Aku yakin mereka pasti mengizinkan aku, selama aku bersama Mas Ayden," bujuk Renatta.
Lagi-lagi Ayden membuang napas beratnya. "Jangan, Ren. Aku tidak ingin orang-orang berpikiran negatif tentang kita. Masa belum menikah saja, aku sudah berani mengajak kamu menginap di tempat Oma?"
"Tuh, kan! Mas Ayden pasti bilang begitu," gerutu Renatta sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
...***...