Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Mona Melahirkan


"Terima kasih banyak, Mbak. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi," lirih Mona sebelum wanita itu pergi meninggalkan kediaman Risa dan Ayden.


"Ya. Sebaiknya begitu, Mona. Aku berharap hal ini tidak akan pernah terjadi lagi. Cukup sekali dan jangan sampai terulang untuk yang ke-dua kalinya," sahut Risa.


Mona mengangguk pelan kemudian segera membalikkan badan. Wanita itu mulai melangkah dan mulai menjauh dari Risa yang menatapnya di depan pintu. Namun, belum beberapa langkah Mona meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia meringis kesakitan. Mona terduduk di halaman depan rumah Risa sambil memeluk perut besarnya.


"Ya Tuhan, sakit sekali!" rintihnya.


"Mona, kamu kenapa?" Risa berlari kecil menghampiri Mona yang kesakitan.


"Perutku, Mbak. Tiba-tiba sakit, sakit sekali!" ucapnya dengan bibir bergetar hebat.


"Oh ya, Tuhan! Jangan bilang kalau kamu akan melahirkan?" Risa mulai panik.


"Sepertinya memang begitu, Mbak!" Mona yang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya, tiba-tiba jatuh ke tanah dengan posisi meringkuk.


Risa yang panik, akhirnya berteriak memanggil para penjaga keamanan yang berjaga di depan pagar. Para penjaga keamanan itu segara berlarian menghampiri Risa setelah mendengar panggilan darinya.


"Ada apa, Non?"


"Tolong, Mas! Tolong bantu adik saya. Mas tolong angkat adik saya dan Mas yang satunya, tolong minta pak sopir untuk bersiap. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit," titah Risa.


"Baik, Non."


Salah satu penjaga keamanan itu segera mengangkat tubuh Mona dengan susah payah. Ia kemudian membawanya masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah siap mengantarkan mereka ke Rumah Sakit bersalin. Setelah Mona berhasil dimasukkan, Risa pun segera menyusul dan duduk di samping Mona.


"Sakit, Mbak! Aduh, sakit sekali!" keluh Mona dengan mata tertutup menikmati sakitnya rasa kontraksi yang tengah terjadi padanya.


"Sebaiknya kamu jangan mengeluh, Mona. Berdoa lah atau baca-baca ayat suci yang kamu ingat," ucap Risa, mencoba mengingatkan.


"Akhhh, tapi ini sakit sekali, Mbak!" sahut Mona dengan nada setingkat lebih tinggi.


"Ya, semua wanita yang pernah melahirkan juga merasakan hal itu, Mona. Dulu ketika melahirkan Lily, aku juga merasakan hal yang sama," terang Risa.


Bukannya mendengarkan kata-kata Risa, Mona terus saja meringis kesakitan sambil berkeluh kesah. Tidak hanya sampai di situ, semakin sakit yang ia rasakan, semakin meracau mulut Mona. Ia bahkan mulai mencaci maki Arga yang tidak kelihatan batang hidungnya.


"Dasar lelaki pengkhianat! Taunya hanya nikmat semata. Giliran sakitnya, dia bahkan tidak kelihatan batang hidungnya!" umpatnya dengan setengah berteriak.


Risa hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menatap adik angkatnya itu dengan seksama.


Ternyata sumpah serapah Mona tidak cukup di mobil saja. Kini ia melanjutkan sumpah serapahnya hingga ke ruang bersalin. Sekarang yang menjadi sasaran kemarahannya adalah para perawat yang kini tengah menanganinya.


"Maafkan adikku, Suster," ucap Risa kepada salah satu perawat yang bertugas menangani kelahiran Mona.


"Tidak apa-apa, Mbak. Hal ini memang sudah sering terjadi," jawab perawat itu sambil tersenyum. Setelah pintu ruangan bersalin di tutup, Risa pun segera menghubungi kedua orang tua angkatnya untuk memberitahu bagaimana kondisi Mona.


Tidak berselang lama.


Pasangan Pak Abdi dan Bu Lidia pun tiba di Rumah Sakit tersebut dengan wajah cemas. Mereka segera menghampiri Risa yang tengah duduk sendiri di luar ruangan bersalin.


"Ya ampun, Nak. Bagaimana adikmu? Apa dia baik-baik saja?"


"Dia masih di dalam, Bu."


"Ibu akan menyusul ke dalam," ucap Bu Lidia sembari melangkah pergi dan masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani Mona. Sementara Pak Abdi duduk di samping Risa dengan wajah cemas.


"Maafkan Mona ya, Ris. Ayah tahu apa yang dilakukan oleh Adikmu memang tidak patut untuk dimaafkan. Namun, sekarang ia benar-benar sudah menyesalinya dan Ayah berharap kamu sudi memaafkan semua kesalahannya kepadamu," ucap Pak Abdi.


Risa menghembuskan napas berat. "Sudahlah, Ayah, tidak usah bahas soal itu lagi. Lagi pula aku sudah menemukan kebahagiaanku di tempat yang lain dan semoga Mona pun begitu."


Pak Abdi menatap Risa dengan mata berkaca-kaca kemudian menepuk pelan pundak anak angkatnya itu. "Terima kasih, Nak. Ayah tidak tahu harus berkata apa lagi," ucapnya.


Berjam-jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda kelahiran bayi dari Mona. Pak Abdi semakin cemas dan tak hentinya memanjatkan doa untuk keselamatan anak dan calon cucunya itu.


Hingga akhirnya pintu ruangan itu pun terbuka. Bu Lidia keluar dari ruangan tersebut dan berlari menghampiri Pak Abdi. Ia memeluk suaminya itu sambil terisak-isak.


"A-ada apa, Bu?" tanya Pak Abdi heran.


"Cucu kita, Yah. Cucu kita terlahir dengan kondisi tak sempurna," sahut Bu Lidia di sela isak tangisnya.


"Tidak sempurna bagaimana?" pekik Pak Abdi sembari melerai pelukan istrinya itu.


"Dia cacat, Yah. Cucu kita cacat dan anehnya Mona seperti sengaja membiarkan hal itu terjadi. Pantas saja selama ini Mona selalu menolak jika diminta cek kandungan ke dokter," lirih Bu Lidia.


"Ya ampun, Mona!"


...***...