
"Mas, berhentilah! Aku mohon, aku sudah tidak tahan. Perutku keram," lirih Mona, mencoba membujuk Arga agar menghentikan aksinya.
Entah sudah berapa jam lelaki itu memompa tubuhnya di atas tubuh sintal Mona. Yang pasti saat ini Mona sudah merasa lelah dan butuh istirahat karena matanya sudah mengantuk.
Arga tersenyum sinis mendengar penuturan wanita itu. "Kenapa aku harus menghentikannya? Bukankah tadi kamu bilang sangat menginginkan hal ini? Jadi, nikmati saja! Lagi pula aku belum mencapai puncak kepuasanku, Mona."
Akhirnya Mona menitikkan air matanya. Ia benar-benar kecewa karena tidak menyangka malam pertamanya akan berakhir menyakitkan seperti ini.
Beberapa jam kemudian.
"Argghhh!" Tubuh Arga tampak mengejang. Ia mengerang penuh nikmat di atas tubuh Mona yang sejak tadi tampak mematung.
Arga menjatuhkan diri di samping Mona dengan napas yang masih terengah-engah. Setelah napasnya mulai kembali normal, Arga melirik Mona yang masih terdiam tanpa bergerak sedikit pun.
"Heh, kamu kenapa? Keenakan?" Arga terkekeh. Arga mengangkat sedikit badannya dan menatap wajah Mona yang tampak memucat.
"Heh, kamu kenapa?" tanya Arga sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mona. Namun, hingga berkali-kali Arga memanggil namanya, Mona tetap diam dan tak bergerak sama sekali.
Arga penasaran. Ia mengangkat tubuhnya sekali lagi kemudian duduk di samping Mona. Ia kembali menggoyang-goyangkan tubuh Mona lalu mengecek nadi serta napasnya untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Ternyata feeling-nya benar, Mona sudah tidak sadarkan diri (pingsan) setelah digempur habis-habisan olehnya.
Arga yang tadi sempat cemas, akhirnya terkekeh pelan. "Dasar cemen! Baru digempur segitu saja dia sudah pingsan!" gumamnya.
Arga berjalan menuju kamar mandi kemudian membersihkan tubuhnya.
Keesokan harinya.
Mona terbangun dari tidur panjangnya. Ia merasakan sakit yang amat sangat, baik itu di area pribadi maupun di sekujur tubuhnya akibat pertempuran panas yang dilakukan oleh Arga tadi malam. Mona melirik Arga yang masih tertidur lelap di sampingnya.
"Ya ampun, Mas Arga. Aku tidak menyangka ternyata kamu hyper. Pantas saja tubuh Mbak Risa sampai kurus kering. Mungkin karena tiap malam harus melayani napsumu yang begitu mengerikan," gumam Mona dengan raut wajah sedih menatap Arga.
Dengan tertatih-tatih, Mona bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju kamar mandi sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Setibanya di sana, Mona segera berdiri di depan cermin dan menatap bayangannya.
Mona menemukan beberapa tanda biru di tubuh mulusnya akibat perbuatan kasar Arga tadi malam.
"Ternyata kamu mengerikan, Mas. Bukan hanya hyper, ternyata kamu pun memiliki kelainan. Kenapa dengan bodohnya aku tidak menyadari hal itu sejak awal bercinta dengannya," gumam Mona sambil memegangi kulitnya yang membiru.
Selang beberapa saat kemudian.
Hueekkk!
Hueekkk!
Hueekkk!
Arga membuka mata. Suara berisik yang terdengar dari dalam kamar mandi berhasil membangunkan lelaki itu dari tidur nyenyaknya. Wajahnya menekuk dan ia tampak kesal karena suara berisik itu membuat ia merasa terganggu.
"Ahhh, berisik!" kesal Arga sembari bangkit dari posisinya. Ia berjalan menghampiri kamar mandi lalu memasukinya.
Arga melihat sosok Mona yang tengah berdiri di depan westafel sambil memuntahkan isi perutnya. Wajahnya memucat dan wanita itu benar-benar kelelahan dibuatnya.
Mona menoleh ke arah Arga kemudian mencoba tersenyum. "Mas, kemarilah. Tolong bantu balurkan minyak kayu putih ini ke punggungku, biar punggungku jadi hangat," lirih Mona.
Arga tersenyum sinis. "Apa peduliku? Balurkan saja sendiri!" sahutnya acuh tak acuh dan melewati tubuh lemah Mona begitu saja.
"Mas! Mas Arga! Apa kamu sudah lupa, aku begini karena perbuatannya Mas!" geram Mona dengan mata berkaca-kaca.
Arga malah kembali terkekeh. "Siapa bilang? Bukan kah sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku tidak menginginkan bayi itu. Seharusnya kamu itu dengerin aku, Mona! Gugurkan bayi itu, beres 'kan?"
"Ya! Dan setelah bayi ini hilang, kamu pasti akan meninggalkan aku. Benar 'kan?"
Arga tertawa dengan cukup keras di ruangan itu. "Hahaha, tentu saja. Oh ya, sepertinya kamu perlu diingatkan lagi soal hubungan kita, Mona. Kau dan aku sudah sepakat bahwa hubungan kita hanya untuk saling memuaskan satu sama lain. Tidak pernah ada kesepakatan bahwa aku akan bertanggung jawab kepadamu. Tapi lihat sekarang? Kamu dengan sengaja menjeratku ke dalam hubungan yang rumit ini," jelas Arga dengan wajah kesal menatap Mona.
"Dasar bajingan!" hardik Mona tanpa sadar.
Lagi-lagi Arga tertawa mendengar umpatan Mona. "Ya, aku memang bajingan, Mona sayang. Dan ini hanya permulaan. Jadi persiapkan lah jiwa dan ragamu untuk mengetahui siapa aku yang sebenarnya!"
Mona semakin kesal dibuatnya. Cepat-cepat ia mencuci muka kemudian keluar dari ruangan itu.
"Bi! Bi Surti! Kamu di mana, Bi?" teriak Mona yang melangkah dengan terseok-seok mencari keberadaan Bi Surti.
Mendengar teriakkan Nyonya barunya itu, Bi Surti pun bergegas menghentikan aktivitasnya kemudian berlari kecil menghampiri Mona.
"Ehm, iya, Non Mona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Surti dengan tergagap-gagap.
"Bi, tolong balurkan minyak kayu putih ini di punggungku dan berikan sedikit pijatan di sana agar mualku ini sedikit berkurang," titah Mona sembari menyerahkan minyak kayu putih itu kepada Bi Surti.
"Ba-baik, Non."
Bi Surti pun segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Mona kepadanya. Ia membalurkan minyak kayu putih itu ke punggung mulus Mona kemudian memijatnya dengan lembut.
Tiba-tiba Mona terisak. Seluruh tubuhnya bergetar dan kepalanya tertunduk menghadap lantai. Walaupun sempat kesal kepada Mona karena sudah merusak hubungan Arga dan Risa. Namun, Bi Surti tetap merasa iba ketika melihat majikan barunya itu bersedih.
"Nona kenapa?" tanya Bi Surti pelan.
"Ternyata apa yang aku bayangkan selama ini salah. Mas Arga tidak seromantis yang aku pikir. Dia bahkan lelaki paling tega yang pernah aku temui di muka bumi ini," lirih Mona di sela isak tangisnya.
"Sabar ya, Non."
Bi Surti mengelus lembut pundak Mona. Wanita paruh baya itu bingung apakah ia harus senang atau harus bersedih. Senang karena akhirnya Mona tahu siapa Arga yang sebenarnya dan sedih saat membayangkan bagaimana posisi Mona saat diperlakukan dengan kasar oleh Arga.
...***...