
Cukup lama Mona berpikir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak membuka video tersebut. Mona mengembalikan ponsel itu ke dalam saku celana Arga dengan begitu hati-hati. Setelah berhasil meletakkan benda pipih itu, Mona pun segera membaringkan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur.
Waktu terus berlalu. Namun, Mata Mona masih enggan menutup. Pikirannya kalut dan terus menerawang ke mana-mana. Air mata wanita itu bahkan tak hentinya menetes, meratapi nasib buruknya setelah menikah dengan lelaki pujaannya itu. Hingga tak terasa pagi pun tiba.
Arga menggeliatkan tubuhnya. Perlahan ia membuka mata kemudian melirik Mona yang bersandar di sandaran tempat tidur dengan wajah memucat. Bukannya peduli dengan kondisi Mona saat itu, Arga malah berjalan menuju kamar mandi dengan wajah acuh tak acuh.
Sembari berjalan, Arga melepaskan kemeja serta celana yang melekat di tubuhnya kemudian melemparkan benda itu ke sembarang arah. Sementara Arga memasuki kamar mandi, Mona meraih pakaian suaminya itu untuk diletakkan ke dalam keranjang pakaian kotor.
Sebelum memasukkan celana dan kemeja kotor itu, Mona sempat memeriksanya. Takut ada barang atau uang Arga yang nanti malah ikut masuk ke dalam mesin cuci.
"Apa ini?" gumam Mona saat ia tengah memeriksa kemeja milik Arga. Mona menemukan sebuah noda lipstik berwarna pink di dekat kerah kemeja tersebut.
"Arghhh! Awas saja kamu, Mas! Ingatlah, aku akan balas perbuatanmu ini," geram Mona dengan napas yang mulai tak teratur.
Mona membawa kemeja itu ke atas tempat tidur dan menggelarnya di sana. Ia duduk dengan wajah menekuk sempurna.
Beberapa saat kemudian. Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit di pinggang. Tubuh kekar lelaki itu masih dihiasi dengan bulir-bulir air keran yang tadi sempat membasahi tubuhnya.
Arga berjalan menuju lemari pakaian tanpa mempedulikan Mona yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kesal. Belum sempat Arga membuka pintu lemari tersebut, tiba-tiba saja Mona memanggil.
"Mas, kemarilah!"
Arga yang tadinya ingin mengacuhkan wanita itu, akhirnya berbalik lalu membalas tatapannya.
"Apa lagi, ha? Ini masih terlalu pagi dan aku malas berdebat denganmu," jawan Arga dengan wajah malas menatap wanita itu.
Mona mendengus kesal. "Aku pun sebenarnya malas berdebat denganmu, Mas. Sama seperti pasangan lain, aku pun menginginkan rumah tangga yang adem ayem. Tapi, benda ini membuat aku tidak sanggup untuk tetap diam!"
Mona yang sudah meradang, melemparkan kemeja kotor itu ke hadapan Arga dan refleks disambut oleh lelaki itu.
"Lipstik siapa itu, Mas? Si A, si B, si C atau si Z? Begitu banyaknya selingkuhanmu di luaran sana, bahkan mungkin dirimu pun pasti lupa siapa nama mereka," geram Mona dengan setengah berteriak kesal.
Arga melemparkan kemeja itu hingga masuk ke dalam keranjang pakaian kotor dengan kasar. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, ia kembali berbalik menghadap lemari pakaiannya. Walaupun diam, tetapi dari raut wajahnya, tampak jelas bahwa lelaki itu benar-benar tidak suka Mona membahas masalah tersebut.
"Mas! Kamu belum menjawab pertanyaanku! Siapa wanita-wanita itu? Apakah mereka cewek bokinganmu?"
Arga masih tampak acuh, dengan santainya ia membuka lemari pakaian. Namun, setelah mengetahui bahwa pakaian Risa sudah tidak ada di tempatnya, emosi Arga pun akhirnya meluap.
"Di mana baju-baju milik Risa?" tanya Arga dengan tegas.
Mona tersenyum sinis. "Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Siapa wanita-wanita itu?"
"Kamu!" Tangan Arga sempat melayang di udara dan tertahan di sana untuk beberapa detik hingga akhirnya ia menariknya kembali.
"Mereka selir-selirku, kenapa? Sekarang katakan padaku di mana kamu menyimpan baju-baju milik Risa?" geram Arga.
"Sudah, diam! Sekarang kembalikan pakaian milik Risa ke tempat asalnya. Aku tidak mau tahu, semua barang-barang Risa harus kembali ke tempatnya semula sebelum aku pulang nanti sore!" ucap Arga sambil mengancam.
Mona bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Arga. "Apa Mas masih mencintai Mbak Risa?" tanya Mona dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan urusanmu!"
Arga meraih kemeja dan celana kerja dari dalam lemari kemudian mengenakannya dengan wajah acuh tak acuh.
"Ingat, Mas. Mbak Risa itu hanya mantan istrimu. Kamu sudah menceraikannya walaupun hanya secara lisan dan tidak sepatutnya kamu menyimpan barang-barang dari mantan istrimu itu karena aku ada di sini," lirih Mona sambil sesenggukan.
"Memangnya siapa kamu hingga berani-berani mengaturku?"
"Aku ini istrimu, Mas. Hargailah perasaanku!"
"Bukankah kamu sudah tahu, Mona. Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Terpaksa karena ayah dan ibumu terus-menerus merengek meminta pertanggung jawaban dariku atas bayi itu! Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku hanya tergoda dengan kecantikan serta kemolekan tubuhmu. Itu saja, tidak lebih!" tegas Arga.
Mona tercengang mendengar pernyataan Arga barusan. Ia terdiam dengan buliran air mata yang terus menerus mengucur di kedua belah pipinya.
Setelah selesai berpakaian rapih. Arga pun segera melenggang pergi. Namun, ketika berada di ambang pintu kamar utama, Arga menghentikan langkahnya sejenak.
"Ingat! Barang-barang Risa harus sudah kembali ke tempatnya semula sebelum aku pulang dari tempat kerja. Jika pada saat itu aku masih belum menemukan pakaian Risa di dalam lemari kami, maka bersiaplah mendapatkan hukuman dariku," ucap Arga tanpa menoleh sedikit pun.
Arga kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman depan dan melaju bersama mobilnya meninggalkan kediamannya. Sementara Mona masih menangis tersedu di ruangan itu.
"Aku berharap setelah kamu lahir, ayahmu akan berubah dan dapat menerima kehadiran Ibu sebagai istri sahnya," gumam Mona sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Setelah beberapa menit kemudian.
Setelah menyeka air matanya, Mona bergegas keluar dari kamar utama. Ia berjalan menuju dapur, di mana Bi Surti masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Bi! Bi Surti, di mana Bibi membuang pakaian serta barang-barang milik Mbak Risa?" tanya Mona kepada Bi Surti.
"Di depan, Non. Di samping bak sampah. Memangnya kenapa, Non?" tanya Bi Surti balik.
"Tolong ambilkan barang-barang itu kembali dan bawa ke kamar utama. Aku ingin Bibi kembali menatanya ke dalam lemari, sama seperti sebelumnya!" titah Mona.
"Ba-baik, Non."
Setelah memberikan perintah itu, Mona pun segera kembali ke kamar. Sementara Bi Surti hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan Mona yang sudah pergi menjauh darinya.
"Ya ampun, Non Mona! Memangnya apa yang dia inginkan? Apa Tuan Arga yang memintanya untuk mengembalikan barang-barang itu?" gumam Bi Surti.
...***...