
Di Rumah Sakit.
"Apa! Bagaimana bisa? Ta-tapi Dok, anak perempuan saya itu belum menikah. Dia masih single!"
Seorang wanita paruh baya berusia 48 tahun, tampak begitu syok setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang apa yang terjadi pada anak perempuannya. Wanita itu adalah Bu Lidiawati, ibu dari Mona dan Risa.
Tubuh Bu Lidia bergetar hebat, matanya membulat sempurna saat menatap dokter yang duduk di hadapannya dan sesekali terlihat ia meremass kedua tangannya secara bergantian.
"Tapi menurut pemeriksaan kami, itulah yang terjadi pada pasien. Tapi, Ibu tidak usah khawatir. Sekarang kondisi pasien sudah mulai membaik dan beruntungnya lagi, janin yang ada di kandungan pasien masih bisa bertahan," jelas Doktor.
Bu Lidia menoleh ke arah Pak Abdi kemudian terisak. "Ayah, bagaimana ini? Mona ... akh," ucap Bu Lidia di sela isak tangisnya.
Pak Andi hanya bisa membuang napas berat. Ia memeluk tubuh Bu Lidia sambil mengelus punggung wanita itu dengan lembut dan penuh perhatian.
"Sebaiknya kita temui Mona dan minta penjelasan darinya," sahut Pak Abdi.
Bu Lidia melerai pelukannya bersama Pak Abdi. "Iya, Yah. Ibu setuju."
"Terima kasih, Dokter. Kami permisi dulu," ucap Pak Abdi, berpamitan kepada Dokter yang bertugas merawat Mona.
"Sama-sama, Pak. Silahkan," jawab Dokter.
Bu Lidia dan Pak Abdi pun segera kembali menuju kamar Mona. Di mana gadis itu masih terbaring lemah. Ketika ingin memasuki ruangan itu, Bu Lidia sempat melihat Risa yang sejak tadi hanya diam dengan wajah kusut. Namun, Bu Lidia tidak ingin bertanya apa pun kepada Risa karena saat ini Mona lah yang lebih penting dari segalanya.
"Ibu, Ayah ...," lirih Mona dengan mata berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya.
Bu Lidia duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang Mona. Sementara Pak Adi hanya berdiri di samping Bu Lidia dengan tatapan tajam tertuju pada anak gadisnya itu.
"Katakan yang sebenarnya pada Ibu, Mona. Siapa ayah dari bayi yang ada di rahimmu saat ini?" tanya Bu Lidia dengan tegas.
Mona begitu gugup. Ia takut sekaligus malu mengakui semua kekhilafannya bersama Arga kepada kedua orang tuanya tersebut.
"Ehm, itu. Sebenarnya ...."
"Katakan, Mona!" tegas Pak Abdi yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Mona.
"Mas Arga!" jawab Mona refleks setelah mendengar bentakan dari sang ayah.
Mata pasangan itu pun membulat sempurna. Mereka saling tatap dan seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mona barusan.
"Ta-tapi, Bu, Yah. Bayi itu sudah mati karena aku sudah meminum banyak pil penggugur kandungan dan kalian tidak perlu khawatir. Aku berjanji setelah ini aku akan pergi dari kehidupan Mas Arga dan Mbak Risa dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi," jelas Mona dengan tubuh yang bergetar hebat.
Plakkk!
"Siapa bilang bayi itu sudah mati, ha! Bayi itu masih hidup dan mau tidak mau, Arga harus bertanggung jawab atas bayi itu!" geram Pak Abdi sambil menunjuk ke wajah Mona.
"Kamu benar-benar sudah gila, Mona! Kamu sudah bikin malu keluarga kita!" kesal Bu Lidia di sela isak tangisnya. Sama seperti Pak Abdi, Bu Lidia pun begitu marah kepada anak gadisnya itu.
"Maafkan Mona, Bu," lirih Mona sambil terisak.
Pak Abdi yang sudah tidak bisa menahan emosinya segera keluar dari ruangan tersebut. Dengan langkah cepat, ia menghampiri Arga yang masih menunggu di luar ruangan bersama Risa. Namun, dengan jarak yang cukup jauh.
"Sialan kamu, Arga! Apa yang kamu lakukan terhadap Mona, ha!"
Bugkh!
Bugkh!
Bugkh!
Pak Abdi tiba-tiba menyerang Arga dan mendaratkan tamparan yang bertubi-tubi ke wajah serta bagian tubuh Arga yang lainnya. Arga tidak ingin melawan karena ia pun merasa bersalah atas yang terjadi pada Mona. Selain itu Pak Abdi adalah mertua yang baik, yang siap membuka lebar tangannya ketika ia dan Risa menghadapi kesulitan.
"Ayah mertua, saya bisa jelaskan!" Arga mencoba membujuk ayah mertuanya itu agar sedikit lebih tenang. Namun, Pak Abdi tidak menggubrisnya. Ia terus menyerang Arga dengan serangan yang bertubi-tubi.
"Penjelasan seperti apa lagi yang harus aku dengar, Arga. Kamu sudah menghamili anak gadisku dan sekarang kamu harus bertanggung jawab!"
"Baik-baik, Ayah. A-aku akan bertanggung jawab!" jawab Arga dengan terbata-bata.
"Dasar lelaki bejat!"
Bugkhhh!
Sebuah tamparan terakhir yang sangat keras mengenai wajah Arga hingga lelaki itu jatuh tersungkur. Sementara Pak Abdi masih menatapnya dengan tatapan kesal dan geram.
"Bagaimana caranya kamu bertanggung jawab, Arga? Sementara Risa dan Mona adalah adik dan kakak. Apa kamu ingin mempermalukan kami di hadapan semua orang, ha?"
Arga terdiam. Ia pun bingung harus bagaimana. Ia tidak mungkin melepaskan Risa hanya untuk seorang Mona yang selama ini ia anggap sebagai pelampiasan semata. Selain napsu, Arga bahkan tak memiliki perasaan apa pun terhadap Mona. Sekali pun Mona jauh lebih cantik dan lebih seksi dibanding Risa.
Sementara Risa hanya diam seribu bahasa. Ia terus memperhatikan perkelahian ayah dan suaminya tanpa berkeinginan melerai mereka.
"Maafkan aku, Mas Arga. Aku tidak akan pernah meminta Ayah untuk melepaskanmu. Kamu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah kamu lakukan," gumam Risa dalam hati.
...***...