
Beberapa bulan kemudian.
"Beneran kamu tidak mau ikut, Mona?" tanya Bu Lidia sekali lagi kepada Mona yang duduk termenung di sofa ruang depan.
Wajah Mona tampak murung dan tubuhnya pun terlihat semakin kurus saja. Gadis itu bahkan belum melakukan ritual mandi paginya, tetapi sudah duduk di tempat itu sendirian.
Mona menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Bu. Aku masih belum sanggup menampakkan wajahku di hadapan mbak Risa. Aku malu jika teringat bagaimana sikapku selama ini kepadanya," sahut Mona, masih menatap kosong ke arah dinding ruangan.
"Hmmm, kelakuanmu memang sangat keterlaluan, Mona. Tetapi, tidak ada salahnya kamu datang ke pesta pernikahan mbak-mu. Kasih ucapan selamat, trus meminta maaf lah kepadanya atas semua kesalahan yang telah kamu lakukan," jawab Bu Lidia sembari mengelus pundak Mona.
"Aku pasti akan meminta maaf padanya, Bu. Tetapi tidak sekarang," lirihnya.
"Ya, sudahlah kalau begitu. Kami harus segera berangkat, takutnya nanti malah terlambat."
Bu Lidia bergegas menyusul Pak Abdi yang sudah menunggunya di dalam mobil. Sesampainya di sana, ia pun segera masuk lalu duduk di samping suaminya itu.
"Bagaimana? Apa Mona masih bersikeras untuk tidak ikut?" tanya Pak Abdi.
Bu Lidia mengangguk pelan. "Ya, Yah. Katanya dia masih malu bertemulah dengan Risa. Tapi ya sudahlah, biarkan saja dia. Sebaiknya kita berangkat, aku takut terlambat," sahut wanita paruh baya itu.
Pak Abdi mendengus kesal. "Hmmm, Mona memang sangat keterlaluan! Aku sebagai seorang laki-laki saja kesal mendengar semua pengakuannya. Seandainya dia bukan anak perempuanku, mungkin sudah hajar dia habis-habisan," ucap Pak Abdi kemudian.
"Sudahlah, Yah. Semuanya sudah terjadi. Mungkin seperti inilah takdir mereka. Dan sekarang Risa sudah menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya," sambung Bu Lidia.
"Ya, Ibu benar juga."
Pak Abdi pun segera melajukan mobil tersebut meninggalkan kediamannya itu. Sementara Mona mengintip kepergian Ayah dan Ibunya dari balik gorden kaca.
"Semoga kamu selalu bahagia, mbak Risa. Maafkan aku yang sudah pernah menghancurkan rumah tanggamu," gumam Mona dengan mata berkaca-kaca menatap ke luar jendela.
Tak terasa Pak Abdi dan Bu Lidia pun tiba di sebuah gedung serbaguna, yang saat itu menjadi tempat acara dilaksanakannya pernikahan Risa dan Ayden.
"Benar 'kan di sini tempatnya?" tanya Pak Abdi kepada Bu Lidia sambil memperhatikan gedung megah tersebut.
"Sepertinya memang benar, Yah. Coba lihat, ada foto Risa di sini," jawabnya.
"Wow, sebenarnya apa pekerjaan Ayden hingga bisa menyewa gedung sebesar dan semegah ini untuk menyambut hari pernikahan mereka? Aku ingin sekali bertanya, tapi jujur aku malu, Bu," ungkap Pak Abdi sembari melangkah masuk bersama Bu Lidia di tempat itu.
"Ish, kan sudah Ibu bilang kalau Ayden itu bukan hanya sekedar karyawan biasa, Ayah. Coba aja lihat barang-barang yang ia kenakan dan semuanya barang branded. Gini-gini, Ibu tuh tahu nama-nama brand terkenal," jawab Bu Lidia dengan mantap.
"Iya juga ya, Bu." Pak Abdi mengangguk tanda setuju.
"Benar 'kan!" timpal Bu Lidia.
Namun, tidak bagi Mommy Tiya. Wanita cantik itu sudah mencoba melupakan semuanya. Sebab sekarang ini Ayden sudah berhasil mendapatkan kebahagiaannya.
Wanita cantik itu tanpa sungkan menghampiri dan menyambut kedatangan Pak Abdi dan Bu Lidia kemudian mengajaknya bergabung bersama keluarga besarnya.
"Duduklah di sini bersama kami, Pak Abdi dan Bu Lidia karena sekarang kalian adalah bagian dari kami juga," ucap Mommy Tiya.
Bu Lidia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu terharu dengan sikap Mommy Tiya yang begitu hangat. "Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Bu. Jangan pernah sungkan," jawab Mommy Tiya.
Pak Abdi dan Bu Lidia duduk di kursi yang sudah disediakan untuk mereka.
"Kamu memang benar, Bu. Lihat saja, seluruh keluarga Ayden sepertinya memang berasal dari keluarga yang berada. Berbeda dengan kita," ucap Pak Abdi sambil memperhatikan seluruh keluarga Ayden yang berkumpul di ruangan itu.
"Ibu bilang juga apa," sahut Bu Lidia.
Tepat di saat itu, Pak Guntur dan Bu Ara datang menghampiri mereka. "Pak Abdi, senang bertemu lagi dengan Anda," sapa Pak Guntur.
"Saya juga, Pak. Mari, silakan duduk."
Mereka pun berkumpul di sana sambil berbincang-bincang sembari menunggu kedua mempelai yang sedang bersiap-siap di ruang ganti.
Keluarga Pak Guntur begitu menghormati keluarga Pak Abdi. Bagaimana tidak, mereka merasa sangat berhutang budi karena keluarga Pak Abdi sudah bersedia membesarkan Risa dengan baik.
Sementara itu.
"Maaf, Mas. Undangannya?"
Seorang Security yang menjadi keamanan di pesta itu menghampiri lelaki yang ingin menyerobot masuk ke dalam gedung tersebut. Lelaki bertongkat dengan pakaian sederhana.
Lelaki bertongkat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa menyerahkan apa yang diminta oleh security tersebut.
"Jadi Mas tidak punya undangannya? Kalau begitu maaf, saya tidak bisa membiarkan Anda masuk ke dalam. Sekarang, silakan keluar," ucap security tersebut sembari menunjuk ke halaman gedung.
Lelaki itu adalah Arga. Ia menghembuskan napas berat kemudian dengan terpaksa berjalan menjauh dari tempat itu. Security itu menatap Arga dengan penuh rasa iba. Terlebih lelaki itu dalam kondisi cacat.
"Jika Mas ingin minta makanannya, Mas tunggu saja di sini, biar nanti saya ambilkan ke dalam," ucap Security itu sambil berbisik pelan kepada Arga.
Arga menatap lekat security tersebut. Mau marah pun rasanya percuma karena saat itu penampilannya memang terlihat begitu menyedihkan. Dengan terpaksa, Arga pun duduk di sebuah kursi yang ada di halaman gedung, tanpa bisa melihat bagaimana Risa dan Ayden bersanding.
...***...