
Tak terasa malam pun menjelang.
"Malam ini kamu tidur bersamaku, di kamarku, Renatta," ucap Rachel tegas kepada Renatta yang begitu antusias ingin menemani Ayden malam ini.
"Tapiβ" Renatta coba protes.
"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya malam ini kamu tidur bersamaku. Walaupun kamu berjanji tidak akan ngapa-ngapain sama bang Ay, Oma tetap tidak akan pernah mengijinkannya. Lagi pula ngapain sih kamu ingin tidur bareng sama Bang Ay, kalian 'kan belum menikah, hhhh!" Rachel bergidik. Merasa heran sama gadis itu.
"Bukan tidur bareng, Chel. Hanya ingin ikut tidur di sofa bareng Mas Ayden. Nemenin dia aja, gak bakal ngapa-ngapain juga, kok." Renatta mencoba membela diri.
"Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!" tegas Rachel sembari menarik pelan tangan Renatta untuk mengikutinya masuk ke kamar.
Wajah Renatta menekuk sempurna. Walaupun hatinya menolak, tetapi ia tetap mengikuti langkah Rachel yang menuntunnya masuk ke dalam kamar milik gadis itu.
Setelah memasuki kamar, Rachel menyerahkan satu setel piyama tidur miliknya kepada Renatta.
Ganti pakaianmu dengan piyama ini. Kamu tidak ingin 'kan tidur dengan menggunakan dress seksi seperti itu?" celetuk Rachel sambil memperhatikan penampilan Renatta.
"Terima kasih." Renatta meraih setelan piyama tersebut dari tangan Rachel kemudian segera mengganti dress yang ia kenakan.
Rachel menjatuhkan diri dan duduk di tepian tempat tidur sambil menatap Renatta yang sedang sibuk mengancingkan piyamanya.
"Ren."
"Hmmm," gumam Renatta tanpa menoleh ke arah Rachel.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu tergila-gila kepada Bang Ay? Kamu itu cantik, Ren. Kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih tampan, lebih tajir dari seorang Bang Ay," ucap Renatta.
Renatta yang baru saja selesai mengenakan piyama tidurnya, segera menghampiri Rachel kemudian berdiri tepat di hadapan gadis itu.
"Maaf ya, Chel. Perasaanku terhadap Mas Ayden begitu tulus. Aku tidak memandang dari fisik maupun kekayaan seorang Mas Ayden. Bahkan sebelum dia sukses pun, aku sudah menyukainya. Lagi pula apa kurangnya Ayahku? Ayahku juga kaya," sahut Renatta sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Rachel membuang napas berat. "Tapi masalahnya Bang Ay itu tidak punya perasaan apa pun terhadapmu, Ren. Tidak kah kamu sadar akan hal itu?"
Renatta tersenyum miring. Ia menghampiri Rachel kemudian duduk di sampingnya.
"Cinta itu bisa datang kapan saja, Chel. Dan aku sangat percaya akan hal itu. Ada temanku yang menikah karena dijodohkan. Baik ia maupun suaminya tidak pernah saling mengenal. Dan kamu tahu bagaimana kehidupan mereka sekarang? Mereka hidup bahagia, punya dua anak yang cantik dan tampan. Sejak saat itu aku percaya bahwa tidak perlu saling cinta untuk bisa saling memiliki. Seiring waktu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya," tutur Renatta dengan begitu percaya diri.
Rachel menepuk jidatnya. "Kamu tahu kenapa status Bang Ay jomblo hingga sekarang? Padahal dia itu tampan dan mapan," tanya Rachel, menatap lekat Renatta yang duduk di sebelahnya.
Renatta menggelengkan kepalanya pelan. "Memangnya kenapa? Apakah dia pernah trauma dengan seorang wanita?" tanya Renatta balik.
"Bukan. Dia rela jomblo sampai sekarang karena dia gagal move on, Ren. Dia mencintai seorang wanita dan cintanya bertahan sampai sekarang," jawab Rachel.
Renatta terdiam sejenak dengan mata membulat menatap Rachel. Bibirnya mendadak kelu dan entah kenapa, Renatta merasa seluruh tubuhnya melemas setelah mendengar penuturan dari Rachel barusan.
"Eits, mau ke mana kamu?" Rachel meraih tangan Renatta kemudian menahannya.
"Lepaskan tanganku, Chel. Aku ingin bicara sama Mas Ayden," jawab Renatta sembari mencoba melepaskan cengkraman Rachel.
"Sudahlah, Ren. Ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur dan kalian bisa bicara besok pagi," jawab Rachel.
"Tidak, aku tidak mau!" Renatta bersikukuh ingin pergi dari tempat itu dan menemui Ayden.
Sementara itu, di ruangan lain.
"Sekarang tidurlah, Ris. Temani Lily," ucap Oma Hana yang sudah berada di tempat tidur empuknya.
"Ya, Oma. Setelah ini aku akan segera tidur."
"Ya, sekarang pergilah. Lagi pula Oma sudah ngantuk juga." Wanita tua itu membaringkan tubuhnya dan mencari posisi enaknya.
"Baiklah. Selamat malam, Oma. Mimpi indah," ucap Risa sembari bangkit dari posisi duduknya. Setelah mematikan lampu di ruangan itu, Risa pun segera keluar dan berniat kembali ke kamarnya.
Namun, baru beberapa meter dari kamar oma Hana, tiba-tiba seseorang meraih tangan Risa dan menggenggamnya dengan erat. Risa tersentak kaget dan hampir saja ia berteriak histeris karena ulah seseorang itu.
"Mas Ayden!" pekik Risa sambil mengelus dadanya yang masih berdebar-debar.
"Sini, ikutlah denganku!" ucap Ayden sembari membawa Risa berjalan bersamanya.
"Ta-tapi, Mas. Aku ingin kembali ke kamar. Aku sudah ngantuk dan Lily butuh aku," sahut Risa. Mencoba menolak ajakan Ayden dengan lembut.
"Sebentar saja, Ris. Aku berjanji tidak akan lama," ucapnya lagi.
Risa menghembuskan napas panjang. Menolak pun rasanya percuma sebab Ayden sudah mengunci pergelangan tangannya. Risa terpaksa mengikuti langkah Ayden yang membawanya menuju pintu depan rumah oma Hana.
"Sebenarnya apa yang ingin Mas bicarakan padaku? Bukankah kemarin kita sudah membicarakannya?" ucap Risa.
Ayden tersenyum. "Ya, aku tahu. Tapi kali ini bukan masalah itu, Ris. Aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting dari itu."
"Hah? Apa itu?" Risa penasaran dan melirik samping wajah tampan Ayden yang berjalan selangkah lebih dulu darinya.
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari meneruskan langkahnya bersama Risa.
...***...
Hai hai, Readers tersayang. Maafkan Author yang baru bisa UP sekarang. Kemarin Author tepar setelah crazy up di akhir bulan Oktober hingga 7000 kata. Author mabok kata hingga rumah Otor pun terasa berputar-putar. π
Dan Author juga pengen kasih tau kalau cover Derit Ranjang Adikku sudah Author ganti. Maaf jika semisal covernya kurang menarik πππ