
Tin ... tin! Terdengar suara klakson di halaman depan rumah Oma Hana.
"Ah, itu pasti Bang Ay! Tunggu sebentar ya, Oma!"
Rachel berlari ke ruang depan dengan begitu semangat. Ia sudah menunggu kedatangan lelaki itu sejak tadi siang.
"Bang Ay?" Tiba-tiba jantung Risa berdetak dengan cepat setelah mendengar nama lelaki itu disebutkan. Ia tampak gugup dan cemas.
"Ayden, cucu laki-laki Oma, Ris." Oma Hana tersenyum menatap Risa.
"Gawat! Kenapa Mas Ayden malah datang ke sini!" gumam Risa dalam hati.
"Ehm, Oma. Sepertinya Lily sudah mengantuk. Sini, biar saya ajak ke kamar biar dia bisa istirahat," ucap Risa sembari mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Oma Hana.
Oma Hana yang sedang asik menggendong bayi Lily, menekuk wajahnya sambil menatap wajah cemas Risa. "Bukannya Lily baru saja bangun tidur? Mana mungkin dia ngantuk lagi."
Wanita paruh baya itu tersenyum. "Sudah, Risa. Jangan takut! Cucu laki-laki Oma itu bukan tipe pria brengsek, kok. Dia baik dan Oma yakin dia pasti senang bertemu Lily, soalnya dia itu penyayang anak-anak," tutur Oma Hana sambil menepuk pelan pundak Risa.
Risa mengusap wajahnya dengan kasar. "Iya, Oma. Saya juga tahu kalau Mas Ayden itu baik, tapi masalahnya saya tidak ingin bertemu dengannya di sini dengan kondisi yang seperti ini! Aduhhhh," gumam Risa pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kacau! Benar-benar kacau! Ya, Tuhan! Bukankah aku pernah berdoa untuk dijauhkan dari Mas Ayden. Kenapa sekarang Engkau malah semakin mendekatkannya denganku?" lanjut Risa dengan wajah panik.
Samar-samar Oma Hana mendengar suara celetukan Risa. Namun, sayangnya ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Kamu bilang apa, Ris?" tanya Oma Hana sambil menautkan kedua alisnya menatap Risa.
"Hah? Ah, bukan apa-apa kok, Oma." Risa tersenyum kecut.
Sementara itu di halaman luar.
"Bang Ay! Akhirnya," seru Rachel sembari menghampiri Ayden lalu memeluk lengan kekarnya dengan erat.
"Sebenarnya ada apa sih, Chel? Aku khawatir loh, sejak kemarin sore kamu terus menghindari panggilan dariku. Bahkan ratusan chat-ku pun tidak kamu balas," ucap Ayden sambil menekuk wajahnya.
"Aku memang sengaja melakukan itu agar Bang Ay menyusul aku ke sini," sahut Rachel.
Bugh!
Terdengar suara pintu mobil yang dibanting dengan sangat keras. Ayden dan Rachel refleks menoleh ke arah asal suara.
"Kamu?!" pekik Rachel dengan alis bertaut menatap Renatta.
Rachel menarik tangan Ayden dengan kasar kemudian berbisik di samping telinga lelaki itu. "Kenapa Bang Ay malah ngajakin dia, sih? Ah, Bang Ay tidak seru!"
"Dia sendiri yang mau ikut. Aku sendiri bingung bagaimana cara menolaknya," balas Ayden dengan berbisik pula.
"Ekhhheemmm!" Gadis berambut pirang itu berdehem kesal. Ia tidak suka ketika kedua orang itu berbisik-bisik di hadapannya.
"Mari masuk, Ren," ajak Ayden sambil tersenyum kecut menatap gadis itu.
"Tolong bantu aku, Mas. Kakiku masih sakit," ucapnya sambil meringis.
"Memangnya kakimu kenapa, Ren?" tanya Rachel sambil memperhatikan luka lecet di kaki Renatta.
"Tadi di kafe dia terjerembab karena tersandung batu. Akhirnya kakinya lecet dan berdarah," jawab Ayden sembari menghampiri Renatta.
Ayden mengulurkan tangannya ke hadapan Renatta, untuk membantu gadis itu berjalan. Namun, tiba-tiba Rachel menarik tangannya dengan kasar.
"Biar aku saja, Bang Ay. Bang Ay duluan saja, cepetan!" titah Rachel sembari meraih tangan Renatta dan memeganginya dengan kuat.
"Tapi—" Ayden tampak tidak nyaman.
"Baiklah kalau begitu." Ayden pun segera melenggang masuk dan meninggalkan Renatta dan Rachel di halaman tersebut.
"Mas!" panggil Renatta yang tampak protes.
"Sudahlah, Ren. Biar aku saja yang membantumu. Lagi pula, kita kan sama-sama perempuan jadi lebih enak ketimbang kamu sama Bang Ay, kan bukan muhrim," celetuk Rachel sambil terkekeh pelan.
Renatta sempat menolak karena ia ingin Ayden lah yang membantunya. Namun, karena Ayden sudah pergi meninggalkan dirinya masuk terlebih dahulu ke rumah itu, Renatta pun terpaksa menerima bantuan dari gadis itu.
"Kamu ini lebay ya, Ren. Perasaan anak yang berusia lima tahun saja tidak selebay ini hanya karena sedikit luka gores," celetuk Rachel sambil menahan tubuh Renatta yang berpegangan dengannya.
"Eh, Chel. Seumur-umur aku tidak pernah terluka, ya! Ayah dan ibuku selalu menjaga aku dengan baik. Coba kamu lihat lututku, lecet begini. Aku yakin, ayah dan ibuku pasti kaget melihat lukaku ini," keluhnya.
Rachel tergelak mendengar penuturan dari gadis itu. "Kamu tahu tidak, Ren. Aku rasa kamu tidak cocok berdampingan dengan Bang Ay, secara Bang Ay itu pekerja keras dan pantang mengeluh sedikit pun. Sementara dirimu? Luka lecet begini saja kamu sudah meringis dan mengeluh seperti ini?"
"Hush, diam!" kesal Renatta.
***
Di ruang televisi.
"Oma, saya permisi ke kamar kecil dulu, ya," ucap Risa yang sudah tidak tahan untuk melarikan diri dari ruangan itu.
"Ya, baiklah. Tapi jangan lama-lama, ya. Biar Oma kenalin sama Ayden, cucu laki-laki kesayangan Oma," ucap Oma Hana.
"Baik, Oma." Risa pun bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dan bersembunyi di kamar mandi.
Semenit setelah Risa meninggalkan ruangan itu. Ayden tiba di sana dan segera menghampiri Oma Hana yang masih bersantai di sofa sambil menimang bayi Lily.
"Oma," sapa Ayden.
"Oh, Ayden! Akhirnya kamu tiba juga, Sayang. Apa kamu tahu, sejak tadi siang Rachel terus saja membicarakanmu," sahut Oma Hana.
Ayden meraih tangan Oma Hana kemudian mencium tangan wanita itu dengan lembut.
"Duduklah, Sayang. Dan minumlah minuman dingin itu," ucap Oma sembari menunjuk beberapa gelas berisi minuman dingin yang sudah disiapkan oleh Risa sebelumnya.
"Baik, Oma."
Ayden meraih salah satu minuman dingin tersebut. Sembari menenggak minuman dingin itu, perhatian Ayden tertuju pada bayi mungil yang sedang berada di pelukan Oma Hana.
"Bayi siapa itu, Oma?"
"Oh, ini. Ini bayinya perawat baru Oma," jawab Oma Hana sambil tersenyum.
"Oh iya, aku lupa, Oma. Padahal Rachel sudah menceritakan soal itu kepadaku." Tatapan Ayden masih tertuju pada bayi mungil tersebut dan tiba-tiba ia tersentak kaget setelah mengetahui siapa sebenarnya bayi mungil itu.
"Oma, siapa nama bayi ini?" tanya Ayden dengan mata membulat menatap Oma Hana.
"Hah, nama bayi ini, ya?"
Ayden mengangguk cepat. "Ya."
"Namaku Lily Angraeni, Om. Panggil saja aku Lily," jawab Oma sambil melambai-lambaikan tangan Lily ke arah Ayden. Dan lucunya, bayi mungil itu pun tersenyum lebar menatap Ayden.
"Lily?!" pekik Ayden.
...***...