
"Tidurlah, Nak. Tidurlah yang nyenyak karena besok kita akan memulai perjalanan panjang kita," bisik Risa di samping telinga Lily yang sudah terlelap dibuai mimpi indahnya.
Perlahan Risa merebahkan tubuh kurusnya ke atas kasur yang sudah lusuh. Risa memejamkan mata dan mencoba melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi untuk sejenak. Namun, baru beberapa detik ia memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya tersebut.
"Siapa?"
"Mbak Risa. Ini aku, Mona."
Risa memasang wajah masam. Ia benar-benar sudah muak harus berhadapan dengan gadis itu. Risa kembali memejamkan kedua netranya dan mencoba mengacuhkan panggilan dari Mona.
"Mbak! Mbak aku mohon bukalah pintunya. Aku ingin bicara padamu sebentar saja, please!"
Risa masih mencoba acuh dan berpura-pura tak mendengar panggilan dari Mona. Namun, semakin ia mencoba menghiraukannya, semakin intens panggilan dari gadis itu.
"Ish! Apa sih maunya nih anak!" geram Risa sembari bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri pintu kamar.
Ceklek! Pintu kamar Risa terbuka dan tampaklah Mona tengah tersenyum manis kepadanya.
"Apa lagi, ha? Ini sudah malam, Mona, dan Lily sudah tidur. Apa kamu memang sengaja membuat keributan di sini agar Lily bangun. Iya?" kesal Risa sambil membuang muka.
"Aku ingin bicara sama Mbak, itu saja! Aku janji tidak akan lama," lirih Mona dengan wajah memelas.
Risa mendengus kesal. "Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya sudah jelas," sahut Risa sambil mendorong pintu kamarnya agar tertutup.
Namun, Mona menahan pintu tersebut dengan sekuat tenaga dan memaksa Risa agar memberinya sedikit waktu untuk membicarakan masalah mereka secara empat mata.
"Aku mohon, Mbak. Sebentar saja!"
Risa mengalah dan melepaskan pintu tersebut. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan membiarkan Mona masuk ke dalam kamarnya.
"5 menit!" tegas Risa.
"Baik, Mbak! Terima kasih," jawab Mona.
Mona menutup kembali pintu kamar Risa kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di depan meja rias. Sementara Risa duduk di tepian tempat tidur, tepatnya di samping bayi Lily.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan kepadaku, Mona? Tentang keberhasilanmu menghancurkan rumah tanggaku, iya?" Risa tersenyum sinis.
"Bukan begitu, Mbak. Sebenarnya aku hanya ingin minta maaf padamu. Maafkan aku," lirih Mona. Ia ingin meraih tangan Risa, tetapi ditepis oleh kakak angkatnya itu.
"Jangan sentuh aku, Mona! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" tegas Risa dengan wajah kesal menatap Mona.
"Maafkan aku, Mbak. Aku khilaf!" Mona tertunduk dengan kepala menghadap lantai.
"Khilaf katamu? Sekarang aku tanya padamu, sudah berapa kali kamu melakukan hubungan itu bersama Mas Arga, Mona? Berapa kali?" Akhirnya buliran kristal itu kembali lolos dari sudut matanya. Walau sudah sekuat tenaga Risa menahannya agar tidak mengalir lagi.
Mona mengangkat kepalanya dan menatap wajah Risa. Bibir gadis itu kelu untuk berkata jujur. Ia pun tidak tahu sudah berapa kali melakukan hubungan itu bersama Arga.
Risa kembali tertawa sinis. "Lihatlah, bahkan kamu sendiri sudah tidak ingat berapa kali kalian melakukan hubungan terlarang itu. Itu artinya bukan khilaf, Mona. Bukan!" geram Risa.
"Maafkan aku, Mbak. Aku melakukan itu karena aku mencintai Mas Arga. Aku sudah lama mencintainya, tetapi kamu merebutnya dariku! Jadi, salahkah jika aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku?" sahut Mona yang sekarang mulai berani membalas tatapan Risa.
"Apa?" pekik Risa dengan alis yang bertaut.
Mona bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di hadapan Risa. "Ya, Mbak! Sejak aku duduk di bangku SMA, aku sudah menaruh hati kepada Mas Arga dan aku tidak tahu kenapa Mas Arga malah memilih kamu saat itu! Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Sama seperti yang Mbak rasakan saat ini, hatiku sakit dan aku hancur, Mbak!" tutur Mona dengan wajah memerah.
"Ya ampun, Mona! Itu sudah lama sekali! Seharusnya kamu berpikir dan cari lelaki lain yang jauh lebih baik dari Mas Arga. Lelaki tidak hanya satu di dunia ini, Mona. Apalagi kamu itu cantik dan masih sangat muda. Masih banyak laki-laki lain yang mengantri untuk cintamu," jawab Risa.
"Tapi cintaku hanya untuk Mas Arga dan akan seperti itu untuk selamanya," balas Mona dengan mantap.
Risa mengangguk pelan dengan raut wajah kecewa. "Bagus! Bagus sekali, Mona. Sekarang kamu pasti merasa bangga 'kan karena sudah berhasil mendapatkan lelaki pujaanmu. Walaupun kamu harus mengorbankan kebahagiaan Kakak serta keponakanmu sendiri untuk kebahagiaanmu."
Mona hanya diam dengan tatapan yang masih tertuju pada Risa.
"Berdoalah agar pernikahanmu dengan Mas Arga baik-baik saja. Berdoalah agar kisahku tidak terulang dan berbalik pada dirimu. Aku mengingatkan ini karena aku percaya karma itu berlaku, Mona," lanjut Risa sambil tersenyum sinis.
Mona tampak geram. Ia mendengus kesal kemudian berjalan dengan cepat menuju pintu kamar Risa. Namun, sebelum Mona menyentuh gagang pintu kamar tersebut, ia kembali berbalik dan menghadap kakak angkatnya itu.
"Aku yakin Mas Arga tidak akan melakukan hal itu padaku, Mbak. Mbak tahu kenapa? Karena aku tahu bagaimana cara memuaskannya," jawab Mona dengan wajah menekuk.
"Ya, kita buktikan saja nanti," jawab Risa tak mau kalah.
Mona menghentakkan kakinya ke lantai kemudian membuka kamar tersebut. "Mbak pantas diceraikan oleh Mas Arga karena Mbak itu sangat menyebalkan!" geram Mona.
Gadis itu keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya dengan sedikit lebih keras. Bayi Lily bahkan sampai terkejut karenanya.
"Husss, tidak apa-apa, Sayang. Tidurlah lagi," ucap Risa sambil berbisik pelan di samping telinga bayi Lily.
...***...