
Di kediaman Oma Hana
"Ini vitaminnya, Oma." Risa meletakkan vitamin serta segelas air putih ke atas meja. Vitamin milik Oma Hana yang selalu ia konsumsi setiap hari untuk menjaga kesehatannya.
"Terima kasih, Nak Risa. Duduklah," sahut Oma sembari menepuk ruang kosong di samping tubuh wanita paruh baya itu.
"Di sini, Oma? Ehm, sebaiknya saya duduk di bawah saja, Oma. Tidak enak duduk di atas," ucap Risa sembari mencoba duduk di lantai, di samping sofa.
"Ish, siapa yang menyuruhmu duduk di sana, Risa. Jangan pernah menganggap dirimu sebagai pelayan di rumah ini karena aku sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri." Oma menarik tangan Risa pelan agar wanita itu bangkit dari posisi duduknya.
"Tapi, Oma. Saya tidak enak," lirih Risa.
"Sudah, duduklah di sini!" titah Oma Hana.
Perlahan Risa pun duduk di samping Oma Hana dan memperhatikan wanita tua itu meminum vitaminnya.
"Di mana Lily?" tanya Oma Hana sembari meletakkan air minumnya kembali ke atas meja.
"Di kamar, Oma."
"Masih tidur?"
Risa menggelengkan kepalanya pelan. "Baru saja bangun, Oma."
"Dan kamu tinggalkan ia sendiri di dalam kamar? Kamu ini bagaimana sih, Ris? Bagaimana kalau dia menangis, kamu 'kan tidak bisa mendengar suaranya dari sini! Sudah, sana cepat jemput dia, gih!" titah Oma Hana sambil menekuk wajahnya.
Risa tersenyum kecut. "Dia pinter kok, Oma. Dia tahu kalau Ibunya sedang bekerja."
"Ah, Oma gak mau tahu. Pokoknya jemput Lily dan ajak dia ke sini," titah Oma.
Risa pun mengangguk dan bergegas menuju kamarnya. Si mungil itu masih berbaring sambil berceloteh sendiri, dengan beberapa biji bantal mengelilingi tubuh mungilnya.
"Ouppss, maafin Ibu ya, Nak. Sini, kita keluar dan temui Oma," ucap Risa sembari mengangkat tubuh mungil bayi perempuannya itu.
Setibanya di ruang televisi, di mana Oma Hana sedang bersantai. Wanita paruh baya itu tersenyum semringah menyambut kedatangan bayi Lily. Dia mengulurkan tangan dan meminta Risa untuk menyerahkan bayinya untuk di gendong.
"Sini, Risa. Biar Lily sama Oma."
"Baik, Oma."
Risa pun segera menyerahkan bayi Lily dan segera disambut oleh Oma Hana.
"Oh, cup-cup-cup! Cantik sekali, bayi siapa ini?" celoteh Oma sambil memandangi wajah cantik Lily.
"Lily sudah dikasih asi, Ris?" tanya Oma sambil melirik Risa yang duduk tak jauh darinya.
"Sudah, Oma."
"Kamunya sudah makan, belum?" tanya Oma Hana lagi, sambil memasang wajah lucu agar bayi Lily tersenyum.
"Sudah, Oma. Tadi pagi 'kan kita makan bareng," jawab Risa mantap.
"Makan lagi, gih! Makan yang banyak. Banyakin makan sayur dan juga buah. Dan jangan lupa vitamin yang Oma belikan kemarin," ucap Oma.
Risa terkekeh pelan. "Terima kasih, Oma. Tapi saya masih kenyang."
"Eh, kamu itu harus makan banyak. Lihat tubuhmu, terlalu kurus, Risa." Oma menghembuskan napas berat.
"Maaf jika kamu tersinggung, tapi Oma itu suka blak-blakan kalau ngomong. Bagi Oma, kamu itu terlalu kurus, Risa. Kamu harus sehat dan makan-makanan yang sehat pula. Kalau kamu saja seperti ini, lalu bagaimana dengan Lily? Sementara Lily hanya mengharapkan asupan dari asimu. Pokoknya di rumah ini kamu jangan pernah merasa sungkan. Kalo mau makan, makan saja. Kalau mau buah, tinggal ambil di kulkas. Ambil apa pun yang kamu suka."
Risa terdiam sejenak sambil tersenyum tipis. Perhatian yang diberikan oleh Oma kepada dirinya dan Lily, benar-benar tulus. Bahkan melebihi perhatian dari keluarganya sendiri.
"Ya, Oma. Saya mengerti," jawab Risa.
Risa melirik ke tubuhnya dan apa yang dikatakan oleh Oma memang benar adanya. Tubuhnya terlihat sangat sangat kurus. Selama tinggal bersama Arga, Arga tidak pernah mempedulikan dirinya lagi semenjak kehadiran Lily.
"Oh ya, Ris. Nanti sore cucu Oma akan datang berkunjung. Namanya Rachel, dia hampir seumuran denganmu."
"Non Rachel yang kemarin Oma ceritakan kepadaku?" tanya Risa.
"Ya, benar. Kasihan cucu Oma yang satu itu. Pernikahannya terpaksa harus diundur karena calon ibu mertuanya jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit," ucap Oma.
"Lalu bagaimana kondisi calon Ibu mertuanya sekarang?" tanya Risa.
"Masih di rawat di Rumah Sakit. Ya, semoga saja mertuanya cepat sembuh. Biar pernikahan mereka secepatnya dilaksanakan," sahut Oma.
"Aamiin."
Sementara itu di Kota X.
"Bang Ay, beneran nih gak mau ikut?" tanya Rachel kepada Ayden melalui sambungan telepon.
"Enggak, Chel. Aku masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan di sini. Kamu berangkat sendiri aja. Katakan sama Oma kalau aku titip salam."
Rachel menekuk wajahnya dengan sempurna. "Ah, Abang! Ikutlah, siapa tahu si janda cantik anak satu itu jodohnya Abang."
Ayden tertawa mendengar celetukan Rachel barusan. "Ya ampun, Chel. Kamu ini ada-ada aja."
"Ya, kan! Dari pada mengharapkan cintanya istri orang, mending ngejar janda aja," goda Rachel.
"Heh! Awas kamu, ya!"
"Eh, maaf-maaf. Udah dulu ya, Bang! Aku harus berangkat. Pak sopir udah kelamaan nungguin," ucap Rachel sembari memutuskan panggilannya bersama Ayden.
Tut ... tut ... tut!
"Hhh, dasar!" Ayden tersenyum tipis kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya kemudian berjalan menuju pintu utama.
"Ayden. Kemarilah, Nak. Ibu ingin bicara padamu," ucap seorang wanita cantik berusia 50 tahun. Mommy Tiya, Ibunda dari Ayden.
Ayden yang hampir mencapai batas pintu utama, tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menghampiri sang mommy.
"Ya, Mom."
Bu Tiya menghela napas berat. "Ay—"
"Jangan bilang kalau Mommy ingin membahas soal pertunangan itu lagi, ya?" sela Ayden dengan wajah serius menatap sang mommy.
"Ck!" Bu Tiya berdecak sebal karena Ayden masih bersikap sama seperti biasanya.
"Ya, Mommy ingin membahas soal pertunanganmu dengan Renatta. Ayolah, Ay! Mommy sudah merasa tidak enak sama Pak Guntur dan Bu Ara. Lagi pula apa kurangnya Renatta? Dia gadis yang baik dan pendidikannya juga bagus. Dan jangan lupa, Pak Guntur sudah banyak menolong kita selama kita kesusahan dulu. Apa kamu sudah lupa akan hal itu?" tegas Bu Tiya.
Ayden menghela napas berat. "Ya, aku ingat itu, Mom."
"Lalu apa yang harus kamu pertimbangkan? Jangan khawatirkan soal cinta, Ayden. Cinta bisa menyusul setelah kalian menikah," lanjut Bu Tiya, mencoba meyakinkan Ayden.
Ayden terdiam dan saat itu yang ada di dalam pikirannya hanya bayangan Risa dan Risa. Wanita pertama yang berhasil meluluhkan hatinya.
"Ay, jangan bilang kamu masih mengharapkan mantanmu dulu, ya! Siapa itu namanya? Mommy lupa. Yang ayah dan ibunya mata duitan, yang hanya mementingkan harta dari pada perasaan anak gadisnya sendiri," celekuk Bu Tiya dengan wajah menekuk.
Ayden hanya bisa tersenyum getir mendengar ocehan sang mommy.
...***...