
"Maafkan kami, Risa. Padahal selama ini kami tidak ingin membongkar identitas dirimu yang sebenarnya kepada siapa pun. Namun, hari ini Ayah terpaksa harus mengatakan semuanya karena kondisi kita benar-benar genting. Dan kami mohon kepadamu agar kamu bersedia membagi sedikit cinta dan kasih sayang suamimu kepada Mona serta bayinya," lirih Pak Abdi sambil memelas kepada Risa.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Dulu kalian sendiri yang meminta aku menerima lamaran Mas Arga dan menjadi istrinya. Dan sekarang kalian malah ingin aku membagi suamiku kepada Mona. Maafkan aku, Ayah, aku tidak bisa!" tegas Risa sambil menyeka air matanya.
Pak Abdi dan Bu Lidia saling tatap dengan ekspresi kecewa. Mereka kecewa setelah mendengar jawaban dari Risa yang tidak bersedia membagi suaminya untuk Mona.
"Lalu, apa kamu ingin Mona menanggung aib itu sendirian? Dia sedang hamil, Risa! Perutnya akan terus membesar dan orang-orang pasti akan bertanya-tanya siapa ayah dari janin yang sedang ia kandung. Memang apa susahnya sih, Ris? Lagi pula Mona tidak akan mengambil suamimu sepenuhnya. Arga masih tetap milikmu dan kamu bisa atur Mona sepuasnya sebab yang diinginkan Mona dan bayinya saat ini hanya kejelasan status mereka, itu saja! Ibu mohon, Risa. Anggap saja saat ini kami meminta balas jasa karena sudah merawatmu," timpal Bu Lidia dengan mata berkaca-kaca menatap Risa.
Risa menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku Ayah, Ibu, walaupun aku hanya seorang anak angkat, tetapi aku tetap tidak bisa menerima keputusan ini," lirih Risa sambil terisak.
"Aku tidak bisa menerima Mona sebagai maduku. Biar bagaimanapun aku sudah menganggap Mona seperti adikku sendiri. Jika keputusan Ayah dan Ibu sudah bulat soal keputusan ini, maka aku siap mundur. Aku siap diceraikan oleh Mas Arga saat ini juga," lanjut Risa dengan kepala tegak, mencoba menguatkan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
"Tidak! Aku tidak mau, Risa!" tolak Arga dengan tegas. Ia tidak bisa terima jika harus melepaskan Risa demi mempertanggung jawabkan kesalahannya kepada Mona.
Sementara Mona sendiri sudah mulai merasa senang dengan keputusan Risa. Setidaknya ia tidak perlu berbagi ranjang bersama kakak angkatnya itu.
"Risa, kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik. Aku berjanji bahwa aku bisa bersikap adil antara dirimu dan Mona. Kamu yang putuskan kapan aku tidur bersama Mona dan kapan aku tidur bersamamu," bujuk Arga dengan setengah berbisik kepada Risa.
Risa tersenyum sinis. Ia tidak sudi harus berbagi suami bersama wanita lain. Apa lagi wanita itu seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Maafkan aku, Mas Arga. Aku tidak bisa," jawab Risa seraya bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan cepat keluar dari rumah itu bersama Lily di dalam pelukannya.
"Risa, tunggu!" panggil Arga yang berniat mengejar Risa. Namun, tiba-tiba ditahan oleh Pak Abdi.
"Jangan, Arga! Biarkan saja dia. Aku yakin Risa butuh waktu sendiri untuk memikirkan ini semua. Semua kejadian ini pasti sangat mengguncang jiwanya," ucap Pak Abdi.
"Tapi, Yah!"
"Sudahlah," lanjut Pak Abdi.
Sementara Risa terus melangkah pergi, Pak Abdi, Arga dan seluruh keluarga besarnya kembali berdiskusi soal rencana pernikahan Arga dan Mona yang harus dilaksanakan dengan cepat, sama seperti keinginan Pak Abdi dan seluruh keluarganya.
Namun, berbanding terbalik dengan Arga, lelaki itu tampak gelisah dan tidak nyaman dengan perbincangan mereka. Saat ini pikirannya hanya tertuju kepada Risa yang entah pergi ke mana bersama si kecil Lily.
"Bagaimana, Arga? Apa kamu setuju?" tanya Pak Abdi sambil menatap lekat wajah Arga yang tampak bimbang.
"Ya. Saya menurut saja apa pun yang menurut kalian baik," jawab Arga.
Lagi-lagi Mona tersenyum lebar menatap Arga. Ia begitu senang mendengar jawaban dari Arga.
Kembali ke Risa.
Risa terus melangkahkan kakinya dengan cepat menelusuri jalan tanpa peduli dengan orang-orang yang menatap dirinya dengan tatapan aneh. Hingga akhirnya Risa berhenti di salah satu pengkolan ojek sepeda motor yang berjarak cukup jauh dari kediaman Pak Abdi dan Bu Lidya.
"Ojek, Neng?" tanya salah satu tukang ojek.
Risa mengangguk. "Ya, saya ingin pergi ke taman kota. Bisa?"
"Tentu saja bisa, Neng. Mari, saya anterin," lanjut si tukang ojek.
Risa bergegas naik ke atas motor milik bapak-bapak itu bersama si kecil Lily. Setelah Risa dalam kondisi siap, lelaki paruh baya itu pun segera melaju, menelusuri jalan beraspal dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian.
Risa tiba di sebuah taman yang terletak di tengah kota. Setelah membayar jasa tukang ojek tersebut, Risa pun segera masuk ke taman itu untuk menenangkan pikirannya. Di dalam taman, Risa menemukan sebuah kursi kosong yang tidak ada penghuninya. Ia duduk di sana, masih bersama Lily di dalam pelukannya.
"Kamu tenang saja, Nak. Kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang walaupun kamu harus hidup tanpa seorang ayah. Ibu berjanji akan menjadi ayah sekaligus ibu untukmu. Kita berdua akan menyongsong kehidupan baru kita yang berbahagia. Ya, berdua saja, Sayang. Kamu dan Ibu," lirih Risa sambil terisak menatap si kecil Lily yang kini tersenyum kepadanya.
...***...