
Sementara itu di kediaman Arga dan Mona.
[Mas Arga, tas yang kemarin dibelikan oleh Mas Arga sudah banyak yang make. Aku pengen beli yang baru, Mas!]
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh kekasih gelapnya itu. Wajahnya menekuk dan terlihat sedikit kesal.
"Hhh! Tas lagi-tas lagi!" gerutu Arga.
[Baiklah. Tapi kamu bersedia 'kan menuruti keinginanku kemarin?] Balas Arga, kemudian segera mengirimkannya kepada wanita itu.
Ting!
[Baiklah, Mas. Trus, bagaimana istrinya Mas Arga, apa dia menyetujuinya?]
[Soal itu kamu tenang saja! Dia pasti setuju. Dia 'kan cinta mati kepadaku. Dia tidak akan bisa menolak keinginanku.]
Mona keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe (kimono handuk) sebagai penutup tubuh polosnya. Ia sempat memperhatikan Arga yang masih sibuk dengan ponselnya untuk sesaat. Setelah itu ia kembali fokus pada langkahnya.
Mona duduk di depan cermin rias sembari meraih krim malam yang biasa ia gunakan. Ia lupa bahwa krim perawatan wajah yang ia gunakan itu sudah hampir habis. Setelah tutupnya terbuka, Mona pun memasang wajah masam.
"Mas Arga!" panggil Mona kepada Arga yang masih sibuk dengan benda pipihnya.
"Hmmm," gumam lelaki itu tanpa menoleh ke arah Mona.
"Mas, aku butuh uang untuk beli krim perawatan wajahku," ucap Mona sambil menatap lekat lelaki itu.
"Tidak ada uang," jawab Arga dengan acuh tak acuh.
"Tidak ada uang?!" pekik Mona sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian berdiri di hadapan Arga.
"Jangan macam-macam kepadaku, Mas. Mas bahkan belum menyerahkan jatah bulanan kepadaku dan aku tahu kalau Mas sudah gajian sejak beberapa hari yang lalu!" kesal Mona dengan tegas.
Arga mengangkat kepalanya kemudian menatap Mona dengan raut wajah kesal karena wanita itu sudah mengganggu kesenangannya.
"Kalau aku bilang uangnya sudah tidak ada, itu artinya memang sudah tidak ada. Mengerti tidak, sih!"
"Tidak ada? Terus uangnya dikemanakan, Mas? Jangan bilang Mas habiskan buat transfer selir-selirmu itu, ya!" geram Mona.
"Bukan urusanmu!" Arga membuang muka. Ia kembali menatap layar ponselnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mas! Ini sudah menjadi urusanku! Aku ini istrimu, Mas. Kamu berkewajiban menafkahi aku. Apalagi saat ini aku tengah hamil. Aku butuh banyak uang buat cek kandungan dan beli vitamin serta susu hamil!" geram Mona.
Bukannya menggubris perkataan Mona, Arga malah kembali fokus pada layar ponselnya. Karena merasa Arga tidak menggubrisnya, Mona pun menjadi semakin kesal.
"Mas Arga! Aku sedang bicara padamu! Apa kamu tuli?" Mona merebut ponsel yang sedang dipegang Arga kemudian melemparkannya ke atas tempat tidur.
"Sekarang aku bertanya padamu, Mas! Ke mana uang gajimu bulan ini?!" geram Mona dengan wajah memerah menatap Arga.
"Sudah habis?" Mona menautkan kedua alisnya heran.
"Ya, sudah habis buat membayar pinjaman-pinjamanku di kantor," jelas Arga sambil mendengus kesal.
"Pinjaman-pinjaman apa? Sejak kapan kamu pinjam-meminjam uang di kantor?" tanya Mona penasaran.
"Memangnya aku mendapatkan uang dari mana untuk mengadakan acara pernikahan kita yang mendadak itu kalo bukan meminjam ke kantor, Mona sayang? Apa kamu pikir aku mendapatkan uang itu dari langit, begitu?"
Mona tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya. Lagi pula acara pernikahan kita sangat sederhana sekali. Tidak mungkin kamu menghabiskan uang banyak untuk itu, hingga meminjam uang ke kantor segala."
"Heh, kamu pikir pak penghulu dan yang lainnya itu datang secara gratis, begitu? Mereka itu dibayar. Belum lagi biaya sewa pakaian pengantin yang kamu dan ibumu kenakan dulu. Kamu sudah pikun, ya? Belum juga tua," kesal Arga.
Arga meraih ponsel yang sempat dilemparkan oleh Mona ke atas kasur kemudian menyimpannya ke samping bantal. Ia ikut menjatuhkan diri dengan posisi membelakangi Mona.
"Kamu pasti bohong, Mas!" lirih Mona sambil menitikkan air mata.
Keesokan harinya.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Mona tiba-tiba merasa lapar dan ingin memakan sesuatu. Ia bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
"Loh, kok tumben sepi. Di mana Bi Surti? Apa mungkin Bi Surti masih tidur?" gumam Mona sambil memperhatikan ruangan dapur yang tampak sepi, tak seperti biasanya. Bahkan tak ada aktivitas apa pun yang terjadi di ruangan tersebut.
Mona memperhatikan peralatan masak yang masih menggantung rapi di dinding-dinding ruangan, seolah tak terjamah oleh siapa pun.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Bi Surti? Jangan-jangan dia sakit lagi," gumam Mona dengan wajah cemas.
Mona berjalan menghampiri penanak nasi yang terletak di atas meja, dalam kondisi off. Ia membuka benda itu dan ternyata benar, tak ada sebutir nasi pun di dalam sana. Semuanya sudah bersih dan tidak ada noda sedikit pun.
"Bi! Bi Surti!" panggil Mona dengan setengah berteriak.
Selang beberapa menit kemudian.
Arga yang sudah siap berangkat ke kantor, segera masuk ke dapur setelah mendengar teriakan Mona.
"Heh, tidak usah teriak-teriak. Ini masih terlalu pagi! Kamu tidak ingin 'kan membangunkan seluruh tetangga yang tinggal sekitar rumah ini?" tegur Arga dengan mata membesar.
Mona menghampiri Arga. "Di mana Bi Surti?" tanya Mona dengan wajah serius.
"Dia sudah pulang kampung. Aku terpaksa memecatnya karena sudah tidak sanggup membayar gajinya," jawab lelaki itu dengan santainya.
"Apa?! Mas sudah gila, ya?" pekik Mona.
...***...