Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Arga Marah


"Mas Arga mau ke mana?"


"Tunggulah di sini sebentar. Aku ingin menemui mereka!" sahut Arga sembari menunjuk ke arah meja Risa dan Ayden.


Setelah berhasil melepaskan tangannya dari wanita itu, Arga pun bergegas melangkahkan kakinya menghampiri meja pasangan Ayden dan Risa.


"Menemui mereka? Mereka siapa, sih?" Wanita itu masih terdiam di tempatnya berdiri sambil memperhatikan Arga yang kini sudah berdiri di hadapan Risa dan Ayden.


"Oh, bagus ya, Ris! Apa yang aku pikirkan tentang kalian itu ternyata benar. Kamu dan Ayden memang kembali menjalin hubungan di belakangku! Jangan-jangan Lily memang anak hasil hubungan gelapmu bersama Ayden. Iya 'kan?!" ucap Arga dengan wajah memerah menatap Ayden dan Risa.


Risa yang baru ingin memulai makan siangnya, segera meletakkan kembali sendok dan garpu yang sudah ia pegang kemudian bangkit dari posisi duduknya.


"Mas Arga! Mas Arga apa-apaan, sih?" geram Risa sambil memperhatikan sekeliling tempat itu. Seluruh pasang mata yang ada di rumah makan itu kini mulai melihat ke arah mereka.


"Halahh, tidak usah mengelak. Akui saja apa yang aku katakan barusan itu benar, 'kan?" Lelaki menyebalkan itu menyunggingkan senyuman sinisnya.


"Kalau ngomong itu jangan sembarang ya, Mas! Apalagi sampai memfitnah kami seperti itu," sela Ayden yang juga ikut kesal setelah mendengar ucapan kasar yang keluar dari Arga barusan.


"Aku tidak sedang mengada-ada. Toh, buktinya semua omonganku benar. Kamu dan wanita ini sudah berselingkuh di belakangku bahkan hingga menghasilkan seorang anak haram yang sempat aku akui sebagai anakku. Cuih!"


Ayden yang sejak tadi mencoba tetap tenang, akhirnya kehabisan kesabarannya. Ia menghampiri Arga kemudian mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh lelaki itu.


"Jika kamu seorang gentleman! Kita duel satu lawan satu! Jangan seperti banci yang hanya berani koar-koar di depan umum!" geram Ayden dengan wajah memerah.


Risa yang ketakutan, segera menghampiri kedua lelaki itu kemudian menengahi perkelahian mereka. "Sudah lah Mas Arga, Mas Ayden, kumohon berhentilah! Lihatlah semua mata kini melihat ke arah kalian," ucap Risa dengan wajah cemas.


Ayden melepaskan cengkeramannya sembari mendorong tubuh Arga hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Arga mengibaskan-ngibaskan tangan ke kemejanya sembari tersenyum sinis.


"Heh, beraninya hanya dengan mengandalkan otot. Sementang tubuhmu jauh lebih besar dariku," ucap Arga kemudian.


"Lalu apa maumu, Mas Arga? Bagaimana kalau kita ke Rumah Sakit dan melakukan tes DNA untuk Lily? Jika ternyata benar yang kamu ucapkan, maka aku bersedia dihukum karena sudah berani menyentuh istrimu," sahut Ayden dengan mantap.


Arga hanya tersenyum getir. Ia tidak berani menimpali ucapan Ayden barusan. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arga masih merasa takut. Ia takut firasatnya salah dan yang ada nantinya malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Tidak usah melemparkan kesalahan Mas kepada orang lain. Sudah jelas-jelas Mas lah yang berselingkuh di belakangku bersama Mona dan entah siapa-siapa lagi," sela Risa.


"Mas yang harusnya diam. Apa Mas sudah lupa? Mas sudah menceraikan aku dan saat ini aku sedang berjuang mengurus surat-surat perceraian kita. Jadi, tunggu saja surat panggilan dari pengadilan itu," ucap Risa dengan lantang.


"Cerai? Hah, jangan pernah bermimpi, Risa. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu," ucap Arga sambil tertawa sinis.


"Siapa bilang tidak bisa? Aku punya bukti-bukti yang kuat, Mas. Dan aku sudah menyerahkan semua foto dan videomu sebagai bukti," balas Risa tanpa gentar sedikit pun.


"Kurang ajar!" Arga menaikkan tangannya ke udara dan siap meluncurkannya ke wajah Risa. Namun, belum sempat tangan Arga menyentuh wajah Risa, Ayden sudah menahannya dan berhasil menghentikan aksi nekat lelaki itu.


"Jangan pernah berani menyentuhnya karena aku tidak akan pernah membiarkannya," ucap Ayden dengan rahang yang menegas.


Sementara wanita cantik yang tadi menemani Arga, segera berlari kemudian memeluk lengan lelaki itu. "Jangan, Mas. Sebaiknya kita pulang saja," ucapnya dengan wajah cemas.


Arga menghempaskan tangannya yang dicengkeram oleh Ayden dengan kasar. Setelah berhasil melepaskan tangannya, Arga pun kembali berkata-kata kasar kepada Risa.


"Lakukan saja, Risa! Lakukan semua yang kamu inginkan. Tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan rebut hak asuk Lily darimu, ingat itu!" ancam Arga sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Ya Tuhan, apakah itu benar? Apakah Mas Arga bisa mengambil hak asuh Lily dariku?" tanya Risa kepada Ayden dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tidak usah khawatir, Risa. Kamu memiliki bukti yang sangat kuat dan tidak semudah itu pengadilan memutuskan untuk mengambil alih hak asuh Lily darimu," jawab Ayden.


"Semoga saja, Mas. Jika benar itu terjadi, maka aku akan gila! Aku akan gila!" ucap Risa sambil terisak.


Sementara itu.


"Pak! Pak Arga! Anda belum membayar semua pesanan Anda," ucap salah satu karyawan yang bekerja di rumah makan tersebut sembari berlari mengejar Arga yang kini berjalan dengan cepat menuju pintu utama.


Seorang penjaga keamanan yang bertugas di rumah makan tersebut segera menahan langkah Arga kemudian meminta lelaki itu untuk membayar semua pesanannya.


"Maafkan aku. Karena kesal, aku sampai lupa membayar pesananku," ucap Arga sembari mengeluarkan isi dompetnya.


"Ish, Mas Arga malu-maluin aja," gumam wanita itu dengan wajah menekuk.


...***...