
"Siapa yang bertamu, Bi?" tanya Renatta sambil mencoba mengintip ke ruang utama. Namun, ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang bertamu ke rumahnya siang itu.
"Tuan Ayden, Non—" Belum selesai pelayan itu berkata-kata, Renatta sudah menyela ucapannya.
"Mas Ayden? Bibi serius? Ta-tapi untuk apa? Apa mungkin dia ingin kembali padaku," gumam Renatta dengan ekspresi wajah yang tampak semringah.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir. "Sebenarnya ... Tuan Ayden datang ke sini bersama seorang wanita," jawab pelayan itu dengan ragu-ragu.
Seketika ekspresi wajah Renatta berubah. Ia kesal saat mendengar bahwa Ayden datang bersama seorang wanita dan ia yakin sekali bahwa wanita itu adalah Risa.
"Wanita? Apakah wanita itu datang ke sini bersama seorang bayi perempuan?"
Pelayan itu mengangguk. "Ya, Non."
Renatta mendengus kesal. "Hah! Tidak salah lagi. Apa sih maunya Mas Ayden? Apa dia belum puas menyakiti perasaanku? Dan sekarang tanpa merasa bersalah, dia malah datang bersama wanita itu ke rumah ini!"
Pelayan itu mengelus punggung Renatta dengan lembut. "Sabar ya, Non. Sepertinya Tuan Ayden tidak punya maksud seperti itu. Bibi rasa dia memang punya kepentingan lain kepada ibunya Non Renatta," jelas pelayan tersebut.
"Halah! Bibi membela lelaki menyebalkan itu, ya!"
"Bukan begitu, Non. Sumpah, Bibi—" Belum selesai ia berkata, Renatta sudah melengos pergi dan kembali ke kamarnya.
Sementara itu.
"Jadi ... kapan kalian akan menikah? Jangan lupa undangannya ya, Ayden." Bu Ara tetap mencoba tersenyum walaupun terlihat jelas kesedihan di mata wanita itu.
Bukan hanya Pak Guntur, Bu Ara pun masih berharap Ayden bisa menjadi menantunya karena ia tahu benar bagaimana Ayden. Lelaki pekerja keras yang sangat bertanggung jawab.
"Sebenarnya kami ingin sekali melaksanakan pernikahan kami secepatnya, Tante. Namun, ada sesuatu hal yang membuat kami terpaksa harus bersabar," jelas Ayden sambil menggenggam tangan Risa yang sejak tadi terdiam tak bersuara sedikit pun.
Entah kenapa Risa merasakan bibirnya kelu dan tak mampu untuk berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Bu Ara dengan bibir yang tertutup rapat.
"Loh, memangnya apa yang membuat kalian harus menundanya?" Bu Ara mulai penasaran.
Ayden melirik Risa untuk beberapa saat kemudian kembali menatap Bu Ara yang masih menunggu jawaban darinya.
"Kami masih belum menemukan di mana orang tua kandung Risa berada, Tante. Sementara Risa menginginkan kedua orang tua kandungnya bisa berhadir di acara pernikahan kami nanti," sahut Ayden sembari memancing-mancing bagaimana reaksi Bu Ara saat itu.
Bu Ara semakin penasaran. "Memangnya orang tua kandungnya Risa ke mana?"
Ayden kembali melirik Risa. "Bolehkah aku menceritakan yang sebenarnya, Risa?"
Ayden kembali menatap Bu Ara. "Entahlah, Tante. Saat ini kami masih mencari keberadaan mereka. Dulu, Risa ditinggal di panti asuhan oleh ibunya begitu saja. Kami sudah mencari tahu informasi tentang wanita itu melalui data-data di panti asuhan tersebut. Namun sayang, kami masih belum menemukan informasi yang jelas tentangnya," jelas Ayden.
"Pa-panti asuhan?" pekik Bu Ara. "Memangnya usiamu berapa, Ris?" sambung wanita itu sembari menatap Risa.
"25 tahun, Tante," sahut Risa.
"25 tahun?" pekik Bu Ara sambil memegangi dadanya yang kembali terasa sesak.
Perlahan Bu Ara mengulurkan tangannya ke hadapan Risa lalu mengelus pipinya dengan lembut. "Dari panti asuhan mana kamu berasal, Risa?" tanya Bu Ara dengan mata berkaca-kaca menatap wanita muda itu.
"Ca-cahaya Asa," jawab Risa dengan terbata-bata. Bukan hanya Bu Ara, Risa pun mulai merasakan perasaan aneh ketika wanita itu menyentuh wajahnya. Terasa ada getaran hebat merasuk ke dalam hatinya yang paling dalam.
"Cahaya Asa?!" pekik Bu Ara lagi. Ia menarik kembali tangannya dan sekarang terlihat jelas tubuhnya bergetar dengan hebat.
"Si-siapa nama ibumu, Nak?" tanya Bu Ara lagi sambil meneteskan air mata.
"Wanita yang meninggalkan aku di panti asuhan itu bernama Ara Widya. Apa Tante mengenalnya?" sahut Risa yang juga ikut meneteskan air matanya.
"Ya Tuhan!" Bu Ara menangis hingga sesenggukan sambil menatap Risa.
Sementara Ayden ikut terharu melihat adegan yang terjadi di hadapannya. Dengan melihat reaksi Bu Ara saat itu membuat ia semakin yakin bahwa Bu Ara adalah wanita yang sama, yang sudah tega meninggalkan Risa di panti asuhan.
"Tunggulah sebentar! Kumohon jangan ke mana-mana," ucap Bu Ara sembari bangkit dari posisinya.
Sementara Risa dan Ayden tampak kebingungan saat itu.
Bu Ara berlari menuju kamarnya sambil terisak. Bahkan isak tangis wanita itu terdengar hingga ke telinga Renatta. Gadis itu penasaran sekaligus merasa kesal. Ia yakin Ayden lah yang sudah membuat ibunya menangis seperti itu.
Dengan cepat, Renatta menyusul Bu Ara ke dalam kamarnya dan saat ia tiba di sana, ia melihat sang ibu tengah bicara dengan begitu serius bersama ayahnya. Ia terdiam sejenak di ambang pintu sambil mendengarkan pembicaraan ibu dan ayahnya itu.
"Ayah, pulanglah sekarang juga! Aku sudah menemukannya, Ayah! Aku sudah menemukannya!" ucap Bu Ara, masih dengan terisak.
"Menemukan apa, Bu? Jangan buat Ayah penasaran," jawab Pak Guntur dari seberang telepon.
"Menemukan anak kita, Ayah. Anak kita!"
"Anak kita?!" pekik Renatta dengan mata membulat sempurna.
...***...