Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Menemui Mommy 2


"Tidak usah takut, Mommy tidak akan menggigitmu," bisik Ayden kepada Risa yang kini berjalan di sampingnya.


Tangan wanita itu terasa dingin dan Ayden dapat merasakan ketakutan dan kegundahan yang dirasakan oleh Risa saat itu. Setibanya di ruangan tersebut, tatapan Risa langsung tertuju pada wanita cantik yang sedang duduk di samping Oma Hana.


Mereka saling lempar pandang. Risa mencoba tersenyum, tetapi wanita itu sepertinya enggan untuk membalasnya.


"Ini dia Risa. Kamu masih ingat 'kan, Tiya?"


Wanita itu mengangguk pelan dengan tatapan yang masih tertuju pada Risa.


"Ya, tentu saja aku ingat. Apalagi ucapan terakhir yang diucapkan oleh Ayahnya beberapa tahun lalu. Kata-kata yang akan aku ingat sampai kapan pun," jawabnya dengan nada yang sedikit meninggi.


Ayden menghembuskan napas berat sembari menggenggam erat tangan Risa yang kini tengah tertunduk lesu menghadap lantai.


0ql"Mom, aku mohon!" lirih Ayden.


Bukan hanya Ayden, Oma Hana pun tampak kesal mendengar kata-kata Mommy Ayden barusan. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian meraih tangan Mommy Tiya.


"Ikutlah denganku, Tiya. Kita harus bicara empat mata!" ucap Oma Hana dengan begitu serius.


"Tapi, Oma?"


"Ayo!" ajak Oma.


Mau tidak mau, Mommy Tiya pun terpaksa mengikuti langkah Oma Hana yang kini menuntunnya menuju sebuah ruangan yang terletak tak jauh dari ruang utama. Di mana mereka masih bisa saling tatap.


"Ada apa lagi sih, Oma Hana? Jangan bilang Oma sedang berusaha membujukku untuk memberikan restu kepada Ayden agar bisa bersatu dengan janda beranak satu itu. Karena semua itu akan sia-sia saja. Aku tidak akan pernah merestuinya," celetuk Mommy Tiya dengan wajah menekuk sempurna.


"Memangnya kenapa? Apa karena statusnya yang sudah janda beranak satu?" sahut Oma Hana dengan alis yang bertaut.


Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya. "Bukan. Sebenarnya bukan soal itu, Oma. Ini soal hati yang pernah tersakiti."


Mommy Tiya mendengus kesal. "Memang bukan Risa. Namun, wanita itu pun sama bodohnya! Dia rela melepaskan Ayden demi seorang laki-laki yang katanya jauh lebih mapan dan memiliki masa depan yang jelas. Tidak seperti Ayden yang pengangguran dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Yang masa depannya begitu suram! Dan sekarang apa? Kenapa dia bercerai dengan suaminya yang mapan itu? Apakah karena ia sudah melihat keberhasilan Ayden, hingga rela melepaskan lelaki itu dan ingin kembali bersama anakku. Hmmm, maaf! Aku tidak sebodoh itu," tutur Mommy Tiya sambil tersenyum sinis.


Oma Hana membuang napas berat sembari menatap Mommy Tiya lekat. "Risa tidak seperti yang kamu pikirkan, Tiya. Risa wanita yang baik dan semua tuduhan yang kamu katakan terhadapnya, itu tidak benar. Risa sama sekali tidak menginginkan harta Ayden. Ia bahkan tidak tahu apa dan siapa Ayden sekarang."


"Halah, tidak mungkin!" Mommy Tiya membuang muka kemudian menatap Risa, Rachel dan Ayden yang sedang bercanda bersama Lily di ruang utama.


"Sekarang begini saja, Tiya. Posisikan dirimu seperti Risa. Apa yang akan kamu lakukan jika kedua orang tuamu memaksa untuk menikah dengan lelaki lain. Padahal saat itu kamu masih memiliki kekasih yang sangat kamu cintai. Apakah kamu akan bersikeras mempertahankan cintamu kemudian kawin lari dengannya. Atau mengambil keputusan yang sama seperti Risa, terpaksa melupakan kekasih yang kamu cintai demi kedua orang tuamu?"


Mommy Tiya terdiam sejenak. Tentu saja hal itu adalah pilihan yang begitu sulit. Memilih mempertahankan kekasih hati, tetapi membuat kedua orang tua kecewa atau mengikuti pilihan orang tua walaupun sebenarnya hati menjerit dan menangis pilu.


"Kamu sendiri sulit untuk memutuskannya 'kan?" ucap Oma Hana lagi.


"Ya, mungkin pilihan Risa saat itu memang benar. Tetapi tidak seharusnya juga keluarga mereka menghina Ayden 'kan?" kesal Mommy Tiya.


"Ayolah, Tiya! Jangan korbankan perasaan anak lelakimu lagi. Tidak bisa kah kamu menilai bagaimana Ayden sekarang? Ia jauh lebih ceria setelah bertemu dengan Risa. Berbeda saat kamu bersikeras menjodohkannya dengan Renatta, anaknya Pak Guntur. Aku yang bukan ibunya saja tahu bagaimana perasaan Ayden. Dan kamu sebagai ibunya, apa kamu tidak tahu bagaimana perasaannya?"


Mommy Tiya membuang napas berat dan kini kedua netranya kembali melihat ke arah ruang utama. Di mana Ayden sedang asik menggendong Lily.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Risa?" tanya Mommy Tiya tanpa menoleh sedikit pun kepada Oma Hana.


"Ia sudah ditalak oleh suaminya dan naas lelaki itu benar-benar tidak ingin bertanggung jawab terhadap Lily. Itulah sebabnya kenapa aku menerima dia bekerja di rumahku. Aku kasihan padanya, Tiya," tutur Oma Hana.


"Bagaimana? Apa kamu bersedia menerimanya?" Oma melirik raut wajah Mommy Tiya.


"Entahlah!" jawab Mommy Tiya santai.


"Ya ampun, Tiya. Jika kamu masih ragu dengan seluruh penuturanku. Ajaklah Risa untuk bicara dari hati ke hati dan kesampingkan egomu," jelas Oma Hana.


...***...