
"Astaga, Bang Ay! Aku sampe muter-muter nyariin, ternyata Abang di sini!" celetuk seorang wanita cantik yang tiba-tiba datang mendekat kepada Ayden. Wanita itu tampak bingung melihat Ayden yang tengah asik menggendong Lily.
"Anak siapa ini, Bang?" tanyanya dengan alis yang saling bertaut.
"Cantik ya, Chel. Namanya Lily, dia anaknya Risa, ehm ... teman lamaku," ucap Ayden sambil melirik Risa.
"Risa, kenalkan ini Rachel."
Wanita bernama Rachel itu pun segera mengulurkan tangannya ke hadapan Risa sambil tersenyum hangat.
"Rachel."
"Risa," jawab Risa sembari menyambut uluran tangan wanita cantik itu.
Setelah melepaskan tangan Risa, kini tatapan Rachel kembali fokus ke arah Ayden.
"Bang Ay, coba lihat ini!" Wanita cantik itu memperlihatkan sebuah kalung cantik yang melingkar di lehernya kepada Ayden sambil tersenyum manja.
"Astaga, Chel, bukankah aku memintamu untuk membuka hadiahnya di rumah saja?" ucap Ayden sambil tersenyum tipis.
"Tapi aku sudah tidak sabar, Bang Ay. Aku sangat penasaran! Jadi ya, aku buka saja! Maaf, ya," sahut wanita cantik itu sembari memeluk lengan kekar Ayden.
"Kamu menyukainya?" tanya Ayden.
"Ya. Aku sangat menyukainya," jawab Rachel.
"Syukurlah, berarti aku tidak sia-sia membelikannya untukmu."
Risa tampak tidak nyaman berada di antara pasangan itu. Ia takut keberadaannya di tempat itu hanya mengganggu kebersamaan mereka.
"Ehm, Mas Ayden, Rachel, sepertinya aku harus pergi sekarang," sela Risa seraya menghampiri Ayden untuk mengambil kembali Lily dari pelukan lelaki itu.
"Kamu mau ke mana? Pulang?" tanya Ayden, masih belum rela melepaskan Lily dari pelukannya.
"Iya, Mas. Ini sudah saatnya aku pulang. Takutnya Mas Arga sudah nungguin di rumah," jawab Risa.
"Kalau begitu kita barengan aja, Ris. Kebetulan kami juga ingin pulang. Benar 'kan, Chel?" Ayden melirik Rachel sambil tersenyum tipis. Seolah memberi isyarat kepada wanita itu agar mengatakan 'Ya'.
"Loh, Bang Ay, katanya tadi—" Belum habis Rachel berkata-kata, Ayden sudah menyumpal mulut gadis itu dengan tangannya.
"Tidak usah repot-repot, Mas. Aku bisa naik bus kok, dari sini," ucap Risa sambil tersenyum kecut menatap Ayden dan Rachel.
"Tidak apa-apa, Ris. Tidak merepotkan, kok. Lagi pula tujuan kita satu arah," sahut Ayden, mencoba meyakinkan wanita itu.
"Loh, memangnya Mas Ayden tahu di mana alamat rumahku sekarang?" Risa terkekeh pelan.
"Ya. Aku tahu. Di komplek perumahan Permata, kan?" jawab Ayden dengan begitu yakin.
Risa mengelus tengkuknya sambil tersenyum getir. "Ya, Mas benar.
Rachel melepaskan tangan Ayden yang masih membekap mulutnya kemudian ikut menimpali ucapan Ayden. "Ya, Risa. Ikut kami saja."
Risa tampak menimbang-nimbang tawaran Ayden dan Rachel. Sementara pasangan itu terus menatapnya dengan penuh harap.
Risa menghembuskan napas berat. "Baiklah. Tapi aku tidak menggangu kalian, 'kan?"
Kini mereka tiba di tempat parkir. Ayden membukakan pintu mobilnya untuk Risa kemudian menyerahkan bayi Lily kembali kepadanya. Jika Risa duduk di jok belakang bersama Lily, Rachel duduk di depan menemani Ayden.
Sepanjang perjalanan, perhatian Risa hanya tertuju pada pasangan yang tengah asik berbincang sambil bercanda di depannya. Ia yakin sekali antara Rachel dan Ayden memiliki hubungan yang sangat spesial karena beberapa kali ia melihat Rachel memeluk dan bersandar di pundak Ayden.
Penampilan Ayden pun tidak luput dari perhatian Risa. Ayden benar-benar sudah berubah dari terakhir kali ia bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu tampak lebih tampan dan mungkin jauh lebih mapan dari Ayden yang ia kenal dulu. Jika Ayden berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, berbanding terbalik dengan dirinya sekarang ini.
Risa refleks memperhatikan dirinya yang terlihat jauh lebih kurus, kucel dan tampak kusam. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Risa benar-benar merasa malu harus bertemu dengan Ayden dan ia berharap ini adalah pertemuan terakhirnya dengan lelaki masa lalunya itu.
"Ris, boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Ayden sambil melirik Risa dari kaca spion depan wajahnya.
Risa tampak menimbang-nimbang. Ia ragu memberikan nomor ponselnya kepada lelaki itu. "Ehm, untuk apa, Mas?"
"Loh, biar aku bisa menghubungimu. Katanya kamu ingin mengganti biaya kerusakan ponselku?" jawab Ayden sambil mengulum senyum.
"Oh, itu. Baiklah, tunggu sebentar!" Tanpa pikir panjang, Risa pun segera memberikan nomor ponselnya kepada Ayden.
Rachel melirik Ayden sambil memicingkan matanya. "Hhh, Bang Ay modus!" ucapnya dengan setengah berbisik agar Risa tidak mendengar ucapannya.
Ayden hanya tersenyum, tanpa berkeinginan menimpali ucapan Rachel.
Tidak berselang lama mereka pun tiba di depan komplek perumahan Permata, di mana Arga dan Risa tinggal. Risa meminta Ayden untuk menghentikan mobilnya di depan komplek. Namun, Ayden menolak dan meneruskan perjalanan mereka hingga tiba di depan pagar rumah sederhana milik Arga.
"Hmmm, seharusnya Mas membiarkan aku turun di depan komplek saja biar tidak terlalu merepotkan Mas. Tapi, terima kasih banyak atas tumpangannya," ucap Risa sambil tersenyum hangat menatap pasangan itu.
"Sama-sama," jawab Ayden dan Rachel secara bersamaan.
Setelah keluar dari mobil Ayden, perhatian Risa langsung tertuju pada mobil hitam milik Arga sudah terparkir rapi di halaman depan rumah mereka. Tepat di saat itu, Arga keluar dari rumah kemudian berjalan dengan cepat menghampiri Risa dan bayinya.
"Risa, dari mana saja kamu? Aku benar-benar mencemaskanmu," ucap Arga.
Ayden yang merasa tidak enak, segera keluar dari dalam mobilnya kemudian berjalan menghampiri pasangan itu.
"Mas Arga," sapa Ayden sambil tersenyum hangat menatap Arga.
Mata Arga membulat sempurna melihat Ayden keluar dari mobil itu. Emosinya tiba-tiba memuncak setelah mengetahui bahwa Risa pulang bersama lelaki itu.
"Ayden? Oh, jadi kalian ...." Arga tersenyum sinis dengan wajah yang tampak memerah menatap Ayden.
"Sebenarnya kami tidak sengaja bertemu, Mas Arga—" Belum habis Ayden bicara, Arga sudah menghampiri dan mencengkram kerah kemeja milik lelaki itu.
Risa bergegas menghampiri Arga dan menarik tangan suaminya itu. "Mas, hentikan! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak malu, di dalam ada calon istri Mas Ayden!" geram Risa dengan setengah berbisik kepada Arga.
Tepat di saat itu Rachel keluar dari mobil dan menghampiri Ayden. "Bang Ay! Abang tidak apa-apa?" tanya Rachel sambil menatap Arga dengan wajah kesal karena sudah berani menyerang Ayden tanpa alasan yang jelas.
Arga membalas tatapan kesal Rachel untuk beberapa saat, kemudian mengajak Risa masuk ke dalam rumah mereka.
"Masuk!" titahnya sambil menarik tangan Risa dengan kasar.
"Jangan ditarik-tarik, Mas! Tanganku sakit!" pekik Risa.
Sepeninggal Risa, Ayden dan Rachel pun segera masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
...***...