Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Memulai Hari


Setelah berbincang bersama pemilik kost-kostan, Risa pun akhirnya memutuskan untuk menempati satu kamar untuknya dan si kecil Lily. Beruntung pemilik kost-kostan itu baik.


Setelah mengetahui bahwa Risa tidak memiliki apa-apa, ia pun bersedia meminjamkan beberapa peralatan masak dan makan sederhana serta sebuah kasur miliknya yang sudah tidak terpakai. Bukan hanya pemilik kost-kostan, Ayu pun tanpa ragu membagi barang-barang miliknya kepada Risa.


Setelah selesai merapikan ruangan itu, Risa pun segera merebahkan tubuh kurusnya di atas tempat tidur bersama Si Mungil untuk melepaskan rasa penat dan lelahnya. Risa bahkan sampai lupa bahwa hari ini ia belum menyentuh makanan sedikitpun.


"Kamu lihat, Sayang. Mulai hari ini tidak akan ada lagi yang bisa memperlakukan kita semena-mena. Kita akan mencari kebahagiaan kita di sini. Hanya Lily dan Ibu saja," gumam Risa.


Tok ... tok ... tok ....!


Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. Risa bergegas bangkit kemudian berjalan menghampiri pintu.


Ceklek!


"Eh, Ayu." Risa tersenyum setelah mengetahui bahwa Ayu lah yang kini tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ini, Ris. Aku bawain mie ayam untukmu." Ayu menyerahkan sebuah kantong kresek berisi mie ayam kepada Risa dan segera disambut oleh wanita itu dengan wajah semringah.


"Wah, beneran untuk aku, Yu?"


"Ya. Mie ayam buatan abang Is ini memang yang paling enak. Cobain deh, kamu pasti suka. Apalagi kamu belum makan apa-apa 'kan?"


Risa mengelus tengkuknya setelah mendengar penuturan Ayu. "Hehe, iya. Terima kasih banyak ya, Yu."


"Sama-sama. Ngomong-ngomong mana Lily? Udah tidur?"


"Ada di dalam. Masuk dulu, yuk!" Risa membuka pintunya lebih lebar lagi agar Ayu bisa masuk.


Ayu pun segera masuk kemudian menghampiri Lily yang sedang asik berbaring di atas tempat tidur.


"Wah, Si Cantik lagi ngapain?" sapa Ayu kepada bayi mungil itu.


Si kecil Lily pun seolah mengerti. Ia tersenyum sambil sesekali berceloteh, mengeluarkan bahasa bayinya kepada Ayu.


"Rugi sekali suamimu, Ris. Rela meninggalkan bayi mungil secantik Lily demi seorang pelakor," celetuk Ayu kepada Risa yang tengah sibuk memasukkan mie ayam yang dibawa oleh Ayu ke dalam mangkok.


Risa sudah bercerita kepada Ayu alasan ia dan Lily berkelana hingga ke kota itu. Namun, Ayu belum tahu kalau yang menjadi perusak dalam rumah tangganya adalah adik perempuannya sendiri.


"Begitulah, Yu. Tapi ya sudahlah. Aku sudah menerima nasibku dan anakku," jawab Risa.


"Trus, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ayu sambil menatap Risa dengan wajah sendu.


Ayu tampak menimbang-nimbang. "Apaan, ya? Bagaimana kalau jualan online? Cuma bermodal kuota dan hp," jawab Ayu kemudian.


Risa terdiam sejenak. "Tapi jualan apa? Aku tidak punya banyak modal, Yu."


"Aku punya teman yang jualan online dan usahanya cukup besar. Dia nyari orang yang mau jualin barang dagangan dia. Gak butuh modal, cuma jualin aja. Nanti kamu dapat persentase dari barang jualannya tadi. Gimana, kamu mau gak? Kalau mau, entar aku kasih tau ke dia," tutur Ayu dengan begitu antusias.


"Boleh deh, coba-coba. Siapa tahu ada rejeki Lily di sana."


"Nah 'kan. Kamu bisa dapat cuan tanpa harus meninggalkan Lily."


Keesokan harinya.


Ayu mempertemukan Risa dengan mbak Khalisa, wanita yang punya usaha jualan online. Berbagai macam produk yang ia jual. Ada pakaian, makanan, dan berbagai peralatan rumah tangga.


Setelah berbincang-bincang bersama Risa, mbak Khalisa pun akhirnya setuju dan bersedia mengajak Risa untuk bergabung bersamanya.


"Baiklah, Risa. Sekarang kamu sudah bisa mempromosikan barang daganganku. Oh ya, kalau kamu tidak sibuk dan ingin menambah uang jajan, kamu bisa ikutan seperti mereka." Mbak Khalisa menunjuk ke arah beberapa orang anak buahnya yang sedang live di depan kamera ponsel sambil mempromosikan barang dagangannya.


"Wah, tapi saya tidak punya pengalaman di depan kamera, Mbak. Dan saya juga malu, karena saya," Risa menghentikan ucapannya kemudian memperlihatkan bagaimana penampilannya saat itu.


"Ish, jangan bilang begitu. Sebenarnya kamu itu cantik, kok. Serius!" Mbak Khalisa mencoba meyakinkan Risa.


Risa kembali memperhatikan orang-orang itu sambil tersenyum. Membayangkan dirinya live di depan kamera ponsel untuk mempromosikan barang-barang dagangan milik Mbak Khalisa.


"Baiklah, Mbak. Tapi sepertinya aku harus belajar dari mereka dulu bagaimana cara menarik perhatian para pembeli," sahut Risa.


"Ya, kamu benar."


"Baiklah, saya pamit dulu. Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga saja jualan saya nanti laris manis," ucap Risa.


"Aamiin, semoga."


Risa dan Ayu pun segera pamit dan kembali ke kost-an mereka.


"Semoga rejeki kamu lancar ya, cantik. Biar kamu bisa buktiin sama bapakmu yang tidak bertanggung jawab itu bahwa kamu bisa bahagia bersama Ibu kamu walaupun tanpa dirinya," ucap Ayu kepada si kecil Lily yang sedang berada di pelukannya.


...***...