
"Sudahlah, Mas. Kamu sudah terlalu banyak minum. Kamu tidak akan bisa mengemudikan mobilmu dengan kondisi yang seperti ini?" celetuk wanita seksi yang sejak tadi begitu setia menemani Arga.
"Biarkan saja, Nella. Biarkan saja aku begini! Lagi pula tidak ada orang yang peduli denganku," jawab Arga sambil terus menenggak minuman memabukkan itu.
"Kata siapa, Mas? Buktinya aku masih peduli! Jika aku tidak peduli, mungkin kamu sudah aku tinggalin sendiri di sini," kesal wanita yang bernama Nella tersebut.
Arga tersenyum sinis kemudian menenggak minuman memabukkan itu sekali lagi.
"Kamu pernah bilang bahwa kamu sudah tidak peduli lagi sama Risa. Tapi buktinya apa? Kamu masih memperhatikannya, 'kan! Mas tadi cemburu ketika melihat Risa jalan bersama lelaki lain," sambung Nella dengan wajah menekuk.
Arga terkekeh pelan. "Aku tidak cemburu. Aku hanya marah karena apa yang aku pikirkan selama ini ternyata benar. Dia masih berhubungan dengan mantan pacarnya dahulu. Tadi kamu lihat sendiri 'kan, lelaki berdarah campuran itu adalah mantan kekasihnya dulu, sebelum menikah denganku," jawabnya.
"Ah, sudahlah, Mas Arga. Jangan ngeles lagi Sebaiknya kamu pulang saja. Mungkin saat ini istrimu sudah menunggu kedatanganmu," ucap Nella sembari meraih tangan Arga.
Arga sempat menolak. Namun, Nella tidak menyerah begitu saja. Dengan meminta bantuan orang-orang yang ada di klub malam tersebut, ia pun berhasil membawa Arga kembali ke mobilnya.
"Kamu tidak bisa membiarkan dia mengemudikan mobil ini sendiri. Coba lihat dia, dia mabuk berat!" ucap salah seorang lelaki yang membantu Nella menuntun Arga ke tempat parkit.
"Ya, aku tahu itu. Apa kamu bisa membantuku membawa lelaki ini kembali ke kediamannya?"
Lelaki itu tampak berpikir keras hingga akhirnya ia pun setuju dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tapi ini tidak gratis. Aku ingin kamu membayarku dengan uang yang sepadan. Bagaimana?"
Nella memutarkan bola matanya. "Iya-iya, baiklah! Aku akan membayarmu."
Lelaki itu tersenyum lebar kemudian masuk ke dalam mobil milik Arga. Ia duduk di kursi depan kemudi dan bersiap melakukan mobil tersebut.
"Jalan!" ucap Nella, memberi perintah kepada lelaki itu.
Sementara lelaki itu terus fokus pada kemudinya, Arga masih meracau sambil sesekali mencium dan memeluk Nella.
"Malam ini menginaplah di rumahku, Nella. Masih ada kamar kosong di sana. Kita bisa bercinta sepanjang malam," racau Arga.
"Yang benar saja, Mas Arga. Di sana ada istri mudamu. Masa iya aku harus bertatap mata langsung dengannya? Yang ada kami malah jambak-jambakan," celetuk Nella sambil tersenyum tipis.
"Ahhh! Tidak usah kamu pedulikan wanita itu. Aku tidak peduli mau dia marah, kek. Mau dia kabur kek dari rumah, terserah! Karena aku tidak pernah peduli dengannya," jawab Arga dengan mata terpejam.
"Hmmm, terserahlah."
"Ya Tuhan, Mas Arga! Kamu kenapa?" ucap Mona sembari menghampiri Arga yang kini sedang berdiri di samping Nella dengan kondisi sempoyongan.
"Ayo, Sayang! Masuklah," ucap Arga seraya menarik pelan lengan Nella.
Mona refleks menarik tangan Nella dengan kasar hingga terlepas dari pelukan Arga. "Siapa wanita ini, Mas?"
"Akh, berisik! Dia kekasihku, memang kenapa? Kamu tidak suka?" sahut Arga yang kemudian kembali menarik tangan Nella agar mengikutinya masuk ke dalam rumah mereka.
"Tidak bisa, Mas! Aku tidak mengizinkan wanita ini masuk ke dalam rumahku! Jika Mas ingin bersenang-senang bersama wanita ini, bersenang-senanglah di luar, tetapi jangan ajak dia ke rumah kita!" geram Mona yang kembali mencoba menarik tangan Nella.
Namun, Nella tidak tinggal diam. Ia menghempaskan tangan Mona yang memegang pergelangan tangannya dengan begitu kasar.
"Lepaskan tanganku! Kamu tidak berhak melarang-larang Mas Arga mengajak siapa pun ke rumah ini. Karena rumah ini adalah milik Mas Arga," sahut Nella sambil tersenyum sinis.
"Diam kau, Ja**ng! Aku ini istrinya dan aku punya hak penuh atas rumah ini, paham!" geram Mona dengan wajah memerah.
"Kau yang ja**ng! Memangnya aku tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya, ha! Dasar pelakor murahan! Suami kakak sendiri saja diembat," sahut Nella yang tidak ingin kalah.
"Akh, sudah-sudah! Jangan hiraukan wanita ini. Sebaiknya kita masuk, Nella. Aku sudah sangat lelah," sela Arga yang sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, Mas. Tunggu sebentar, aku ingin membayar lelaki itu," jawab Nella.
Nella menghampiri lelaki yang tadi mengantarkan mereka kemudian menyerahkan sejumlah uang kepadanya. "Ini upahmu. Terima kasih banyak."
Lelaki itu tersenyum lebar setelah melihat jumlah uang yang diberikan oleh Nella. "Terima kasih kembali."
Setelah lelaki itu pergi meninggalkan pekarangan rumah Arga, Nella pun kembali menghampiri kekasihnya yang sejak tadi sudah tidak sabar menunggu.
"Ayo, Nell. Kamu ini lama sekali!" gerutu Arga.
"Iya, Sayang. Maaf!" Nella menuntun Arga kemudian masuk ke dalam rumah tersebut. Sementara Mona masih menatap mereka dengan tatapan kesal.
"Mas Arga! Aku tidak terima ini! Aku tidak terima wanita itu menginjakkan kakinya ke dalam rumah kita!" teriak Mona sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
...***...