
"Maafkan saya, Om."
Pak Guntur memegang dadanya yang terasa sesak setelah mendengar keputusan Ayden, begitu pula Renatta. Gadis itu bahkan terisak sambil membenamkan wajahnya di pundak sang ayah.
"Tidak bisakah kamu pikirkan sekali lagi keputusanmu ini, Ayden? Kamu telah menghancurkan perjanjian yang dulu pernah aku dan mendiang daddy-mu sepakati," lirih Pak Guntur.
"Maafkan saya, Om. Tapi perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Bukan sekali dua saya mencoba membuka hati untuk Renatta, tetapi tetap tidak bisa. Hati saya tetap untuk wanita itu," sahut Ayden dengan mantap.
Terlihat jelas raut wajah kecewa Pak Guntur. Beberapa kali terdengar lelaki paruh baya itu membuang napas berat. Ia bahkan tak hentinya mengusap puncak kepala Renatta yang terisak dan mencoba menenangkan anak gadisnya itu.
"Baiklah, aku terima keputusanmu ini. Namun, jujur aku masih berharap suatu saat nanti kamu kembali ke sini dan menerima perjodohan yang sudah aku dan mendiang daddy-mu sepakati."
"Tapi, Ayah!" Renatta protes. Ia tidak suka ketika sang ayah pasrah begitu saja menerima keputusan Ayden yang menolak perjodohan mereka.
"Sudahlah, Renatta."
Renatta yang kecewa, segera berlari meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
Ayden tampak serba salah. Ia bahagia karena akhirnya sudah berhasil mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya selama ini. Namun, ia juga merasa tidak nyaman saat menyaksikan kesedihan Renatta.
"Maafkan saya, Om." Ayden membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Tidak apa-apa, Ayden. Sebaiknya kamu pulang saja. Dan soal Renatta, dia pasti akan baik-baik saja."
Ayden tersenyum kecil sembari menghampiri Pak Guntur. Ia menyalami lelaki paruh baya itu kemudian memeluknya sambil mengucapkan terima kasih banyak.
"Terima kasih banyak atas pengertiannya, Om. Saya berjanji akan terus mengingat seluruh kebaikan Om dan tante Ara selama ini kepada saya dan juga mommy."
Pak Guntur menepuk pundak Ayden sambil tersenyum. "Sama-sama, Ayden. Itu semua aku lakukan karena mendiang daddy-mu juga begitu. Dia begitu baik kepada keluarga kami dan selalu siap sedia mengulurkan kedua tangannya ketika kami dalam kesusahan," sambung Pak Guntur.
Setelah berpamitan, Ayden pun segera kembali ke mobilnya.
"Ay, jangan lupa undangannya," ucap Pak Guntur sebelum Ayden melajukan mobilnya meninggalkan kediaman lelaki paruh baya itu.
Ayden terkekeh. "Tentu saja, Om. Doakan saja semuanya lancar."
"Ya, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu," jawab Pak Guntur.
Ayden pun mengangguk kemudian segera memacu kendaraan roda empat tersebut menuju jalan besar.
Sepeninggal Ayden, Pak Guntur kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia bergegas menuju kamar Renatta, di mana anak gadisnya itu masih menangis dan mengeluh kepada sang ibu.
"Aku tidak mau, Bu. Aku tidak mau," lirih Renatta di sela isak tangisnya.
Bu Ara hanya bisa menghela napas panjang sembari mengelus lembut puncak kepala Renatta yang berbaring di pahanya.
"Kamu tidak bisa memaksakan perasaan seseorang, Renatta. Ayden sudah berkata jujur bahwa dia tidak bisa mencintaimu. Ibu rasa itu lebih baik karena dia memilih jujur sekarang. Dari pada nanti-nanti?"
"Apanya yang lebih baik, Bu? Hati ini sakit sekali! Sakit," rintih Renatta sambil mencengkram erat dadanya.
Ceklek! Pintu kamar bernuansa serba pink itu terbuka. Tampak Pak Guntur tengah berjalan menghampiri tempat tidur Renatta.
Renatta bergegas bangkit dari posisinya kemudian duduk menghadap tembok, membelakangi sang ayah yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Ayah jahat!" pekik Renatta sambil menekuk wajahnya kesal.
"Maafkan Ayah, Nak. Tetapi ini adalah yang terbaik untukmu."
"Halahh, tidak Ayah, tidak Ibu, kalian sama saja! Sama-sama tidak mengerti perasaanku!" kesal Renatta sambil menyilangkan tangan ke dada.
Pak Guntur dan Bu Ara hanya bisa saling tatap dengan raut wajah sedih. Pak Guntur meraih tangan istrinya itu kemudian mengajaknya untuk keluar dari ruangan itu.
"Bu, sebaiknya kita kembali. Biarkan Renatta sendiri, dia butuh waktu untuk memikirkan hal ini dengan matang," ucap Pak Guntur.
Bu Ara menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Ayah benar."
Pasangan paruh baya itu pun segera keluar dari dalam kamar Renatta.
"Akh! Kalian benar-benar menyebalkan!" teriak Renatta sambil melemparkan bantal dan gulingnya ke arah pintu tepat setelah kedua orang tuanya melewati pintu tersebut.
Pasangan paruh baya itu duduk di sofa ruang utama dan mulai berbincang di ruangan itu.
"Ayah jadi ingat kisah cinta kita, Bu." Pak Guntur tersenyum masam.
Baru saja Pak Guntur mengingatkan kisah cinta masa lalu mereka, Bu Ara tiba-tiba terisak sambil memeluk Pak Guntur.
"Aku menyesal, Ayah. Aku sangat-sangat menyesal!"
Pak Guntur menghembuskan napas berat. "Seharusnya aku tidak mengingatkan kamu soal itu."
Sementara itu di perjalanan.
"Aku harus menemui mommy dan
membicarakan soal Risa kepadanya. Semoga saja mommy bisa menerima keputusanku ini," gumam Ayden yang kini melaju menuju kediamannya.
Selang beberapa saat, kini mobil mewah milik Ayden tiba di halaman depan rumah megahnya. Setelah memarkirkan mobil tersebut, ia pun segera masuk ke dalam.
"Di mana mommy, Bi?" tanya Ayden ketika berpapasan dengan salah satu pelayannya.
"Ada di ruang televisi, Tuan."
"Terima kasih," jawab Ayden yang kini melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat menuju ruangan itu.
Dan benar saja, tampak sang mommy tengah duduk bersantai sambil menyeruput segelas teh manis di depan televisi yang berukuran super besar itu.
Wanita cantik itu tersenyum tatkala ia melihat Ayden datang mendekat ke arahnya.
"Ayden sayang, akhirnya kamu pulang juga," sapa Sang Mommy.
Ayden duduk di samping wanita itu kemudian menatapnya lekat.
"Mom, aku ingin membicarakan sesuatu kepada Mommy dan ini sangat penting."
Mommy Tiya menautkan kedua alisnya heran. "Bicara soal apa, Ay?"
"Ini soal Risa," jawab Ayden dengan tegas.
...***...