
"Tentu saja itu menjadi urusanku, Mas! Apa Mas lupa, Mas itu suamiku!"
Arga melepaskan sepatu serta kaos kakinya. Ia meletakkan benda itu ke samping tempat tidur lalu berbaring dengan posisi miring menghadap dinding kamar.
Tentu saja hal itu membuat Mona semakin meradang. Ia merasa kesal karena Arga sama sekali tidak ingin menggubrisnya. Ia kembali menghampiri Arga dan duduk di samping tubuh lelaki itu. Tercium aroma minuman memabukkan yang begitu pekat dari tubuh Arga serta wewangian dari parfum wanita.
Mona mendekatkan hidungnya kemudian mengendus-endus lelaki itu. "Mas mabuk, ya?" pekik Mona dengan mata membulat menatap Arga yang diam dengan mata menutup.
"Ck!"
Hanya decakan kesal yang terdengar dan Arga masih enggan menanggapi istrinya itu.
"Mas, jawab aku! Selain itu, aku juga mencium aroma parfum wanita lain di kemejamu. Apakah itu benar? Mas!" teriak Mona yang akhirnya berhasil membuat Arga membuka mata.
"Diam! Apa kamu tidak tahu ini sudah larut, Mona! Dan aku ingin tidur karena besok harus kembali bekerja," kesal Arga karena tidurnya terganggu oleh sikap Mona.
"Bekerja katamu, Mas? Bekerja atau malah bersenang-senang bersama wanita lain. Aku bisa mencium dengan jelas ada aroma parfum wanita lain di kemejamu ini," geram Mona.
Arga mendengus kesal. "Stop, Mona! Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku sudah mengantuk dan aku ingin tidur!"
Arga kembali memiringkan tubuhnya menghadap dinding lalu menutup wajahnya dengan bantal agar ia tidak dapat mendengar ocehan Mona lagi.
Namun, Mona tidak tinggal diam. Ia tidak akan pernah membiarkan Arga mengacuhkan dirinya begitu saja.
"Mas! Bangun, Mas! Kita belum selesai bicara," ucap Mona sambil menarik-narik kemeja yang dikenakan Arga dengan kasar.
Aksi Mona tersebut berhasil menyulut kemarahan Arga. Lelaki itu refleks bangkit kemudian dengan secepat kilat melayangkan sebuah tamparan ke wajah mulus Mona.
Plakkk!
"Akh!" Mona memekik kesakitan sambil mengelus pipinya. Kulit wajah Mona memerah akibat pukulan itu dan ia pun akhirnya tidak kuasa menahan tangis.
"Mas keterlaluan!" lirih Mona di sela isak tangisnya.
"Bukan kah aku sudah memperingati dirimu sebelumnya, Mona? Jangan ganggu aku. Aku sudah mengantuk dan ingin tidur," tegas Arga sambil menunjuk wajah Mona.
Tatapan lelaki itu berhasil membuat nyali Mona menciut. Mata yang memerah serta rahang yang ikut ikut menegas seolah menjadi pertanda bahwa lelaki itu tengah kehabisan rasa sabarnya.
"Aku tidak akan segan-segan menyakitimu lebih dari ini jika kamu berani mengganggu tidurku lagi. Kamu mengerti?" lanjut Arga.
Mona mengangguk pelan. "Ya, aku mengerti."
"Kamu benar-benar keterlaluan, Mas! Tidak tahukah kamu, aku begini karena aku sangat mencintaimu," lirih Mona.
Waktu terus berlalu dan akhirnya Arga benar-benar terlelap di dalam tidurnya. Sementara Mona masih berbaring di samping lelaki itu dengan tatapan kosong menerawang menghadap langit-langit kamar.
"Akhh, Sayang ... kamu benar-benar sangat cantik. Dan buah melon-mu ini, eummmhh ... sangat menggoda!"
Tiba-tiba Arga meracau. Entah apa yang tengah diimpikan oleh Arga saat itu yang pasti Mona yakin pujian itu bukanlah untuknya.
"Buah melon? Cantik? Apa-apaan Mas Arga! Apa mungkin dia punya selir lagi di luaran sana?" gumam Mona.
Dadanya terasa panas dan sesak. Bahkan untuk menarik napas pun rasanya sangat sulit. Mona memegang bagian dadanya kemudian bangkit dari posisinya.
"Tiba-tiba aku punya firasat yang tidak baik tentang Mas Arga. Wangi parfum serta racauan Mas Arga membuat aku yakin bahwa dia sudah bermain bersama wanita lain di belakangku," gumam Mona lagi.
Perlahan-lahan Mona mengambil ponsel milik Arga yang masih terselip di dalam saku celananya. Dengan sangat hati-hati sekali, ia menarik benda pipih itu agar Arga tidak terbangun dari tidurnya. Setelah beberapa detik berjuang, akhirnya Mona berhasil mendapatkan ponsel tersebut.
"Akhirnya!" ucap Mona sambil tersenyum puas.
Mona mencoba membuka layar ponsel tersebut. Namun, ternyata Arga menggunakan kunci layar.
"Ya ampun! Mana layarnya terkunci lagi!" umpat Mona. "Sebentar! Sepertinya aku ingat pola kuncinya. Ah, semoga saja Mas Arga belum menggantinya."
Mona mencoba memasukkan pola yang dulu pernah diberitahu oleh Arga ketika lelaki itu masih sayang-sayangnya. Dan ternyata Mona benar, Arga belum mengganti pola tersebut. Ponsel itu akhirnya terbuka dan Mona pun bisa menjelajahi isinya dengan sepuas hati.
Mona membuka aplikasi chat dan ia menemukan beberapa pesan dari wanita yang berbeda. Isi chat mereka bersama Arga terlihat begitu manis hingga berhasil membuat kepala Mona berasap saat membacanya. Apalagi isi pembahasan chat mereka hanya soal 'itu' dan 'itu' saja.
"Kurang ajar! Ternyata benar, Mas Arga punya wanita lagi di luar sana! Dan yang lebih mengerikan, wanitanya bukan hanya satu," geram Mona dengan dada bergetar hebat.
Mona yang begitu penasaran, membuka galeri foto di ponsel tersebut. Dan ternyata benar, ada beberapa foto Arga yang tampak mesra bersama wanita dan wanita itu berbeda-beda.
"Ya ampun, Mas Arga! Kamu benar-benar sudah gila! Kamu bahkan bermain bersama wanita-wanita ini di belakangku! Menjijikkan sekali," gumam Mona.
Sekarang mata Mona tertuju pada koleksi video milik Arga. Ia begitu penasaran apa isi video tersebut. Namun, ia takut menemukan sesuatu yang bisa membuatnya sakit hati.
"Apa aku harus membukanya?" gumam Mona dengan tangan gemetar memegang benda pipih tersebut.
...***...