Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Pemeriksaan Kandungan


Di kota X, Komplek Perumahan Permata.


Mona duduk di tepian tempat tidur sambil berpikir keras. "Baiklah, sebaiknya aku bersabar menghadapi sikap mas Arga. Aku yakin, cepat atau lambat, Mas Arga pasti akan luluh padaku," gumam Mona.


Selang beberapa saat, Arga pun tiba di depan rumahnya. Setelah memarkirkan mobil, Arga bergegas masuk dan berjalan menuju kamar utama. Hal pertama yang ingin Arga lihat adalah isi lemari pakaiannya. Ia ingin memastikan bahwa pakaian serta barang-barang milik Risa kembali ke tempat asalnya. Sama seperti perintahnya tadi siang kepada Mona.


Ceklek!


Pintu terbuka dan ia melihat Mona masih duduk di tepian tempat tidur sambil melamun. Bahkan wanita itu sama sekali tidak sadar bahwa Arga sudah tiba dan berjalan memasuki ruangan tersebut.


Mona tersentak kaget dan lamunannya pun mendadak sirna ketika melihat Arga lewat di hadapannya. Lelaki itu menghampiri lemari pakaian dan mulai memeriksanya dengan begitu teliti hingga tak satu barang pun luput dari pandangannya.


Setelah memastikan bahwa tak ada barang yang kurang atau hilang, Arga pun segera melebarkan senyumnya.


"Eh, Mas Arga sudah pulang?" tanya Mona dengan begitu lembut. Ia menghampiri Arga kemudian bersandar di lengan kekar lelaki itu.


"Nah, begitu, donk! Turuti saja semua perintahku dan jangan pernah menjadi istri yang pembangkang karena aku tidak suka itu," sahut Arga.


"Ya, Mas. Mulai hari ini aku akan menjadi istri yang baik. Yang akan mengikuti semua perintah dan keinginanmu," sambung Mona.


"Semua pakaian dan barang-barang milik mbak Risa sudah aku kembalikan ke tempat semula. Sekarang Mas Arga senang 'kan?" Mona menatap wajah Arga lekat sembari tersenyum.


"Ya, tentu saja."


Arga menepis lengan Mona yang saat itu masih memeluknya dengan erat. "Aku mau mandi dulu."


"Oh ya, Mas. Setelah mandi, aku ingin bicara padamu," ucap Mona.


Arga tidak menjawab, ia terus melenggang ke kamar mandi kemudian melakukan ritual mandinya.


Beberapa menit kemudian.


Arga keluar dari ruangan itu lalu berjalan menghampiri Mona yang sedang menunggunya di tepian tempat tidur.


"Kamu mau bicara soal apa lagi, Mona? Aku harap kamu tidak akan membicarakan hal-hal yang dapat membuat emosiku kembali meningkat," jelas Arga dengan wajah acuh tak acuh.


"Duduklah dulu, Mas."


"Apa, sih?"


Mona menarik tangan Arga pelan kemudian mengajak lelaki itu untuk duduk di sampingnya. Mona meletakkan tangan Arga ke perutnya yang masih rata.


"Begini, Mas. Besok aku ingin memeriksakan kehamilanku ke dokter spesialis kandungan. Mas bersedia nganterin aku 'kan?" bujuk Mona sambil tersenyum hangat menatap Arga.


Arga menarik tangannya dari perut Mona dengan sedikit kasar. "Naik ojek saja. Jangan manja! Dulu saja Risa tidak pernah minta temenin. Ia selalu sendirian memeriksakan kandungannya ke bidan,"jawab Arga acuh tak acuh.


"Tapi, Mas—"


"Sekali tidak, tetap tidak! Buang waktu saja," tegas Arga.


"Dengarkan dulu kata-kataku, Mas. Aku tidak akan meminta Mas menemaniku kalau bukan ayah dan ibu yang memintanya. Mereka ingin Mas sendiri yang anterin aku ke dokter. Mereka ingin melihat pertanggung jawabanmu terhadap bayi ini, Mas. Mas 'kan ayah dari bayi ini," lirih Mona, mencoba meyakinkan Arga.


Arga mendengus kesal dengan sorotan tajam ke arah Mona.


"Baiklah jika Mas tidak ingin menemaniku, aku akan pergi sendiri dan bilang sama ayah dan ibu bahwa Mas Arga sibuk bekerja," lanjut Mona dengan kepala tertunduk. Jari-jemari wanita itu mulai memilih-milih ujung lingerie yang sedang ia kenakan.


"Ahhh, baik-baik!" sahut Arga dengan kesal. "Baiklah, besok aku akan menemanimu ke dokter!"


Mona menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajah cantiknya. Ia senang karena berhasil membuat Arga menuruti permintaan kecilnya. Sementara Arga segera menjauh dari wanita itu dengan raut wajah kesal. Ia menghampiri lemari lalu meraih setelan piyama tidur yang akan ia kenakan malam ini.


Keesokan harinya.


"Lama banget!" gerutunya sembari melangkahkan kaki beberapa langkah di depan Mona.


Mona mempercepat langkahnya. Ia ingin mensejajarkan langkahnya bersama suaminya itu. Setelah berhasil menyusul Arga, Mona meraih tangan lelaki itu dan memeluknya sambil berjalan menuju halaman depan, di mana mobil Arga terparkir.


Arga melirik dengan tajam ke arah Mona. "Apaan sih, manja banget! Apa kamu tidak malu kelihatan tetangga-tetangga?"


Mona tersenyum manis. "Kenapa aku harus malu, Mas? Mas kan sudah menjadi suami sah ku," jawab Mona dengan begitu percaya diri.


Arga tersenyum miring. "Jawabanmu menandakan bahwa kamu adalah seorang wanita yang tidak tahu malu, Mona. Seharusnya kamu malu karena sudah berani menggandeng suami dari kakak angkatmu sendiri."


Mona menekuk wajahnya kesal. Namun, ia masih enggan melepaskan pelukannya di tangan kekar Arga.


Pasangan itu masuk ke dalam mobil berwarna hitam milik Arga, kemudian mereka pun segera melesat menelusuri padatnya jalan raya.


Setelah beberapa saat kemudian.


"Stop di sini, Mas. Ini dia kliniknya!"


Mona meminta Arga menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik dokter spesialis kandungan dan setelah Arga menghentikan mobilnya, Mona pun bergegas keluar dari dalam mobil tersebut.


"Ayo, Mas! Kenapa Mas diam saja di sana? Apa Mas tidak ingin menemaniku ke dalam?" tanya Mona sambil mengintip ke dalam mobil, di mana Arga masih duduk santai di depan kemudi.


Arga membuka sedikit pintu kaca mobilnya. "Sudah, pergi saja sendiri. Aku tidak mau ikut. Sudah untung aku mau mengantarkan kamu ke tempat ini," celetuk Arga dengan wajah menekuk.


Mona mendengus kesal. "Baiklah, aku akan masuk sendiri!"


Setelah mengucapkan hal itu, Mona pun segera masuk ke dalam klinik tersebut. Sementara Arga memilih menunggu di dalam mobilnya sambil bermain ponsel.


Kedatangan Mona disambut hangat oleh dokter kandungan tersebut. "Mbak Mona?"


"Ya, Dok."


"Mari, silakan duduk," ucap Dokter itu.


"Terima kasih, Dok."


"Apakah Mbak sudah pernah memeriksakan kandungannya sebelum ini?" tanya Dokter.


Mona menggelengkan kepalanya karena ia belum pernah memeriksakan kondisi kandungannya setelah menikah dengan Arga.


"Jadi ini pertama kalinya?" tanya Dokter lagi.


"Ya, Dok."


Dokter pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita mulai saja pemeriksaannya."


Dokter mulai memeriksa kondisi Mona. Mulai dari menimbang berat badan, cek tekanan darah serta pemeriksaan ringan lainnya. Hingga akhirnya Dokter meminta Mona untuk berbaring di atas tempat tidur pasien. Di mana Dokter akan melakukan pemeriksaan pada janin Mona melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG).


Pada awalnya raut wajah dokter spesialis kandungan itu tampak biasa-biasa saja. Namun, setelah beberapa detik berikutnya, raut wajahnya pun berubah dan mulai terlihat sedih serta sedikit panik.


"Bagaimana kondisi bayi saya, Dok?" tanya Mona dengan sangat antusias.


Dokter menghembuskan napas berat. "Mbak, ada berita buruk yang harus saya sampaikan," ucap Dokter itu kepada Mona.


Melihat ekspresi wajah Dokter yang tampak sedih, Mona pun mulai penasaran. "Ada apa, Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada bayi saya?"


...***...